Kasur

Kasur. Iya, itu salah satu obrolan hangat waktu Femi datang ngabandung. Malam itu, setelah kami kenyang dengan secangkir kopi hangat, sosis, dan masih ditambah seporsi nasi kalong dan ubo rampenya, kami mengobrol tentang kasur.

Ternyata, dia orang yang sangat khawatir terhadap debu… (mengherankan memang, melihat pembawaannya yang tampak tidak terlalu bersih :p piss miss!) Dia tidak suka meletakkan kasurnya begitu saja di atas lantai tanpa dipan. Alasannya, ya itu tadi, debu. Menurutnya, debu bikin kasurnya kotor dan tidak aman untuk ditiduri. Entahlah, dia mungkin dalam benaknya itu seperti sleeping with the enemy huehehe …

Tapi aku nggak takut kotor. (Ehm, jadi kayak iklan sabun.) Maksudku, dipan bikin ruangan menjadi lebih sempit. Aku lebih suka meletakkan kasur dengan karpet sebagai alasnya. Ada alasan lain sebetulnya, karena memang ibu kosku tidak menyediakan dipan. Tapi, meski tanpa dipan, aku dan kasurku baik-baik saja. 

Aku dan kasurku – yang tanpa dipan dan ternyata baik-baik saja – itu pun akhirnya diakui Femi. Semalaman, aku memang membagi kasurku dengannya. Kami pun tampak seperti dua beruang kecil yang manis yang berbagi kasur. Suasana kamar jadi hangat. Hangat karena asap persahabatan yang mengepul (ciee ciee) dan tentu saja karena timbunan lemak-lemak di badan kami mau tidak mau bersentuhan (lha mau gimana lagi, kasurku hanya berukuran single 2 m x 1 m).  Angin yang menerobos celah kecil di jendela malam itu jadi tidak terasa dingin.

Beberapa hari setelah itu, si jeng satu itu kirm kartu pos. Mengabari kalau kasur di kamarnya sudah diletakkan sedemikian rupa seperti kasurku. Tanpa dipan. Dan dia mengaku dia dan kasurnya pun baik-baik saja.

Hari ini, Femi akan kembali datang. Kami punya rencana di ujung minggu ini, dan dia akan menginap selama dua malam. Tentu saja, aku secara khusus sudah menyiapkan kasurku. Spreinya sudah kuganti. Wangi. Tapi, kupikir kalau kami tidak tampak seperti dua beruang kecil yang manis yang berbagi alas tidur, itu akan lebih baik. Kali ini aku akan pinjam kasur tetanggaku yang baik saja ah..  Biar Femi seorang saja yang tidur di kasurku.

Kasur

8 thoughts on “Kasur

  1. “dua beruang kecil yang manis yang berbagi kasur”
    pengakuan yang teramat tepat menggambarkan kondisi kalian berdua. kakakaka.

    “Ternyata, dia orang yang sangat khawatir terhadap debu…” dan diikuti kalimat selanjutnya. aku mung isa mesem-mesem.

    Ah, dua beruang dari Kota Gudeg yang menggemaskan. selamat bersenang-senang di Bandung ya🙂

  2. tipsbisnisuang says:

    udah nikah belum ? kalo belum nikah tak kasih tahu.
    nanti, ketika sudah nikah…kasur akan banyak menyimpan cerita.
    Mulai dari cerita penciptaan sampai cerita keributan.
    Pokoknya , seruuuuu
    nah begini sudah baik, masih muda sudah menghargai kasur.
    waduh, sekarang mau ujan..saya angkat kasur dulu ya..
    salam kenal

    budi

  3. marput says:

    Aku juga rindu membaca blog2mu. Hahahha.Dan setelah kamu beri link blogmu lagi, aku punya PR untuk baca crita2mu.
    Btw jadi terinspirasi utk bikin cerita2 kecil neh. Rada macet setelah di SBY-kan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s