Lelaki Tua Tertidur di Kursinya

Seorang lelaki tua duduk di kursinya. Tubuhnya mengerut tak menyisakan semangat masa mudanya. Terduduk dalam sepi bersandar pada angkuh kursinya. Kursi yang besar, tegak, hitam, tanpa senyum. Menelan tubuh lelaki tua yang kelelahan. Sedang apa kau pak tua?

Lelaki tua terduduk di kursinya. Menatap kosong penjuru ruang. Kenangannya berkelebat seperti hembusan asap rokok yang bergumulan di udara. Tak mau pergi. Harapannya masih tersisa di jendela, bersama titik-titik hujan yang tertinggal di jendela, abai dari sapuan kuas matahari sore. Memikirkan apa kau pak tua?

Lelaki tua terkulai di kursinya. Kuasanya kini seperti sehelai benang basah yang tak lagi mampu menopang tubuhnya yang renta. Kesedihan telah melumatkan mimpi senjanya. Lebur tak lagi terbaca, melesak dalam malam-malam yang tak kunjung jadi pagi. Ah pak tua pulanglah ke rumah. Siapa tau, masih ada semangkuk sup hangat dan ikan bakar pada meja makan malammu.

Lelaki tua tertidur di kursinya. Malam rupanya tak kunjung jadi pagi. Ia memilih bersandar pada angkuh kursinya. Besar, tegak, hitam, tak bersenyum. Kokoh menopang renta deritanya.

Pak tua memilih tidur di kursinya. Memeluk hangat mimpi masa mudanya. Pulas bersama semangat masa mudanya. Tengah malam ia terbangun … bertanya pada sepi: kapan mereka akan kembali?

Lelaki Tua Tertidur di Kursinya

6 thoughts on “Lelaki Tua Tertidur di Kursinya

  1. nun says:

    kau mengingatkanku pada bapakku. meski ini bukan soal bapakku, tapi kok yo pas seperti gambaranku tentangnya. bagus sekali. terimakasih😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s