Imajinasi

Katanya, pertama kali yang harus dicari dari sebuah kota adalah senja. Begitu kamu bisa menikmati senja, maka segera kamu akan mencintai kota itu. Aku sudah menemukan senja itu, dan rasanya aku bisa mulai mencintai kota ini. Yang kubutuhkan adalah imajinasi …

Sabtu sore. Aku dan beberapa teman memang sengaja berburu senja di Jakarta. Kami berhasil menemukannya di ujung utara kota: di antara jejalan kios pasar, di sela-sela jejeran perahu. Kami menemukan matahari oranye tersangkut di atap-atap seng permukiman padat Penjaringan, Jakarta Utara. Ya, senja itu kami tangkap di teluk Jakarta, tepat di pelabuhan Sunda Kelapa.

Sunda Kelapa. Baiklah, katakan kalau imajinasiku terlalu berlebihan. Tapi mungkin inilah ujung kota yang menggetarkan. Lupakan jalanan Jakarta yang padat menyebalkan. Dan lupakan wajah-wajah tak ramah yang dipojokkan nasib di sudut kota. Turun dari bus transjakarta di depan Stasiun Kota, nikmati saja sajian pesona kota lama Jakarta lengkap dengan gurat-gurat ketuaannya.

Yang perlu dilakukan adalah berimajinasi. Dan sudut terbaik untuk itu ada di Sunda Kelapa. Pelabuhan yang sudah kesohor sejak abad ke-12 di masa Kerajaan Sunda ini pastilah dulu sangat indah. Harum rempah-rempah, cengkih, kopi, pala, lada duluuu.. pastilah menguar di udara. Duluuu.. di kanan kiri jalan pastilah orang dari berbagai bangsa sibuk berdagang keramik-keramik cantik, sutera lembut bertumpuk-tumpuk, anggur, kuda… Dan begitu kesohornya hingga pastilah sudah beribu prajurit mati berebut teluk ini, Demak, Cirebon, Portugis, Belanda.

Ya, Belanda. Sungguh lama bangsa satu ini menguasai Sunda Kelapa, lebih dari 300 tahun. Nggak heran, peradabannya hingga kini masih terjejak meski tidak lagi sempurna. Benteng, gudang VOC, bengkel dan galangan kapal, kanal Kali Besar, jembatan merah, balai kota, adalah sejumlah napak tilas peradaban sekaligus monumen ketamakan. Abad 17 adalah puncak keemasan Sunda Kelapa, sebelum akhirnya pelabuhan ini menjadi terlalu dangkal dan sebelum akhirnya pelabuhan ini digantikan Tanjung Priok.

Berburulah senja di Sunda Kelapa. Sediakan waktu untuk hinggap di atas menara Syahbandar di dekat pasar ikan. Menara setinggi 50 meteran ini dibangun tahun 1839, berlokasi di sudut benteng. Ketika itu, pelabuhan sudah mutlak dikuasai Belanda, sehingga berbagai macam bea keluar masuk kapal dan bongkar muat barang dilakukan di bangunan ini. Dari ketinggian, percaya deh, imaji kota lama akan terbentuk sempurna! Perkara yang tercium bukan lagi rempah namun aroma sampah, itu sih abaikan sajah! 

Imajinasi

4 thoughts on “Imajinasi

  1. Radix says:

    Cuma mampir mbak, kebetulan baca. Kok kayak temenku ya namanya
    Apa bener mb Indah dari SMP 8 Yk ya?
    Maaf y klo salah

    Best regards

    Ignasius R Astadi

  2. “… senja di sunda kelapa…”

    1. hati-hati jangan sampai kejatuhan kelapa kepalanya.
    2. kalau haus bisa menyeruput es kelapa muda langsung dari kelapa.
    3. jangan sampai kesandung kelapa yang jatuh di tanah.

  3. marput says:

    Menikmati senja bersama dengan teman-teman aneh ya. Tapi terkesan sekali tuh tour museumnya yang diakhiri dengan menikmati senja di Sunda Kelapa. Capek dan penat tidak terasa, tapi keesokan harinya bikin badan demam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s