Kalender

Tahun baru adalah kalender baru. Bagiku, tak ada yang lebih identik dari kedua hal itu.  

Bagaimana tidak? Inilah minggu-minggu di penghujung tahun 2007. Dan di minggu-minggu ini pula kalender bertebaran di toko-toko buku, dijajakan di perempatan jalan, dan dibagi-bagikan sebagai hadiah di pusat-pusat perbelanjaan. Ehm.. termasuk juga dibagikan sebagai jatah di kantor. Dan kemarin, seorang teman lama yang bekerja di pabrik kata-kata pun mengoleh-olehiku kalender ketika berkunjung ke Bandung. (Thx, yak!)

Tentu saja, desain kalender itu bermacam-macam. Ada yang polos tanpa gambar, hanya angka tercetak besar-besar berikut hari dan pasarannya. Namun ada juga yang berhiaskan gambar mulai dari realis, kartun, sampai gambar yang absurd. Dan banyak juga nih yang memasang foto-foto mulai dari pemandangan macam pantai lengkap dengan bulan keemasan, atau peristiwa seperti bencana banjir, anak-anak berseragam mau berangkat sekolah (kalau yang ini kok aku rasanya sering lihat ya?), hingga gambar puitis ala kalender perusahaan rokok yang belakangan iklannya padha bagus-bagus itu.  

Dan tinggal pilih juga, mau yang duduk di meja, atau digantung di dinding.

Kalau aku, untuk di kubikelku jelas lebih suka kalender duduk. Praktis, tinggal melirikkan mata, aku bisa memelototi angka penanggalan di atas monitor kompie. Tapi untuk di kamar, aku tak suka kalender meja. Terlalu serius dan yang jelas terlalu kecil. Aku lebih memerlukan kalender yang bisa berfungsi sebagai penyemarak dinding kamarku.

Tentang kalender, mungkin juga ini yang disebut-sebut sebagai pegangan orang yang mengaku modern yak? Berani taruhan, sejumlah kalender yang dipajang itu pastilah dipenuhi coret-coret: tanda silang, lingkaran untuk menandai hari H pelaksanaan rencana ini itu. Huff.. ya mau bagaimana lagi, kita terlanjur hidup dalam dunia yang memaksa kita punya segudang rencana dalam waktu yang hampir bersamaan. Celakanya, waktu yang bekejaran bikin orang pun mudah lupa. Bahkan utnuk sekadar mengingat: hari ini hari apa, tanggal berapa dan harus ngapa?

Yak, dan jreng.. jreng.. jadilah kalender berkolaborasi dengan agenda harian, menjelma menjadi buku agenda, organizer, atau apapun itu namanya. Kalender ada di hape, di komputer, di jam tangan, ada di mana-mana. Satu hari tanpa melirik kalender rasanya menjadi tidak lengkap. Ingatan terpenggal-penggal, tercecer, dan alhasil bikin rencana bisa berantakan. (Apa iya segitu tergantungnya otak manusia yang mengaku modern pada penanggalan?)

Dan melihat kalender di ujung tahun ini aku seperti tersadarkan. Sebelum aku membuka kalender baruku, aku pun membolak-balik kalender lama. Sepanjang tahun ini aku udah ngapain aja ya? Kalenderku penuh coretan, tapi kok jauh di lubuk hati sana rasanya masih ada yang kosong …

Ah, waktu terlalu cepat berlalu.. Dan aku belum cukup cepat mengejarnya…

Kalender

4 thoughts on “Kalender

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s