Posts Tagged 'Jakarta'

Sebundel Stik Keju

Minggu ini aku belajar soal property dan tanah. bidang baru yang nggak pernah kepikiran untuk belajar ini sebelumnya.

profesor tamu datang dari negeri yang jauh, Wisconsin, negara bagian AS yang berbatasan dengan Canada. sudah berumur, tapi suaranya masih cukup lantang untuk membuyarkan setiap lamunan yang lewat di otak mahasiswa pada jam-jam kritis. selain rajin bertanya, profesor ini punya metode mengajar yang unik di kelas.

“property right is a bundle of rights !” serunya di awal perjumpaan kami.

profesor ini mengajarkan hak property seperti sebundel stik keju, yang ikatannya bisa dibongkar pasang, stiknya dikurangi atau ditambah, bahkan dipotong-potong untuk dipindahtangankan. sebagai ilustrasi, dia membagikan seluruh stik keju dalam kantong. siang itu, aku mendapat sepotong hak tanaman. yang lainnya ada yang mendapat hak tanah, hak air, hak mineral, hak udara, hak binatang, hak menggunakan, hak menjual, hak menyewa, dan hak mewariskan.

“o o … please, don’t eat your property now!” serunya jenaka saat semua mahasiswa sudah memegang masing-masing satu stik keju. wah, prof tau aja sih? stik keju ini baunya harum sekali. aku sudah ingin melumatnya.

oh tidak, mungkin lebih tepat ingin meremukkannya. tiba-tiba pikiranku melayang ke kota yang sama jauhnya dari kelas .. Jakarta! aku ingat kalau masih memegang sepotong hak menyewa, tapi makelar-makelar itu akan merebutnya!

tiba-tiba profesor membuyarkan lamunanku. dia bertanya padaku, hak apa yang kugenggam. saat itu aku tidak ingin bilang kalau sedang memegang hak atas tanaman. woaaa .. rasanya aku ingin berteriak padanya seraya mengangkat tangan kiri yang mengepal, “yes prof, I still have right to use!”  (hei, makelar, gentar nggak kalian?&*@#$!)

# jeritankontraktorjakartadisiangbolong

Cerita Jakarta #2: Memang Semprul!@%!*?

Rumah Rabel ternyata bermasalah. Rumah sumuk itu jadi perebutan sebuah keluarga besar yang tak akur.

Dasar makelar! ternyata kami membayar pada orang yang tidak tepat. Dari awal kami tahunya ya si bapak A yang mengurusi rumah kami. tambah hakul yakin 110 persen bahwa si bapak A yang bertanggung jawab setelah dia dengan gagah berani mengurusi waterfall yang nggerojok nyaris meruntuhkan langit-langit rumah.

Lha tiba-tiba muncul si ibu I dengan utusannya mbakyu S yang konon kabarnya cantik seperti pesohor tante Desi Ratnasari. dua orang ini mengaku sebagai pihak sah pemilik rumah rabel. Dan mbakyu S inilah yang paling sering nongol ke rumah rabel. dia menyampaikan pesan bahwa kami harus segera angkat kaki dengan alasan yang kontrak setahun yang sudah kami bayar di muka ke bapak A dianggap tidak ada. dasar makelar! mbakyu yang ramah tamak ini maunya kami membayar sewa lagi padanya. cantik-cantik kok maruk.

silang sengkarut, karut marut, berkerut-kerut. perang urat sarap belum juga berakhir sampai saat ini padahal sudah meluntjur menjelang akhir tahun 2011. bapak A sok menjamin kami tidak harus pindah karena sudah bayar. sebaliknya mbakyu S ingin supaya kami segera pergi, kecuali kami membayar sewa lagi. mbakyu S ternyata bawel tapi nggak mau repot. dia lebih suka mengutus pacarnya mas D untuk meningkatkan tensi, nyuruh kami berkemas dalam dua minggu! sarap! nggak cuma dengan kata, tetangga mengabarkan mereka juga menebar rapalan rajah dengan air bertuah di halaman rumah. entah supaya rumah kosong di sebelah segera laku terisi, atau mungkin sebaliknya supaya keluarga rabel nggak betah dan segera angkat kaki. sekarang ini, dari lima rumah sengketa di situ, hanya satu terisi, yaitu rumah nomor 2A yang ditinggali keluarga rabel.

Jakarta memang semprul!

Makelar-makelar tamak itu bikin balada kontraktor makin panjang. lakon keluarga rabel seperti drama dengan jumlah babak yang tidak tertebak. beruntung, Nik the girl next door tangguh menghadapi perang urat sarap. dengan mental baja dia menghadapi kebawelan duo mawut mbakyu S dan pacarnya mas D. bertekad mendudukkan keluarga tak akur satu meja bersama pak RT yang baik budi. namun, Nik akhirnya urung duduk bersama di meja itu. kisah duka menyelusup membuat Nik pun mengambil jeda (aku ikut berduka, Nik). untunglah ada Put yang rela mengambil alih peran. maafkan aku, nggak ada dalam lakon saat kalian butuh pemeran pengganti …

Meja Makan Keluarga Rabel

Inilah keluarga rabel. Sebuah keluarga yang ganjil terdiri dari tiga perempuan. The girls next door, para sahabat untuk berbagi: dari atap, celoteh, hingga nasi dalam magic com.

Satu bernama Put, inilah miss telaten dalam rumah. Paling rajin memindahkan peralatan yang numpuk di rak piring ke tempat penyimpanan. Kami semua rajin mencuci peralatan, tapi tidak cukup rajin mengelap dan menata apa yang sudah dicuci dan menyimpannya supaya kembali rapi. Nah, Mbak Put inilah yang paling rajin mengelap garpu sendok, termasuk wadah-wadah plastik yang kalau numpuk gitu saja tampak lebih mirip plastik siap daur ulang daripada wadah makanan.

Nah, kalau yang satu lagi adalah Nik, si problem solver sejati. Ia benar-benar tetangga sebelah kamar dalam arti yang sebenarnya. Enam tahun belakangan kami berbagi atap sejak dari Bandung. Dan episode glundungan terus berlanjut sampai sekarang di ibukota ini. Daya pemecahan Nik bisa bikin takjub. Misalnya nih, dia tak ragu untuk berbelanja onlen, cara jitu berbelanja tanpa macet tanpa repot di Jakarta. Nggak cuma wadah-wadah plastik tapi juga baju. Hmm.. itu kayaknya dia memang nggak punya masalah dengan ukuran dan warna baju. Sementara aku, baju musti dipegang, dijajal, baru dibungkus. Daya jelajah onlennya itu juga yang buatku bisa mirip katalog toko (makanan terutama). Dalam hitungan detik dia bisa kasih saran buat ngelongok ice cream cake enak di mana, kue kering garing di mana, apa lagi ya.. ? banyak lah. Belum lagi urusan pemecahan masalah ewuh pakewuh yang melibatkan tata kebiasaan. Nah, nik ini bisa kasih solusi jitu soal kepatutan dan kepantasan misalnya dalam hal ngasih kado lahiran, membawa buah tangan, nge-treat ibu bawel warung (kalau dulu nge-trick ibu kos :D ).

Pada dasarnya kami ini keluarga yang hangat. Ngudoroso, sehangat obrolan dan teh hangat yang sesekali kami bikin bersama. Tapi ternyata gampang-gampang susah (catat: banyak gampangnya daripada susahnya!) buat hidup bareng satu rumah di Jakarta. Ini soal membangun jagongan efektif dan berkualitas. Memang tinggal satu atap, tapi ketemunya bisa kayak orang main petak umpet. Satu datang yang dua tidur, dua berangkat yang satu tidur. Kapan mo nggosip cobaa?

Hal yang menggelinding normal adalah urusan lidah, makan memakan. Lauk yang kami masak itulah penyambung rasa, tali jiwo bahasa rumangtisnya. Si pemasak pagi akan menyimpankan lauk bagi si pemakan siang. Seterusnya, si pemasak siang pasti akan ninggalin makanan buat si pemakan pagi. Makanan itu biasanya ditaruh dalam wadah yang ditempatkan di atas “meja makan”. Ya, kami punya “meja makan” yang selalu padat oleh toples berisi cemilan. Sebetulnya itu adalah container plastik yang berisi perkakas. Di taruh di sudut ruang bersama supaya bisa juga merangkap sebagai meja. Nah, di situlah kami berbagi perhatian kecil. Jika memasak, pasti ada rantang tertutup atau piring bertangkup piring di atasnya. Melihat benda-benda itu, kami langsung tahu bahwa ada aksi dapur di hari itu. Saatnya berbagi protein dan kalori!

Inilah keluarga rabel. Ganjil namun hangat … Luv ya, gals!

Laskar Dagelan

Rasanya gemas betul melihat Laskar Dagelan kemarin malam di TIM, Selasa (29/3). Panggung dagelan musikal malam itu milik Butet Kartaredjasa, yang jadi produser pertunjukan. Cerita panggung musik itu dleweran ke mana-mana.

Dijejali sindiran DenSus (Susilo Nugroho) yang njelehi dan orasi budaya abdi dalem (Marwoto) yang kemampleng, siapa pun pasti bisa merasakan kejengkelan wong Yogya. Belum lagi hentakan musik Jogja Hiphop Foundation dengan suara latar suling prajurit Kraton yang njogjani, bolak balik, di awal dan di akhir pertunjukan, nyanyi Jogja tetap istimewa, istimewa orangnya. Panggung makin segar dengan bertabur banyak bintang. Ada Hanung Bramantyo, sutradara sang pencerah itu malah jadi bahan gasakan lawakan. Sinden kosmopolit Soimah juga ada, masih kenes dan kemayu tapi tampil sedikit urakan. Juga pelawak senior yang kalem tapi nyelekit, Yu Ningsih. Tapi ya, panggung itu milik Butet. Rasanya melihat Sentilun, pembantu nyiyir di Metro TV, sedang menari-nari di belakang panggung sepanjang pertunjukan.

Kalau saja Pak Beye menonton, seperti halnya Pak Sri yang datang malam itu, pastilah muka dan telinganya merah padam. Marah bin sebal. Sepanjang pertunjukan ceritanya berkutat soal Yogya yang istimewa. Sebetulnya semua kena sentilan. Martir memang dibombardir ke pusat republik, tapi pantulannya ke mana-mana sampai ke negeri ketoprak opera yang digambarkan suka saru dan merusak properti panggung. Ada lagi tokoh superman yang terbang-terbang dengan jubah merah kleweran. Jambulnya juga nglewer yang kok malah jadi mirip om Nur yang gemar sepak polah. Tentu semuanya diramu dengan bumbu dagelan, dari mengumbar plesetan khas Yogya, sampai lawakan lawas trio Joned, Wisben, dan Gareng khas punakawan goro-goro pewayangan. Penonton ngakak pol. Para seniman di panggung itu berkeyakinan kalau suara dagelan adalah suara rakyat. Dan kalau suara rakyat adalah suara tuhan, berarti suara dagelan adalah suara tuhan. Sesat pikir yang cerdas.

Cerdas memang. Saking cerdasnya, banyak orang nggak sadar kalau sebetulnya degelan yang bikin ngakak itu sebetulnya adalah panggung kejengkelan. Jengkel pada republik, jengkel pada kepala republik, jengkel pada pusat republik. Semua kejengkelan ditumpahkan malam itu, dengan banyak dialog yang sebetulnya lebih mirip orasi budaya ketimbang panggung teater. Nuwun sewu, ada yang terlewat. Karena terlalu semangat menggungat pusat di Jakarta, pusat Yogyakarta jadi luput kritikan.

Masak mendadak lupa sih, kalau pusat di Yogya itu pernah meloloskan izin MegaProyek Parangtritis yang hendak memangkas gumuk pasir bergunduk-gunduk yang maha langka di Parangtritis sana tahun 1990-an akhir? Dan ya masak sudah lupa kalau pusat di Yogya itu juga pernah mengizinkan pembangunan Amplaz yang nyaris merusakkan Gandok Tengen pesanggrahan Ambarukmo? Rencana itu kemudian memicu demo besar-besaran para seniman dan budayawan tahun 2005. Alhasil sekarang Pesanggrahan bersejarah yang dibuat sejak masa Sultan HB V terlihat wagu karena atapnya mepet banget dengan bangunan mal. Terus, apa ya lupa juga kalau pusat Yogya itu tahun 2005 juga pernah merelakan izin nggrowongi Alun-alun Utara untuk dibikin parkiran bawah tanah? Terakhir, yang paling wagu adalah pusat Yogya itu pernah berencana maju kompetisi jabatan lima tahunan, padahal sudah menggenggam jabatan seumur hidup? Woogh.. nuwun sewu, itu wagu sak pol-polane!

Sungguh, rasanya gemas betul melihat Laskar Dagelan. Aku sangat setuju kalau Yogya istimewa negerinya, istimewa orangnya. Tapi pusatnya.. wah ya tunggu dulu. Beneran, cerita dleweran ke mana-mana, marai nggondok.

Waterfall

Di Jakarta, hujan tak lagi syahdu. Hujan adalah keruwetan yang njelehi. Sungguh celaka Jakarta. Membuatku tidak lagi menyukai hujan.

Hujan sejam itu artinya kerepotan berjam-jam. Banjir akhirnya mampir juga ke cluster rabel (ehm, ini panggilan mesra untuk my home sweat home aka hunian rawabelong :D ). Tidak lewat pintu tapi anjlok dari atap rumah sewa nomor 6. Inilah banjir lokal di lantai atas yang bikin huruhara di dua rumah sekaligus.

Gara-gara talang mampet, air mencari jalannya sendiri. Terjun bebas. Mengalir sesukanya lewat langit-langit. Luasnya nggak tanggung-tanggung, ya seluas rumah itulah. Di kamarku, air menggenang bikin kaki adem namun hati panas. Dongkol ingat kasur pegas yang basah, tumpukan baju yang harus cepat-cepat dicuci, tebaran kertas yang lengket berbau, bantal duduk warna kuning yang semula cerah jadi suram. Runyam. Belum lagi tembok yang mendadak bermotif waterfall, rasa was-was eternit ambrol dan listrik konslet karena dudukan lampu basah kuyup. Air mengalir sampai jauh merambah kamar tetangga dan lantai bawah. Keluh. Kerusuhan ini tidak sebanding dengan hal ikhwalnya yang sepele: tukang tetangga yang ngawur dan serampangan buang sampah di atap orang.

Ah, Jakarta sungguh celaka! Membuatku tidak lagi menyukai hujan. Mendadak berharap ada panas menyengat sehari saja untuk mengeringkan langit-langit yang kini kuyub. Berharap pemilik rumah sewa sigap membuat semuanya menjadi betul: atap, talang, dan juga tukang tetangga.

Senggal-senggol Tetanggaaa

Sekarang aku tinggal d rumah sewa nomor 6. Rumah dengan penampilan paling bersih terawat (dan juga terjangkau, tentu) di gang senggol nomor dua. Inilah babak keriuhan 3 bulan dalam hidup menghadapi para tetangga.

Persinggungan pertama dengan warga gang senggol adalah dengan ibu warung di depan rumah sewa nomor 6. Warung kecil serba ada, dari galon air minum sampai gas tiga kilo, dari momogi sampai kopi kemasan. Komplit plit. Buka dari pagi jam 7 sampai malam jam 12. Tempat paling happening. Pagi jadi ruang gosip para ibu-ibu, siang jadi tempat jajan anak-anak, dan malam berubah jadi tempat nongkrong para pemuda gawul gang senggol.

Persinggungan demi persinggungan beneran bikin tersinggung. Ibu warung dan keluarganya selalu want to know, celingukan mencari celah untuk mencari tahu ada barang-barang apa saja d rumah. Dan selalu want to give evaluation, beramah tamah mengomentari segala hal mulai dari pintu pagar yang selalu tertutup, tetangga yang jarang senyum, sampai urusan kebiasaan bepergian. “Mbak yang satunya itu sedang dievaluasi, kok nggak pernah senyum,” mantap kata anak si ibu mengomentari the other girl next door. Walah pak, gimana mau senyum kalau tiap pulang dianya musti konsentrasi manuver steer biar nggak nyenggol kaleng krupuk di warung.

Keramahan lain ditunjukkan tetangga yang tinggal di sebelah warung. Kesan pertama begitu menggoda. Kira-kira begitu waktu aku pertama kali bertemu bapak pemarah. Ya, tepatnya tensi yang tergoda. Ini gang senggol, Bung! Jangan bayangkan sebuah kampung permai dengan warga guyub ramah senyum sana sini. Si bapak pemarah itu, baru pertama kali ketemu sudah keluar kalimat bernada tinggi “Ngerti nggak?!”. Kalimat itu terlontar tiga kali waktu aku yang senyum ramah minta si bapak sedikit memundurkan mobilnya dari depan rumah kami. Itu baru sedikit, gimana kalau minta banyak? Rupanya dia merasa terganggu. Lhah, siapa suruh parkir di depan rumah. Sudah tahu gang senggol (bacok). Ck ck ck, sesama kontraktor aja kok ya nggak ada tepo slironya, sih?

Tindak tanduk warga gang senggol yang nggak lazim rupanya mengakar sampai di tingkat grass root. Ibu kucing yang cantik bertamu pada suatu sore. Masuk lewat jendela dapur yang menganga, langsung slonong naik ke lantai atas. Dia menyapa saat sudah duduk di keset depan kamar. Rupanya dia sedang mencari tempat buat kelahiran anak-anaknya. Perutnya sudah membuncit di bagian bawah. Ditaksir bisa punya empat kitties. Woooah, what’s wrong with you, buk? Ini rumah sewa nomor enam, bukan rumah bersalin.

Tiba-tiba terngiang lagu lawas, “Ke Jakarta aku kan kembaliiii iiii iiii..” hhh.. Kalau bisa milih sih lebih baik nggak.

Jakarta Sudah Dekat

Benar, Jakarta sudah semakin dekat. Sepertinya hidup jadi makin serius dan bergegas.

Baru 48 jam menyaru penduduk kota, bisa merasai bahwa kota ini selalu tergesa. Jakarta bergerak bersama orang-orang yang ditampungnya. Berat. Sendi kota lebih sering macet. Hujan deras 10 menit bisa membuat jalur-jalur lalu lintas kota mampet berjam-jam.

Di mana-mana ada saja orang berkerumun, menunggu atau mengejar entah. Sibuk. Padat. Selalu ada yang tersesat. Inilah kota persinggahan, banyak datang menebar mimpi dan ada juga yang memilih pergi. Memang sudah sesak, mau bagaimana lagi?

Jakarta sudah dekat. Aku akan datang. Aku punya mimpi tapi tidak akan kugantung di langit Jakarta. Aku lebih suka melipatnya dan kubawa ke mana pun aku pergi. Esok, mungkin kamu sempat melihatku duduk dengan wajah lelah di tepi jendela metromini. Tapi pasti kamu akan melihatku sedang menikmati teduh pohon-pohon menua di taman kota sana …

Baiklah Jakarta, aku akan datang … !

Cerita Jakarta #1: Balada Kontraktor

Menjelang tinggal di Jakarta, aku bertekad menjadi kontraktor. Males tinggal di kamar sewa karena belum-belum sudah membayangkan kerumitan beradaptasi dengan pemiliknya dan tentu saja tetangga baru. Pilihan paling nyaman adalah mencari rumah kontrakan.

Jadilah, akhir minggu berburu rumah sewa. Rencananya mencari rumah dengan spesifikasi minimal dua kamar untuk aku dan the girl next door. Tapi lebih bagus lagi kalau bisa mendapatkan tiga kamar untuk seorang lagi kawan dari Surabaya. Ya, kami bertiga memang berniat membangun sarang kenyamanan di belantara Jakarta.

Tapi, mencari sarang ternyata nggak mudah. Kami ini ternyata calon urbaner yang kadung terbiasa hidup nyaman di lingkungan asri ala kota B dan kota Y. Kami kagok menyisir gang kampung ibu kota yang saking sempitnya bikin suara televisi di dalam rumah terdengar sama gayeng dengan obrolan siang di teras rumah. Air selokan yang mampet itu sama mandegnya dengan pikiran kami. Kami ternyata nggak sampai hati membayangkan tinggal di rumah yang daun jendelanya menyambar jemuran tetangga atau daun pintunya mengelupas terpapar tampias air hujan. Sungguh sulit membayangkan meringkuk di kamar yang siang hari saja gelapnya mengalahkan kolong meja di gudang kantor. Rasanya sulit percaya bahwa air di pipa kamar mandi itu tidak akan bocor, sama tidak yakinnya bahwa rahasia kami tidak akan bocor diulik tetangga yang hidupnya terlalu mepet.

Beruntung kami diantar oleh keluarga sugi yang ramah. Kami akhirnya tahu kalau sarang idaman itu bukan sekadar khayalan. Benar ada, di pekarangan milik Babe, seorang tuan tanah di bilangan Sasak. Berjajar rapi, bersih, dengan kamar-kamar yang terang alami sinar matahari. Cerah, secerah warna kuning kusen jendelanya. Halaman itu diteduhi pohon belimbing. Ah, sayang sudah penuh …

Owh, sial ini baru cari kontrakan! Belum lagi cari jodoh?

Homo Jakartaensis

Sabtu siang pada sebuah halte bus di kawasan semanggi. Dua orang lelaki yang duduk bersisian tengah terlibat pembicaraan seru. Yang satu bertubuh tambun dan seorang lainnya berperawakan sedang.

“Jadi, lu kapan mulainya?” kata si tambun dengan logat jawa yang kuentel seperti teh poci. Tangannya ditekuk, diselehke tepat di atas perut tambunnya. Seragam satpam yang dipakainya tampak sesak. Berani taruhan, dengan tubuh seperti itu satpam satu ini pasti bakal ngos-ngosan ngejar copet ibu kota.

Si perawakan sedang bilang, “Belum tau, mas. Masih nunggu. Moga-moga nggak ada yang bikin sulit,” dengan nada datar dan lempeng. Kupikir dia office boy atau petugas cleaning service yang sedang mengaso.

“Ya yang sabar. Kita sebagai pendatang musti bisa pinter-pinter..” balas si tambun. Kepalanya mengangguk-angguk,entah tanda simpati untuk si sedang atau sebetulnya sedang menjejalkan pemikirannya untuk hatinya sendiri.

Mendengar obrolan itu, layar imajinasi Seno Gumira Ajidarma pun terkembang di kepalaku: Obrolan tentang Jakarta ala Homo Jakartaensis. Bagi spesies ini, Jakarta adalah sebuah kota tempat melekatkan citra modern hidup sukses dengan segala uborampenya: pekerjaan nyaman, gaji aman, keluarga mapan, syukur-syukur punya rumah sendiri, mobil, laptop, ipad, ipod … makin panjang piranti top yang dipunyai, makin gilang gemilang hidup yang dimiliki.

Homo jakartaensis memang eksis. Mungkin benar, di tengah pilihan dan perhitungannya yang rumit dan njimet, spesies yang satu itu terbukti tangguh, mampu bertahan hidup di belantara Jakarta raya. Berminat mengikuti jejaknya?

Miniatur

Undangan resepsi pernikahan membuatku datang ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Menarik. Tentu yang menarik bukan pesta resepsinya. Tetapi tentu saja TMII yang menarik. Tempat itu masih tampak sama seperti aku datang ke tempat itu sekitar 18 tahun silam. menarik, dengan dibumbui rasa nostalgia tentunya. 

Namanya juga dengan semangat nostalgia, meski matahari menyengat, aku tak patah semangat untuk berkeliling. Tidak berjalan kaki, tapi dengan menumpang sebuah mobil tour. Ya, tempat itu masih serupa. Ada danau buatan seluas sekitar 9 hektar dengan miniatur kepulauan Indonesia di tengahnya. Ada kereta gantung yang berseliweran di atasnya. Bangunan teater 4D Keong Mas – yang dulu pernah bikin aku menganga takjub – juga masih berdiri megah. Ada yang baru, Taman Budaya Tionghoa. Jumlah anjungan berubah jadi 26, karena anjungan Timor Timur sudah dijadikan museum. Katanya sih, akan dibangun anjungan baru, secaraaaaa … sekarang ini kan sudah 33 provinsi gitu.

Ngomongin museum. Taman mini yang seluas 100an hektar itu punya sejumlah museum. Antara lain Museum Indonesia (konon inilah cikal bakal taman miniatur Indonesia), Museum Transportasi yang majang pesawat dan rangkaian lokomotif di mukanya, Museum Keprajuritan yang masih saja serem dan tentu saja Museum Purna Bhakti Pertiwiyang kesohor itu. Yang disebutkan terakhir ini kesohor karena dibangun dalam kurun waktu lima tahun (1987-1992) dan isinya memang menakjubkan: koleksi cinderamata dari berbagai negara milik mantan Presiden Soeharto.  

Ya, TMII masih tampak serupa. Kecuali pagar sejumlah bangunan yang catnya sudah mengelupas di sana sini, kecuali sejumlah museum yang tampak sepi tidak dikunjungi, kecuali sejumlah besi dan logam Stasiun Kereta Mini yang terlihat berkarat, kecuali pepohonan dan semak belukar yang tumbuh subur di sejumlah halaman anjungan. Tak apa, TMII rasa nostalgia memang menarik.

Makin menarik ketika sopir mobil tour yang aku tumpangi mulai membeberkan ceritanya. Bukaan, ia tidak tertarik memamerkan koleksi taman wisata di TMII. Ia juga tambah tidak antusias ketika membicarakan sejarah berdirinya TMII yang pada suatu masa dulu sempat didengung-dengungkan. Ia lebih tertarik membicarakan tentang makhluk-makhluk tak kasatmata yang menjadi bagian koleksi TMII. (Lhaa.. ini taman mini atau taman uka-uka?)

Ceritanya, ada sepasang ular berkepala manusia yang suka berseliweran di jalanan, terutama di seputaran Museum Indonesia dan bakal Sea Park yang sedang dibangun. “Panjangnya, mbak, dari Museum Indonesia ini, sampai ujung genteng rumah di sana itu!”, seru si sopir bersemangat. Ya, ia tengah menggambarkan betapa besar dan panjang ular itu. “Yaa.. kira-kira 300 meteran lah” (coba itu, kalau ular beneran, pasti udah dilepasliarkan kembali ke habitatnya oleh para pecinta alam).

Belum cukup menceritakan koleksi extra large-nya, si sopir pun berganti topik. Kali ini giliran koleksi yang super cantik tapi suka mengikik. Dengan semangatnya, si sopir bercerita, “Iya, mbak. Mobil saya pernah ditumpangi perempuan cantik. Dia nyetop mobil saya di sini ini, di Stasiun Kereta Mini. Setelah putar-putar, eh si perempuan tadi tiba-tiba menghilang. Tinggal dua daun kamboja yang ada di tempat duduknya… bla-bla-bla.” Aku tidak lagi mendengar lanjutannya karena sibuk celingukan mencari-cari jejak nostalgia yang tersisa di antara anjungan demi anjungan.

Sial. Santapan nostalgia siang itu pun habis. Ya tersisa obrolan tak penting yang diobral si sopir mobil tour. Tak apalah, aku justru menemukan bahwa taman yang kukelilingi selama sekitar dua jam itu memang benar-benar miniatur Indonesia. Sebuah bangsa salah urus, kurang suka berpikir logis, tapi lebih suka mikirin mistik. Duh.. duh… Mendingan makan bistik, deeeh!

Next Page »



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.