Liburan

Aku baru saja liburan. Hmm.. ini sebetulnya obrolan yang terlambat. Sementara anak-anak di bangku sekolah sedang merancang liburan mereka di bulan Juni, aku sudah mengambil liburanku di bulan Mei lalu. Membebaskan diri dari rutinitas selama seminggu, dan bahkan sudah kembali tenggelam dalam rutinitas dalam dua minggu ini. Ya, ya.. yang penting aku sudah liburan!

Liburan buatku adalah minum teh hangat sembari mengobrol bersama ibu di belakang rumah. Itu yang kulakukan kemarin. Liburan juga berarti mendengarkan celoteh riang kemayu ala gadis cilik berusia lima tahun. Kemarin keponakan kecil ini bercerita dengan sangat bangga bahwa ia sudah bisa naik sepeda kecil merah jambu barunya. Ia tidak peduli, meski wara-wiri naik sepeda di dalam rumah.

Liburan yang cukup panjang kemarin juga berarti mendengarkan cerita kegilaan seorang adik. Adik sepupu yang hitam manis, yang betul-betul manis lima tahun lalu, kini ternyata tidak lagi manis. Rambut di dahi tergerai menutupi sebelah matanya sementara ujung-ujung rambut di kepalanya berdiri menjulang. Sama menjulang seperti badannya yang jangkung. Celana pensil kotak-kotak yang dipadukan kaos hitam yang tak kalah sempit melengkapi penampilannya. Kukunya pun dicatnya warna hitam, menghitam persis seperti baru kena jepit pintu. Tapi serasi sih, dengan kulitnya yang hitam. Ia kini bukan lagi bocah yang mengidolakan power ranges seperti yang kukenal lima thaun lalu. Ia kini lebih suka membesut gitar elektrik sembari menjajal vokal seraknya. Ya, ia sering bernyanyi. Aku sendiri belum pernah mendengarnya, tapi kupikir sama nyaring dengan nyanyian sang ibu yang tiap hari dibuat senewen oleh polahnya itu.

Liburan juga berarti bertukar cerita berlama-lama bersama teman-teman lama. Ya, kami mengobrol melewatkan malam di pantai favorit kami: Ngrenehan. Dari yang awalnya ke pantai itu bersama rombongan dalam belasan anak, kemarin kami kembali ke pantai itu hanya dalam rombongan tujuh anak. Tidak apa. Rasanya masih tetap sama. Kami berenang di pantai keesokan harinya. Niat liburan untuk bermain di pantai sampai kulit terbakar dan rambut asin bergaram berbau matahari pun kesampaian.

Dan, liburan pun kuakhiri di Stasiun Tugu. Bepergian lewat stasiun selalu terasa sendu. Entah karena apa, mungkin karena kereta, mungkin karena bangunan stasiun yang tua. Atau, mungkin karena tatapan mata teduh yang mengiringi kepergianku kali itu. Ya, ya sebuah sajak lama menderu di kepala … “Kita ini seperti sepasang rel yang menjulur beriringan namun tak pernah bertemu …” (hapalan serampangan sajak milik Eka Budianta yang kuingat di kepala)

Liburan

6 thoughts on “Liburan

  1. Wah jadi pengen mudik juga nih mbak..Klo dari Gubeng selalu dinyanyikan lagu Yogyakarta ma band yg manggung di sts pas nunggu kreta jm 15.00.Jd gimana gt suasanane He.he.he..

  2. sudah teramat lama ga ke ngrenehan. kangen dengan pantai yang cukup bersahaja tersebut. ada kenangan tersendiri di sana. ah… kamu, membuka memori lama itu. memori manis, semanis teh anget di yogya.

  3. Ndah harga cabe kriting berapa sekilo?
    Aku tuh rencana mau buka warung makan di Bandung. Kalau mau sih kamu ntar jadi tester pertama, enak ga makananku!
    Jarene jaran kepang … sir pong udelmu bodong sirrrrr

  4. i know it…i know it, kikikikiki, liburan itu semoga bermanfaat ke depan;)

    aku lagi di numpang nginep di tempatnya wowok neee….mbak indah:p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s