Sekolah

Ketika aku datang pagi ini, seorang teman tampak sibuk berkemas. Mengambili kertas-kertas yang teronggok di sudut meja, mengikatnya menjadi satu bundel tebal. Menggeser kotak-kotak anyaman bambu warna warni koleksinya, dan mengelapnya. Tumpuk demi tumpuk buku di mejanya pun disusunnya kembali. Semuanya ia masukkan ke dalam kardus besar. Tak cukup satu kardus. Mungkin ia perlu empat kardus besar untuk membuat semua barang di mejanya terangkut. Ia memang sibuk berkemas. Ia akan pindahan. Pindah kota, pindah kerja, pindah kehidupan.

Melihatnya sibuk, perasaanku campur aduk. Aku banyak belajar darinya selama ini, dan sekarang, ia akan pindah. Perasaanku pun menjadi entah. “Aku akan sekolah lagi.” begitu katanya ketika kutanyakan apa rencana berikutnya.

Tentu tidak ada yang salah dengan rencananya. Keputusannya untuk sekolah lagi sudah dipikirnya masak-masaknya. Temanku, seorang perempuan cerdas, tentu tidak ingin otaknya mengeras karena rutinitas. Pikirannya selalu mengalir bak air jernih, gemericik, mengiringi setiap ketuk jemarinya di papan ketik. Pikirannya lancar tertuang utuh menjadi karya yang menggugah. Bahasanya bernas, ulasannya tangkas. Entah sudah berapa jiwa yang semula layu tanpa asa, kembali mekar setelah mengeja tulisannya yang segar. Ya, tentu saja, tidak ada yang salah dengan rencananya. Meski untuk mewujudkan rencana itu, ia harus mengorbankan apa yang ia miliki sekarang. Sesuatu yang sudah disusun teliti selama lima tahun. Atau.. tunggu.. tunggu, mungkin aku yang salah menduga, ia justru merasa tidak memiliki apa-apa lagi di sini?

“Aku malah senang sekali sekarang,” begitu katanya ketika kutanyakan bagaimana perasaannya menjelang kepindahannya. “Semua sudah kupersiapkan. Aku akan belajar lagi,” katanya mantap.

Separuh hidupnya kini ada dalam kardus, terselip di antara buku-buku, tergurat di atas ratusan kertas-kertas bekas yang selalu ia simpan rapi. (Ia tipe orang yang tidak pernah membuang catatan, notes, sobekan karcis pertunjukan, undangan seminar, agenda rapat, de el el) . Semuanya sudah terbungkus rapi. Dan segera akan ia bawa serta untuk kembali disusun di tampat barunya nanti. Entah apa yang ada di pikirannya, bagiku seruwet coretan pensilnya di notes hariannya. Baiklah, selamat belajar teman …  Tentu saja, aku gembira atas rencanamu itu!

 

Sekolah

5 thoughts on “Sekolah

  1. Mmm … ada sekelumit rasaku dalam kisahmu ini. Mungkin aku juga akan mengambil keputusan seperti temanmu itu. Ah entah juga. Mengapa ceritamu ini mencerminkan separuh perjalanku saat ini? Salam buat temanmu itu. Bolehkah aku berteman dengannya? Aku pengin berbagi juga berkaitan hal ini.
    (nangis nangis lah kau, Ndah! hehehe)
    ini itu dan lain sebagainya hahaha

  2. benar jeng. secuil kehidupan itu kadang tercerai dalam sobekan karcis dan catatan kecil. apa temanmu itu berbintang aries? konon, penyimpan barang-barang seperti itu berbintang aries. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s