The Last Mumu

Dan kami pun tergelak saat aku memanggilnya Om Mumu, sementara dia lebih suka menyebut dirinya sebagai tetangga desa. Cerita kami lincah meluncur bersama gelombang suara sejam lamanya.

Sudah lama sekali kami tidak bertukar cerita. Dulu, sekitar sepuluh tahun lalu, kami suka mengumbar obrolan nggak mutu: tentang teman sekelas kami yg juga lucu tur wagu, tentang guru kami yang mengenalkan pada Auguste Comte, atau tentang Mumu kucingnya. Aku menyebut kucingnya Mumu karena kucing itu memang hasil nemu .. entah dimana aku lupa.

Dan Mumu pun menjadi The Last Mumu. Dia ternyata nggak punya kucing lagi sejak Mumu pergi. Sejak dia kemudian jadi amat sangat sibuk dengan kelas barunya, dengan pikirannya, dengan urusan hatinya. Dan sejak itu pula kami pun tak pernah lagi bertukar obrolan nggak mutu. Kami tidak lagi pernah bertemu, pun merambatkan suara atau saling berkirim pesan.

Kemarin, setelah sekiaaaaaaan lama, tiba-tiba kami kembali tergelak dengan obrolan nggak mutu. Dia masih mengingat baik The Last Mumu, sama baik seperti aku mengingat senyum bocahnya dari kelas sebelah pada satu masa. Senyum bocah yang kuharap dia masih memilikinya meski itu sudah 15 tahun berlalu.

Hei, bisakah kamu tersenyum seperti itu lagi, untukku? …. Wah, nggak bisa ya? Hatimu sudah terlanjur beku rupanya …

The Last Mumu

2 thoughts on “The Last Mumu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s