Bad-Hair Day

Pagiku sering datang terlambat. Lebih lambat daripada kicauan rombongan anak sekolah yang lewat. Tepat bersama celotehan ibu-ibu tetangga pada mamang penjual sayur. Hari apa ini? Apakah masih penting?

Ibu-ibu datang di waktu yang sama, seperti hari kemarin, dan kemarinnya lagi. Mungkin besok, dan besoknya lagi. Reriungan kecil tentang segenggam cabe beureum dan bawang bodas. Tentang tahu sarebu, tempe sapotong, dan daging ayam satu ons. Beeeuuh… ibu-ibu selalu berhasil menghalau pagi yang datang terlambat. “Ayo cepat mang, saya mau masak sayur bayam!”

Baiklah, kusapa saja. Selamat siang, Pagi!

Aku pun beranjak melemparkan mimpi ke atas meja, tertumpuk bersama majalah kadaluwarsa dan buku yang berdebu. Tunggu dulu, mimpi apa ya aku semalam? Mungkin besok ada baiknya aku rawat mimpiku dan kupajang bersama foto-foto di dinding batako warna merah jambu.

Aih, aku tak punya waktu lagi, Pagi!

Kali ini aku harus benar-benar bergerak. Kuambil tas, dan kulongok isinya: dengan koran hari kemarin yang tergulung, bersama coretan kata dan serpihan ingatan yang juga berasal dari hari kemarin. Lalu ada di mana hari ini , dan besok, dan lusa, dan … ?? Aku harus mencarinya. Mungkin ada sepotong di lemari baju, secuil di rak buku, atau sesobek di bawah kursi? Coba, coba, kutengok cerminku, sapa tau pagi ini berubah menjadi cermin ajaib yang bisa menunjukkan tempatku di hari ini, dan besok, dan lusa, dan …

Owh, rambutku kusut … !

Rupanya cerminku masih cermin yang sama seperti di hari kemarin, dan kemarinnya lagi…

Bad-Hair Day

2 thoughts on “Bad-Hair Day

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s