Dunia Sophie

Namanya Sophie. Umurnya empat tahun. Bentuk mukanya bulat dengan garis wajah yang tegas. Rambutnya kriwil. Senyumnya selalu mengembang memamerkan empat gigi depannya yang ompong. Aku mengenal ayah Sophie. Dan sepintas, aku melihat wajah ayahnya itu di muka kecil Sophie.

Namanya Sophie Amundsen. Ayah dan ibunya sengaja memberi nama itu dengan harapan Sophie akan selalu berpikir kritis tentang dunia seperti seorang filsuf. Seperti tokoh Sophie Amundsen yang mencoba memaknai dunia ide dan material dalam novel “Dunia Sophie”. Ayah dan ibunya sepertinya punya harapan besar bahwa Sophie akan membentuk sendiri dunianya. Tidak takluk pada keadaan, tidak menyerah pada keputusasaan.

Dunia Sophie pun terbentuk. Harapan ayah dan ibu sepertinya terkabulkan. Sophie yang berbadan gempal mirip seperti gasing yang tidak bisa diam. Bergerak ke sana kemari. Tangannya menggapai, meraih, memegang, menyentuh, mengambil, apapun yang menarik perhatiaannya. Matanya selalu bergerak, mencari apapun yang bisa dijadikannya sebagai bahan mainan. Mulut kecilnya tak henti-hentinya bertanya, meminta, sekaligus menjawab. Riuh sekali. Aku mengenal baik ibu Sophie. Dan dari perjumpaanku dengan Sophie, aku tahu bahwa Sophie kecil banyak belajar dari sang ibu, bagaimana membentuk dunianya.

Siang tadi, adalah perjumpaan pertamaku dengan Sophie. Dan perjumpaan pertamaku dengan ibunya, setelah empat tahun kami tidak bertemu. Ibu dan anak itu begitu sibuk. Bercanda, bercerita. Sophie marah, ibu menenangkannya. Sophie menangis, ibu mendekapnya. Sophie tertawa, ibu membelainya. Sophie berceloteh, tawa ibu berderai. Manis.  

Meski manis, dunia Sophie bukanlah gula-gula. Di usia bocahnya, Sophie sudah harus belajar tentang arti kehilangan. Kanker ganas telah melumat paru-paru ayahnya dan menghentikan daya hidupnya. Setelah satu tahun bergulat melawan kanker, ayahnya pun takluk. Meninggal di usia bilangan 30. Sophie telah kehilangan ayahnya.

Beruntung, Sophie tidak kehilangan dunianya. Ibu yang sabar dan manis selalu ada menemaninya, dan juga menemani dua adik kembar Sophie: Tirto Adi Suryo dan Tirto Adi Samudro.

Tetap tersenyum ya, Sophie!

Dunia Sophie

7 thoughts on “Dunia Sophie

  1. Ah, pasti keluarga yang penuh tantangan dan cobaan ini adalah keluarga yang barusan kamu ceritakan lewat ym. hmm… semoga mereka tabah menghadapi tempaan kehidupan. semoga ‘tirto’ tetap mengalir dalam lika-liku kehidupan.

  2. pak garder emang bisa ngebawa kita memahami filsafat dengan pemahaman yang mudah, filsafat yang esensinya adalah induk dari ilmu pengetahuan, di berikan penjelasan yang sangat jelas, step by step. Buku ini sie menurutku adalah novel filsafat terbaek, coz aku blon pernah nemuin novel filsafat yang bikin puyeng,
    si sophie….sebenarnya (klo gw terjemahin) adalah refleksi dari keuingin tauan dari manusia yang di gambarkan sebagai harapan orang tuanya yang pingin sophie bepikir sesuia dengan hatinya, mengungkapkan keadanan sekitarnya…..

  3. thanks, Indah atas apresiasi atas putriku…kmarin dia kuajak keliling bandung naik angkot..aduh mah cerewetnya minta ampun..dia minta baju “strawberry” lagi aku bilang ke dia capee..dech strawberry mlulu..katanya aku kan suka strawberry! aduh… dalam “make wish”-ku may she can be like strawberry…so red may it means brave and risk taker, so sweet sometimes acid, dare people, many people like it, many people love it,it can be useful for anything,…and she can be sparta too likes her father…
    thanks Indah!

  4. enggak nyangka ketemu makhluk kecil bernama sophie itu, yang sepanjang pertemuan tak henti bercerita. adaaa aja yang diceritain, dan juga dikritik :p salam buat sophie and sari…

  5. Hai, ndah. Ceritamu begitu hidup. sangat mengingatkanku akan Dunia Sophienya Gardner. Tapi, sayang, ternyata aku tidak mampu menghabiskan bacaan itu. Ngga nyambung chemistry antara buku itu dan aku, hehee..he

    GREAT Indah. Terus berkarya, ya teman

  6. dames says:

    pengenalan jati diri dapat kita ambil dari novel dunia sophie. alangkah baiknya novel ini banyak beredar. karena saya sampai sekarang belum mendapatkan novel ini ditoko buku. harap menanggapi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s