Ada yang baru di parkiran sepeda di kantor. Perubahan mencolok: tiga palang besi warna merah hijau dan kuning untuk menggantung dua puluhan sepeda yang parkir di situ. Sepeda-sepeda itu memang sengaja diparkir dengan cara digantung pada bagian sadelnya. Selain terlihat jauh lebih rapi daripada diparkir berdiri, sepeda-sepeda itu terlihat lebih gaya. Detil motif ban, lekukan stang, bentuk sadel, lebih jelas terlihat. Tapi … bagiku, gantungan sepeda-sepeda itu lebih mirip rentengan ingkung ayam di gerobak penjual bakmi Jawa. Duh.. jadi laper.
Aku sih senang ya, ada parkiran sepeda yang baik di kantor. Nggak seperti di mal atau tempat keramaian di Bandung, yang susaaaah bener mo cari parkiran sepeda. Penunggang sepeda biasanya terpaksa harus cari tiang listrik, tiang pager, atau tiang apa lah buat merantai sepedanya di situ biar nggak jalan sendiri. Setahuku, tidak ada parkiran sepeda di mal-mal itu yang sama bagusnya dengan di kantor …
Parkiran sepeda di kantor ini memang jadi lebih menarik perhatian. Setidaknya dalam empat bulan terakhir. Selalu, selalu ada seseorang yang selalu tampak sibuk mengatur sepeda-sepeda itu. Kalau aku lewat parkiran itu sehari tiga kali, ya sering kulihat orang yang selalu tampak sibuk itu ada di situ, mengatur sepeda. Parkiran sepeda ini memang tengah mendapatkan perlakuan khusus.
Parkiran sepeda ini memang baru dibuat. Sekitar empat bulan lalu, sejak sejumlah orang di kantor ini keranjingan sepeda. Eh, atau lebih tepatnya setelah sebuah toko distributor sepeda sukses menjaring dua puluhan konsumen di kantorku. Distributor itu sukses menampilkan citra bersepeda menjadi olahraga yang menyehatkan sekaligus gaya.
Gayanya … ya lihat saja dari parkiran sepeda itu. Kebanyakan yang tergantung memang sepeda gunung dengan spesifikasi mulai dari untuk tanjakan jalan mulus hingga jalanan liar alam pegunungan. Tergantung setiap hari di situ. Musim hujan begini, ya masih saja banyak yang mulus dengan sedikit noda. Aku jadi heran, sebetulnya sepeda ini bener-bener untuk menerjang alam liar pegunungan atau nggak ya?
Awalnya, parkiran sepeda ini ada di belakang kantor. Dari luar nggak kelihatan. Dan itupun bukan lahan khusus, tapi harus berbagi tempat sama motor. (Nah kalo motor-motor ini luar biasa buthek dan kotornya!) Dulu, kuhitung cuma ada lima atau enam sepeda yang aktif keluar masuk. Tapi semenjak orang-orang kena virus naik sepeda dan punya sepeda baru, jumlah sepeda di parkiran pun nambah. Akhirnya, perlu tempat yang lebih lega. Motor pun diusir supaya diparkir di depan.
Tapi perkembangan selanjutnya, sepeda-sepeda inilah yang sekarang ini dipajang eh dipindah ke depan. Entah biar lebih lega atau biar lebih kelihatan, tak jelas benar alasannya. Yang jelas, sekarang ada tiga palang besi untuk menggantung sepeda. Setiap hari aku lewat, selalu, selalu ada seseorang yang selalu tampak sibuk mengatur sepeda-sepeda itu.


