Istimewa

Kalau sebungkus martabak, yang istimewa pastilah memakai telor bebek dobel dan irisan daging yang tebal dan banyak. Harganya tentulah lebih mahal. Lalu, jikalau kota, apa yang membuatnya menjadi istimewa?

Yang jelas, takdir sejarahlah, yang bikin kotaku menjadi istimewa. Di kota ini, roda sejarah meninggalkan jejaknya. Daerah asalku, Ngayogyakarta Hadiningrat, ditetapkan berstatus daerah istimewa Presiden RI pertama, Soekarno 19 Agustus 1945. Status ini diberikan sebagai balasan setelah dua raja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII menyatakan bersedia bergabung dengan negara yang baru lahir, Republik Indonesia pada tanggal 5 September 1945. Ya, kira-kira semacam jaminan bahwa kedua raja itu tetap memiliki kekuasaan yang sama atas wilayahnya.

Dan karena warisan sejarah itulah, di daerah asalku ini Sultan Yogyakarta merangkap sebagai Gubernur Daerah IStimewa Yogyakarta. Itulah yang bikin para pemuja demokrasi menjadi gerah. Kalau di daerah lain, seorang kepala daerah harus bertarung meraih simpati melalui pemilihan langsung. Tapi itu tidak terjadi untuk jabatan Gubernur daerahku. Seperti dalam sejarah kasultanan yang selalu mewariskan kekuasaan, kekuasan gubernur pun ikut diwariskan. Gubernur sekarang ya, Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Warisan itu pula yang bikin politisi di daerahku (dan juga nasional) ribut. (Entah ya, namanya warisan yang berhubungan dengan harta, tahta, dan ehm.. wanita, selalu jadi pusatkeributan.) Satunya kubu pro pemuja demokrasi yang menjunjung pemilihan langsung bagi jabatan gubernur dan di seberangnya ada kubu pro pemuja artefak sejarah yang menganggap bahwa jabatan publik nomor satu di daerahku adalah milik Sultan semata. Mereka sibuk memperdebatkan makna keistimewaan. Ada jalan tengah gak sih?

Wew… kayaknya ada satu hal penting yang dilupakan dalam keributan itu. Yang membuat suatu daerah menjadi istimewa ya jelas orang-orangnya. Dua raja yang benar-benar tahu makna pengorbanan bagi keutuhan bangsa. Dan tentu saja, orang-orang yang hingga kini masih saja suka tersenyum dan selalu berhati nyaman. Sabar dan menerima hidup dalam putaran roda hidup yang berjalan pelan.

Sungguh, itu masih ada di kotaku. Masih ada yang bersedia menjadi abdi dalem meski hanya diberi imbalan tidak lebih dari harga sekilo beras dalam sebulan. Masih banyak simbok pedagang pasar yang tidak mau terlibat dalam persaingan bebas. “Rejeki tidak akan kemana”, begitu kata mereka. Iya, mereka orang-orang yang masih terus mengimani nasehat warisan leluhur.. “Gusti tidak tidur”.

Istimewa

One thought on “Istimewa

  1. Solusi untuk Yogya: biarkan Sultan lengser dan bebas mengejar kursi tahta yang lebih besar. Biarkan orang awam yang lebih mumpuni dan berwibawa menjadi pemimpin kota gudeg ke arah yang lebih baik.

    Hanya saja, piye dengan Penguasa Laut Selatan? Bisa-bisa jadi jablai karena ditinggal Sultan yang menduduki tahta kepresidenan. Bisa-bisa ntar ada tsunami dan gunung meleduk. duh…

    Ga ada yang istimewa lagi, jeng. Biarkan itu sultan mencari ambisinya. huh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s