Stasiun

Ya, benar katamu. Perjalanan yang diawali pun diakhiri pada sebuah stasiun lebih mengesankan. Aku masih ingat, bagaimana kamu merawat ingatan tentang stasiun-stasiun kecil yang sudah ditinggalkan.

“Lihat, itu bekas stasiun,” katamu pada sepenggal ruas jalan. “Bagaimana kau tahu?” tanyaku memastikan. Dan, ingatanmu pun menjulur dalam ruang kepalaku. “Bentuknya kotak memanjang, di situ bekas ruang tunggu, dan kita menginjak bekas relnya.” Ah, aku lebih suka mengingatmu ketimbang stasiun-stasiun itu.

Tapi aku setuju denganmu. Selalu ada potongan-potongan ingatan yang tercecer di stasiun. Dan sepotong itu adalah kamu. Mungkin benar, ratusan tahun lagi stasiun yang pernah kita kagumi itu hanya berupa tumpukan batu, yang kemudian kita buru, hanya untuk merawat ingatan tentang masa lalu. Stasiun itu adalah kamu, yang berdiri pada sejumlah simpul perjalanan, kadang keretaku berhenti, namun sering keretaku laju tak mampir padamu.

Ya sudahlah. Kataku, tak penting apakah kita akan berjumpa pada sebuah stasiun, lagi, kelak, suatu ketika pada kota yang sama atau berbeda. Tanpa kau meminta, sepotong ingatan sudah kulipat dan kuselipkan dalam ranselku. Tapi aku memintamu, merawat kain biru milikku, seperti aku merawat ingatan tentangmu …

Stasiun

2 thoughts on “Stasiun

  1. […] bacanya seolah bikin kita larut di emosi si penulisnya…terutama di bagian tulisan berjudul stasiun ini…mba indah mohon izin buat ngelink..sekaligus salam kenal […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s