Alamat

Sepotong surat bersampul merah jambu tergeletak di mejaku. Surat yang baru saja sampai itu pun menggugah ingatanku. Bukaan. Bukan karena warnanya yang centil kayak permen yuppi merah jambu. Jangan salah sangka, surat itu bukan surat cinta. Namun ucapan hangat dari seorang sahabat: supaya aku tidak kehilangan semangat dalam dunia yang cacat. Begitu kurang lebih isinya.

Perhatian yang terlipat dalam surat itu menyentilku. Ternyata aku tidak punya perhatian sebesar perhatian temanku itu padaku. Ya, ya, aku nggak perhatian bahkan untuk sekadar memperhatikan di mana aku menyimpan catatan alamatnya.

Temanku ini bukan tipe orang yang suka menuliskan alamat si pengirim di belakang sampul. (Kebiasaan yang sebetulnya menyulitkan siapapun yang ingin langsung membalas suratnya) Tapi, ia sudah memberikan alamat barunya sekitar tiga bulan lalu melalui YM. Aku pun sudah menyalinnya di notes kecil. Dan notes itu (semula) kutaruh di dekat komputerku. Aku juga sudah pernah mengiriminya sepotong kartu pos di alamatnya itu beberapa waktu lalu. Dari beberapa korespondensi, aku terlanjur merasa telah menyimpan alamatnya baik-baik.

Tapi ternyata aku salah. Seiring dengan datangnya surat itu, spontan aku butuh meyakinkan diriku bahwa aku masih menyimpan alamatnya. Namun, notes tempat aku mencatat alamatnya itu tidak kutemukan. Diburu rasa tidak nyaman di dalam hati karena sudah menghilangkan alamat teman yang baik, aku pun membongkar rimba belantara mejaku. 

Menemukan notes mungil dengan tulisan cakar ayam terseok-seok yang berisi alamat temanku itu ternyata tidak mudah. Di mejaku ada setumpuk notes kecil serupa. Jadi, rasanya sia-sia kalau pun aku tabah membolak-balik selusin notes kecilku itu demi mencari alamat temanku. Di sela-sela gerundelanku, aku menyesal. Kalau saja lebih perhatian, tentulah saat itu aku meluangkan sedikit waktu untuk mencatat alamat temanku dalam buku alamat yang semestinya.

Ya, ya, lupa dan perhatian itu seperti pendulum yang bergerak ke kiri dan ke kanan. Tidak bisa dalam satu saat, orang perhatian dan lupa pada satu hal sekaligus. Pendulum itu pun berayun seirama detakan jam dalam kepalaku. Celakanya, gerakannya lebih sering tertahan di sebelah ke kiri. Iya, aku sering lupa!

Maaf ya, ternyata aku nggak perhatian sama kamu. Aku sudah menghilangkan catatan alamatmu. Sementara, perhatianmu begitu besar. Hhm.. kamu pasti jarang lupa ya?

Alamat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s