Imogayu

Atau dalam bahasa kita adalah bubur ubi. Ubi yang direbus bersama gula hingga lumat? Tak yakin aku akan menyukainya.

Tapi ada bubur ubi yang bikin penasaran. Ini gara-gara aku baru saja membaca cerita pendek  Akutagawa Ryunosuke. Dalam cerita yang berseting zaman samurai tahun 885-889 itu, semangkuk bubur ubi hangat adalah makanan yang lezat lagi mahal. Makanan ini biasa disajikan pada hari-hari perayaan di rumah para bangsawan atau kerajaan.

Nah, tersebutlah seorang goi, samurai kelas rendah yang sangat menyukai bubur ubi. Goi ini digambarkan sangat lugu hingga cenderung bodoh. Kerap dicaci dan dihina, tapi ia tak pernah marah. Bukannya dia penyabar, tapi memang dia tidak sadar bahwa dirinya sedang direndahkan. Ia bertubuh pendek ceking, berpenampilan lusuh, dan sebilah pedang yang kusam. Pendeknya, ia tak layak berperang. Sepanjang hidupnya, goi berusia 40-an tahun ini selalu mendambakan bisa makan bubur ubi sepuasnya.

Hingga suatu hari tibalah hari gembira itu. Ia dijamu makan oleh seorang bangsawan filantropis kaya raya. Bangsawan itu masih kerabat keluarga yang mempekerjakan si goi. Di rumah bangsawan itu, ia bisa menyaksikan bagaimana para pembantu menyiapkan bubur ubi untuknya. Para pembantu itu tak mengupas  sebuah ubi, tapi puluhan. Ya, puluhan ubi yang mirip talas berukuran betis orang dewasa itu menggunung di dapur, menunggu untuk dikupas dan dicemplungkan ke kuali perak berukuran besar.

Melihat proses itu, si goi mulai kehilangan selera. Begitu kuali perak besar berisi bubur ubi tersaji di ruang makan, goi pun merasa perutnya mual. Keringat dingin mengucur deras di dahinya, lengannya, dan perutnya. Tapi demi menghormati tuan rumah yang sudah berbaik hati menjamunya, ia pun makan separuh isi kuali sedikit demi sedikit.

Alih-alih merasa puas karena bisa makan bubur ubi sepuasnya, ia justru merasa bubur itu menggeder gedor lambungnya dan minta dimuntahkan. Ia pun berhenti sejenak. Sejenaak, hingga seekor rubah datang ingin makan bubur ubi. Si Tuan filantropis yang semula sibuk memaksa si goi menghabiskan sakuali bubur ubi, menjadi sibuk memerintahkan pembantunya untuk memberi rubah itu semangkuk bubur ubi. Goi pun lega karena tidak perlu lagi menghabiskan bubur ubi. Keringat yang semula membasahi bajunya pun perlahan mengering. Tiba-tiba angin pegunungan bertiup. Dingin menggigiti tubuhnya. Dan, bersamaan dengan itu, goi pun bersin dengan kerasnya ke arah kuali perak yang berisi bubur ubi.

Begitulah, akhir cerita goi dan semangkuk bubur ubi yang begitu diidamkannya. Begitu aku menamatkan cerita itu, aku tertawa. Ganjil, lucu, dan aneh. Ya, aneh. Jalinan cerita yang detil, beritme lambat, dan bernuansa senyap ternyata harus berakhir dengan bersin yang sepele dan menjijikkan. Maklum, aku pembaca pemula cerpen Jepang. Mungkin kalau sudah terbiasa, aku tidak akan merasa ganjil lagi. Dan mungkin aku akan berpikir bahwa bubur ubi itu enak sehingga benar-benar tertarik mencobanya.

Imogayu

3 thoughts on “Imogayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s