Berkemas

Ada yang tidak biasa di kepulanganku kali ini. Aku pulang untuk mengemasi barang-barang. Kami akan pindah.

Ternyata mengemasi barang bukan perkara mudah. Sebetulnya persiapan pindah ini sudah dimulai sejak dua bulan lalu. Buku-buku di kamarku sudah kubungkus rapi dalam kardus. Pun baju-baju. Tapi aku seorang penggemar hal remeh temeh. Rupanya kamarku juga penuh dengan barang-barang yang aku sekarang pun lupa pernah menimpan itu: sobekan karcis bis yogya-purwokerto, robekan tiket bioskop, surat lawas yang terlipat, potongan berita Bernas tentang festival film, kalender jadul bergambar malioboro tempoe doeloe, buku harian warna cokelat jaman cinta monyet di smp, kartu pos berperangko Thailand, nota Oregano yang mencatat pembelian dua cangkir kopi… Banyaklah pokoknya!

Nah, kembali lagi ke urusan berkemas-kemas itu. Sungguh tak mudah. Apalagi mengemasi barang-barang yang sudah bertumpuk selama dua puluhan tahun. Meski sudah dicicil sejak dua bulan lalu, dan dimulai dipindahkan dalam dua kali pengangkutan ke rumah baru, tetap saja masih ada banyak barang untuk dikemasi lagi: berjilid-jilid buku hidrologi berdebu, beberapa lusin piring dan gelas dan perabotan pecah belah, hingga sejumlah set panci-dandang-wajan dan kerabatnya yang serba berisik kalau ditumpuk..bruk.. Klonthaang .. wew …

Seharian aku memunguti itu semua, dari gudang, dari rak, dari meja, dari lemari. Membungkusi dengan kertas koran, dan meletakkannya dalam kadus-kardus berukuran besar. Kardus-kardus itu kini tertumpuk di sudut-sudut rumah. Rumah pun tampak ganjil, lantai berdebu tanpa perabot, tanpa kasur di kamar, tanpa sofa di depan tivi, tanpa meja di ruang makan. Ketika mengobrol, suara kami pun bergema, terpantul dinding yang juga sudah kosong.

Kosong. Iya, besok, rumah ini akan benar-benar kosong. Barang-barang itu akan diangkut dipindahkan ke rumah baru. Dan rumah ini, yang sudah 27 tahun ini kusebut rumah, akan segera dihancurkan. Mungkin akan dijadikan kantor, mungkin akan dijadikan lahan parkir. Entahlah..

Berkemas

One thought on “Berkemas

  1. alexcandra says:

    Hiks. akhirnya harus pindah juga. ndak ada lagi sebuah beranda yang tenang dengan pot-pot bunga dan pelataran jembatan timbang yang selalu dilewati truk-truk yang mengangkut gundukan-gundukan barang dari kota tetangga. Ndak ada lagi sebuah pintu yang kalau di bel seekor kucing berkaos kaki lantas bergegas meloncat keluar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s