Berburu

Yak, musim berburu datang! Bukan, ini bukan tentang bagaimana kucingku yang pemalas di rumah tiba-tiba menjadi rajin berburu tikus. Bukan juga tentang macan tutul gagah di Afrika sana yang kodratnya hidup dengan memburu rusa padang rumput. Tapi ini tentang bagaimana berburu masa depan. Masa depan yang terkodekan lewat nomor induk pegawai alias NIP.

Iya, bulan-bulan ini sejumlah dinas dan departemen pemerintah membuka lowongan CPNS. Dan musim berburu yang penuh romantika pun dimulai. Antrian mengular saat pendaftaran barulah satu tantangan awal. Kudu siap mental dan fisik untuk berdesakan menyorongkan berkas lamaran bersama dengan ribuan pelamar lainnya. Menjajal soal-soal tes pun butuh strategi, jangan sampai kehabisa waktu gara-gara berkutat dengan soal matematika masih saja jadi momok nomor satu sejak kelas SD dulu!

Perburuan pun harus rela menempuh jalan panjang. Meniti rel, mengukur jalan. Menjajal soal tidak selamanya di kota asal, bisa di kota tetangga, ibukota, suka-suka penyelenggara. Akhirnya, jamak terjadi, musim berburu NIP adalah waktu yang tepat untuk bereuni, ketemu tetangga, teman kuliah, teman SMA, dan kalau beruntung bisa juga ketemu teman SMP hingga SD. Teman yang menjadi penduduk lokal tempat tes diselenggarakan harus rela ketempuan, mulai dari tempat menginap, atau sekadar melayani sms seputas informasi standar tapi maha penting seperti.. dari terminal anu ke tempat itu naik apa ya?

Cerita masih bergulir. Perburuan sejati berlandaskan motivasi. Berstatus PNS ternyata tidak hanya identik dengan kesejahteraan terjamin sampai tua atau besarnya peluang untuk dapat beasiswa kuliah di luar negeri. Berburu NIP ternyata juga urusan heroisme, mengalahkan ribuan pelamar jelas dapat menjadi sebuah kebanggan. Deplu contohnya, yang dari tahun ke tahun selalu diuber-uber ribuan orang yang ngiler pengen menjajal kehidupan luar negeri.

Selain itu, berburu NIP ternyata juga sebagai bagian dari iman, eh, bakti kepada orang tua. Mau bagaimana lagi, kalau orang tuanya ternyata lebih sreg anaknya jadi PNS daripada jadi aktivis. Entahlah, orang tua itu tahu atau nggak kalau aktivis kini bisa juga bergaji sepuluh kali lipat daripada gaji PNS.

Itulah hasil obrolan singkatku dengan seorang teman yang dalam perburuannya mampir ke kota kembang. Selamat berburu!

Berburu

6 thoughts on “Berburu

  1. Aku dari jaman Alif sampai jaman Ya’ gak pernah sedikitpun tertarik ama perburuan yang satu ini. Meski pernah iseng sekali nyoba’ di ITS. Alhasil, yang namanya nyoba’ ya gak diterima. Hehehe…

  2. wuih gila judulnya ‘berburu’. kirain bawa senapan lalu nembak burung-burung di pohon atau babi hutan di hutan.

    ternyata… iya, itulah bangsa kita. mbok entrepreneur kek?? kan malah menciptakan lapangan kerja.

  3. perburuan yang satu ini juga melibatkanku ternyata. sebagian pemburu meminta bantuanku untuk ngecek info lowongan, pengumuman tes, dll. dan aku pun akan ikut senang ketika perburuan mereka berakhir sukses🙂

  4. Sayap KU says:

    Bandung juga ada perburuan PNS mbak? kirain semuanya dipusatkan di Jakarta. Ade mau berburu apa yah (sambil mikir-mikir berburu yang enak)

    -Ade-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s