Palu

Palu dan paku. Itu terdengar seperti garam dengan merica. Dan mirip seperti gula dan semut. Hubungan kekerabatannya dekat. Kalau mau memaku, itu pasti membutuhkan palu. Membicarakan palu, entah kenapa, hatiku jadi tidak nyaman. Mirip seperti mendengar kata “palu dan racun”, atau senandung lagu jaman dulu “hatiku palu mendengar kata-katamu”. (Ah, makin lama kok makin nggak jelas ..) Meski tidak suka, nyatanya aku perlu palu beberapa hari lalu. Palu itu untuk memaku potongan demi potongan rak buku model bongkar pasang yang kubeli hari sabtu.

Ragu-ragu, aku mengurungkan niat untuk meminjam palu pada bapak kos. Bukan, bukan karena bapak kos galak. Justru ia terlalu baik sehingga aku memperkirakan bakal nggak enak hati kalau sekiranya bapak kos malah akan repot turun tangan memasangkan rak. Tidak, tidak, aku tidak mau itu. Alih-alih meminjam palu pada bapak kos, aku pun berembug dengan the girl next door. Dia selalu punya solusi untuk berbagai macam situasi😀

Dan benar. Dia pun berinisiatif untuk mengirimkan pesan singkat pada seorang rekan kerja. Menurutnya, si rekan yang selalu berpenampilan dendy ini punya palu karena secara dia sudah berkeluarga dan tinggal di rumah sendiri. Hmm.. ini cukup logis, karena biasanya hanya rumah tangga dengan kehidupan normallah yang menyediakan palu di rumahnya. Normal di sini dalam arti: tinggal di sebuah tempat yang disebut rumah yang tentu berjalin erat dengan kebutuhan pertukangan alias perlu peralatan seperti palu di garasi, sama halnya perlu peralatan seperti pisau di dapur.

Singkat cerita, the girl next door ini pun mengirimkan pesan ke rekan kerja yang selalu berpenampilan dandy tadi. Pesan singkat yang berisi: “Mas, punya palu nggak? Bawain dunk ntar sore.” pun terkirim sempurna di Minggu siang yang bolong.

Wah, sejurus kemudian pesan singkat itu pun mendapatkan sambutan yang sempurna. Rrr… bukannya si rekan kerja yang membalasnya, namun justru istrinya. Pesannya jelas melebihi sempurna untuk menunjukkan kecurigaannya: “Maaf mbak, masnya lagi nggak ada. Nggak punya palu.”

Aku dan the girl next door pun tergelak. Bukan menertawakan si istri yang pasang antene kewaspadaan, tapi menertawakan kebodohan kami. Hanya karena menghindari meminjam palu dari bapak kos, urusan palu malah bikin rumah tangga orang jadi panas. Ya, ya, kalu dipikir lagi, perempuan mana yang nggak curiga ada perempuan lain di siang bolong yang mengirimkan pesan singkat meminta suaminya membawakan palu. Huehueue…

Tuh kan, kejadian itu bikin aku makin tidak suka pada palu. Tapi sejak itu, aku bertekad tidak akan meminjam palu lagi. Keesokan harinya aku langsung ke toko besi untuk membeli sebuah palu. Palu ramping itu sudah menjalankan tugasnya. Jadi sekarang, aku punya palu dan rak buku baru. 

Palu

6 thoughts on “Palu

  1. horeeeeeeeeeeeeeee komentar pertamax…

    huaaaaaaahhahahahahahahaha.

    ehm menarik nih bikin rak buku. pikiran melayang2 ke rencana bikin perpustakaan pribadi, secara lemari kosku dah tak mampu memuat jutaan kata yang terangkum dan tersusun rapi dalam buku.

  2. kamu sih mo pinjam palunya orang!wajar aja klo yang punya sewot..he..hee nti klo kamu dah married mo pinjam palu ke ojobmu dech….hiks

  3. ah ga selalu palu dipunyai orang yg sudah berkeluarga. itu terlalu menjeneralisasi. bagaimana dgn tukang reparasi yang belum nikah? hayo?

    eniwei, kok yo masih seneng bahasa plesetan rodo wagu ning lucu yo…

    ttg palu, partai palu dan bintang, nah itu lain cerita lagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s