Archive Page 2

Imajinasi

Katanya, pertama kali yang harus dicari dari sebuah kota adalah senja. Begitu kamu bisa menikmati senja, maka segera kamu akan mencintai kota itu. Aku sudah menemukan senja itu, dan rasanya aku bisa mulai mencintai kota ini. Yang kubutuhkan adalah imajinasi …

Sabtu sore. Aku dan beberapa teman memang sengaja berburu senja di Jakarta. Kami berhasil menemukannya di ujung utara kota: di antara jejalan kios pasar, di sela-sela jejeran perahu. Kami menemukan matahari oranye tersangkut di atap-atap seng permukiman padat Penjaringan, Jakarta Utara. Ya, senja itu kami tangkap di teluk Jakarta, tepat di pelabuhan Sunda Kelapa.

Sunda Kelapa. Baiklah, katakan kalau imajinasiku terlalu berlebihan. Tapi mungkin inilah ujung kota yang menggetarkan. Lupakan jalanan Jakarta yang padat menyebalkan. Dan lupakan wajah-wajah tak ramah yang dipojokkan nasib di sudut kota. Turun dari bus transjakarta di depan Stasiun Kota, nikmati saja sajian pesona kota lama Jakarta lengkap dengan gurat-gurat ketuaannya.

Yang perlu dilakukan adalah berimajinasi. Dan sudut terbaik untuk itu ada di Sunda Kelapa. Pelabuhan yang sudah kesohor sejak abad ke-12 di masa Kerajaan Sunda ini pastilah dulu sangat indah. Harum rempah-rempah, cengkih, kopi, pala, lada duluuu.. pastilah menguar di udara. Duluuu.. di kanan kiri jalan pastilah orang dari berbagai bangsa sibuk berdagang keramik-keramik cantik, sutera lembut bertumpuk-tumpuk, anggur, kuda… Dan begitu kesohornya hingga pastilah sudah beribu prajurit mati berebut teluk ini, Demak, Cirebon, Portugis, Belanda.

Ya, Belanda. Sungguh lama bangsa satu ini menguasai Sunda Kelapa, lebih dari 300 tahun. Nggak heran, peradabannya hingga kini masih terjejak meski tidak lagi sempurna. Benteng, gudang VOC, bengkel dan galangan kapal, kanal Kali Besar, jembatan merah, balai kota, adalah sejumlah napak tilas peradaban sekaligus monumen ketamakan. Abad 17 adalah puncak keemasan Sunda Kelapa, sebelum akhirnya pelabuhan ini menjadi terlalu dangkal dan sebelum akhirnya pelabuhan ini digantikan Tanjung Priok.

Berburulah senja di Sunda Kelapa. Sediakan waktu untuk hinggap di atas menara Syahbandar di dekat pasar ikan. Menara setinggi 50 meteran ini dibangun tahun 1839, berlokasi di sudut benteng. Ketika itu, pelabuhan sudah mutlak dikuasai Belanda, sehingga berbagai macam bea keluar masuk kapal dan bongkar muat barang dilakukan di bangunan ini. Dari ketinggian, percaya deh, imaji kota lama akan terbentuk sempurna! Perkara yang tercium bukan lagi rempah namun aroma sampah, itu sih abaikan sajah! 

Arwana

Sabtu dan minggu. Pertemuan yang direncanakan berjalan dengan lancar. Sepanjang hari yang hangat bersama teman-teman lama. Rasanya masih seperti dulu, mengumbar cerita remeh temeh di masa sma dan kuliah. Menyenangkan.

Kami masihlah sama, masih saja suka tertawa dan bercanda. Ehm.. sama? Tentulah tidak semuanya. Umur kami sudah bertambah. Tak lagi seperti dulu yang selalu mengaggap lewat begitu saja hidup, kini kami mulai serius menyapa hidup. ”Menjadi ikan,” kata seorang teman. “Dan bermimpi menjadi kepala naga, ” kata teman yang lain. “Kalau hanya menjadi buntutnya, bagaimana?” timpal teman yang lain lagi.

Ya, ya, anggaplah kami ini ikan. Ikan muda yang bersemangat. Sebagai ikan muda, kami sibuk dengan kolam kami masing-masing. Macam-macam yang dikerjakan. Ada yang selalu ramah melayani pengurusan kredit mobil, ada yang serius memberantas CD bajakan sembari membuat novel teenlit (gak nyambung ya?), ada yang antusias mengendus-endus dan membongkar kasus kriminal, ada yang berapi-api memperjuangkan kesetaraan jender, dan ada yang jungkir balik memburu peristiwa harian.  

Sebagai ikan, kami pun sejauh ini bisa berenang dan menyelam dengan baik (ya iyalah, namanya juga ikan). Namun, ada satu ikan yang sangat pandai berenang. Kecepatan berenangnya mendahului ikan yang lain. Secara, ikan ini meloncat dari kolam yang sama, berenang dari tepian yang sama. Namun, ikan ini melesat melampaui ikan lainnya sehingga membuat ikan lainnya iri. 

Si ikan sukses ini pun menjadi sasaran cibiran ikan-ikan lainnya (iya, ikan-ikan ini anggota kelompencapir alias kelompok pencaci dan pencibir). Mereka kerap menuduh ikan sukses telah lupa pada akarnya. Maklum, ikan kelompencapir hanya melihat sisik luar si ikan sukses yang kini sangat mentereng, berwarna keperakan seperti kaca spion motor yang ditempa sinar matahari siang bolong. Ikan-ikan kelompencapir pun mengidap komplikasi sirik dan silau atas keberhasilan si ikan sukses.

Begitulah balada ikan yang berkumpul. Di dalam kerumunan, selalu menjadi tidak jelas juntrungan omongannya. Aku kemarin sempat bilang pada si ikan sukses. “Ah, kamu juga ikan kok, tapi kamu ikan arwana yang mahal! Sementara aku dan yang lain ikan mujair.”

Rasa

Koma, belum titik. Dalam jejeran huruf membentuk kata, dan kata membentuk kalimat, tanda koma menandakan rentetan kalimat itu masihlah panjang berderet-deret. Belum berhenti.

Dengan koma, tentulah tidak berhenti. Dan kalau ada semangat berkarya tanpa henti salah satunya pastilah Teater Koma. Di tengah gemerlapnya film bioskop dan semaraknya sinetron televisi, teater ini terus bersetia mementaskan lakon.  Aku beruntung bisa melihat lakonnya yang ke-112, Kenapa Leonardo? di TIM. Sebuah lakon satir yang mempermainkan logika waras dan ketakwarasan. 

Adalah Pak Martin (Budi Ros), penderita amnesia akut namun memiliki kemampuan menyerap informasi apapun diajarkan padanya. Ia adalah salah satu pasien yang dirawat di Rumah Sakit Syaraf Kota. Di tangan Dokter Dasilva (Cornelia Agatha) yang ambisius, Pak Martin pun memiliki kemampuan super: menguasai 37 bahasa dunia dan 29 repertoar musik. Pak Martin dicetak paksa untuk menjadi manusia super, si Leonardo da Vinci kedua.

Tapi, betapa manusia tidaklah bisa disebut manusia bila tidak punya rasa. Pak Martin tak kenal apa itu panas, marah, atau cinta. Kemampuan otakknya membesar, namun hatinya mengerut. Eksperimen Dokter Dasilva ditentang oleh Dokter Hopman (N Riantiarno). Debat dua dokter ini pun bertebaran di sepanjang lakon berjalin kelindan dengan pembicaraan para pasien Lembaga Syaraf. Tidak jelas lagi, siapa yang waras di sini. Semua sama aneh dan mustahilnya. 

Ehm, aku bukannya mau sok-sokan mengulas lakon teater. Tapi, sungguh. Lakon itu menggelitik rasaku, di tengah rutinitas yang serba tergesa, rasaku masih hidup. Di tengah budaya instan, menonton lakon semacam ini bisa memperkaya rasaku sebagai manusia dengan cara yang juga instan. Aku menikmati lakon itu, meski aku sempat terkantuk-kantuk di ujung pentas. Maklum, panjangnya 4 jam! Pentas teater terlama yang pernah kutonton (hmm.. jangan bandingin dengan pentas wayang semalam suntuk lho yaaa) . Pesan lakonnya sangat jelas bagiku: Rasa manusia tidak dapat dipertukarkan dengan apapun juga. Titik!

Durian

Suka buah durian? Ehm.. buah yang satu ini banyak yang menyukai. Konon, inilah buah para raja di Sumatera sana. Disajikan segar maupun sebagai hidangan istana yang mengundang selera. Lempok, tempoyak, hmm.. apa lagi ya olahan dari durian itu? Eits, tapi nggak sedikit yang membenci. Mencium baunya yang menusuk bisa bikin mabuk. Apalagi kalau mencoba daging buahnya, perut panas rasanya mulas.

Bagi pencinta durian, tentulah buah ini tidak tergantikan rasanya.  (Ya jelas lah, masak durian di ganti jeruk?!) Dari segi harga saja sudah berbeda. Sebagai perbandingan, di Jawa, di daerah yang bukan sentra durian, beli 20.000 perak paling bagus dapat tiga biji. Itupun yang kurus kering tidak memesona. Tapi kalau di Bengkulu misalnya, kalau pas musimnya, satu butir dapet cukup 2.000 perak dengan daging buah yang tebal dan manis. Gitu juga di Bandung. Aku yang bukan pencinta durian tentu nggak mau repot dengan duri-durinya. Cukup beli es durian di Warung Sakinah di Simpang Dago 10.000 perak dan harus puas hanya dengan 5 biji durian.

Ya ya.. itulah durian. Namanya juga durian. Punya akar kata duri. Jadi artinya, ya, buah berduri. Jangan cuma mau enaknya, tapi juga harus ambil resikonya. September 2005, pesawat Mandala Airlines penerbangan 091 jatuh di Padang Bulan, Medan. Karena durian? Wah.. nggak (tahu). Tapi waktu kejadian, banyak orang mencurigai pesawat itu jatuh gara-gara mengangkut durian hampir 2 ton!

Ya ya .. itulah durian. Mungkin inilah buah kutukan. Dicari sekaligus dicaci. Kalau mau dimirip-miripkan, durian ini ibarat apel, buah nan cantik dari surga yang begitu diinginkan Adam. Cantik, tapi memabukkan hingga membuat Adam terusir dari surga. Emang mirip? Iya dimirp-miripkan meski fisiknya jelas berbeda.

 Aku hanya tiba-tiba teringat kalau durian dan apel itu sama-sama jadi julukan sebuah kota. Kota kutukan, yang didatangi ribuan orang setiap tahun tapi juga dicaci maki setiap hari. Ya ya.. apel untuk New York, The Big Apple. Dan durian untuk kota Jakarta, sebuah Durian Besar!

Ya, ya… itulah durian. Sekali lagi, aku bukan pencinta sejati durian. Aku menikmati buahnya tapi aku tidak mau repot dengan duri-durinya. Namun sekarang ini, aku harus siap. Aku akan mencicipi durian dan sekaligus durinya (kuharap tidak!) selama dua setengah bulan. Yay!

Jendela

Sepotong pembicaraan tentang jendela dan senja …  

Senja di jendela kereta memang selalu memicu chemistry romantisme. Terutama, ketika biasanya kamu melihat senja itu dari jendela kantor dengan terali-terali rutinitas.

Ya.. ya, pembicaraan tentang senja memang selalu hangat. Tapi, aku pergi tidak naik kereta!

Alamat

Sepotong surat bersampul merah jambu tergeletak di mejaku. Surat yang baru saja sampai itu pun menggugah ingatanku. Bukaan. Bukan karena warnanya yang centil kayak permen yuppi merah jambu. Jangan salah sangka, surat itu bukan surat cinta. Namun ucapan hangat dari seorang sahabat: supaya aku tidak kehilangan semangat dalam dunia yang cacat. Begitu kurang lebih isinya.

Perhatian yang terlipat dalam surat itu menyentilku. Ternyata aku tidak punya perhatian sebesar perhatian temanku itu padaku. Ya, ya, aku nggak perhatian bahkan untuk sekadar memperhatikan di mana aku menyimpan catatan alamatnya.

Temanku ini bukan tipe orang yang suka menuliskan alamat si pengirim di belakang sampul. (Kebiasaan yang sebetulnya menyulitkan siapapun yang ingin langsung membalas suratnya) Tapi, ia sudah memberikan alamat barunya sekitar tiga bulan lalu melalui YM. Aku pun sudah menyalinnya di notes kecil. Dan notes itu (semula) kutaruh di dekat komputerku. Aku juga sudah pernah mengiriminya sepotong kartu pos di alamatnya itu beberapa waktu lalu. Dari beberapa korespondensi, aku terlanjur merasa telah menyimpan alamatnya baik-baik.

Tapi ternyata aku salah. Seiring dengan datangnya surat itu, spontan aku butuh meyakinkan diriku bahwa aku masih menyimpan alamatnya. Namun, notes tempat aku mencatat alamatnya itu tidak kutemukan. Diburu rasa tidak nyaman di dalam hati karena sudah menghilangkan alamat teman yang baik, aku pun membongkar rimba belantara mejaku. 

Menemukan notes mungil dengan tulisan cakar ayam terseok-seok yang berisi alamat temanku itu ternyata tidak mudah. Di mejaku ada setumpuk notes kecil serupa. Jadi, rasanya sia-sia kalau pun aku tabah membolak-balik selusin notes kecilku itu demi mencari alamat temanku. Di sela-sela gerundelanku, aku menyesal. Kalau saja lebih perhatian, tentulah saat itu aku meluangkan sedikit waktu untuk mencatat alamat temanku dalam buku alamat yang semestinya.

Ya, ya, lupa dan perhatian itu seperti pendulum yang bergerak ke kiri dan ke kanan. Tidak bisa dalam satu saat, orang perhatian dan lupa pada satu hal sekaligus. Pendulum itu pun berayun seirama detakan jam dalam kepalaku. Celakanya, gerakannya lebih sering tertahan di sebelah ke kiri. Iya, aku sering lupa!

Maaf ya, ternyata aku nggak perhatian sama kamu. Aku sudah menghilangkan catatan alamatmu. Sementara, perhatianmu begitu besar. Hhm.. kamu pasti jarang lupa ya?

Momentum

Seorang teman berambut gondrong sebahu tiba-tiba memutuskan untuk memangkas rambutnya. Kemarin, ia muncul dengan model rambut baru. Lebih pendek yang kalau dilihat sepintas mirip-mirip rambut Ariel Peterpan. Hanya saja kalau rambut si Ariel tersibak sempurna dengan sentuhan layer di ujung-ujungnya, model rambut temanku ini justru tidak berbelahan. Meski layernya juga tampak di ujung-ujung, tidak membuat rambutnya terlihat ikal atau bervolume. Rambutnya tetap jatuh, lurus, lempeng. Selempeng orangnya yang berkarakter melankolis nggak neko-neko.  

Ada yang malu-malu memuji, namun banyak yang mengolok-ngolok bikin malu. Temanku yang biasanya cenderung tidak menarik perhatian karena saking kalemnya itu mendadak menjadi magnet perhatian. Perubahan drastis rambut temanku itu pun menuai komentar. Dibalik komentar yang bertubi-tubi tertsirat satu pertanyaan … “Kenapa, sih, kamu potong rambut?” 

Seandainya temanku memangkas rambutnya tepat tanggal 31 Desember, mungkin hujan komentar tidak akan sederas itu. Kupikir hanya akan muncul satu komentar, seperti “Tahun baru, rambut baru!” Titik. Sudah. Tidak pakai bertanya “kenapa”, orang akan lebih mudah menerima perubahan sebesar apapun.

Entahlah. Mungkin sudah menjadi mantera bahwa perubahan harus punya momentum. Dan tahun baru adalah momentum yang tepat untuk memulai sesuatu yang baru, juga mengubah sesuatu yang dianggap basi.

Semua bertanya, “Apa resolusimu?” Seolah semua beranggapan sama bahwa tahun baru harus punya rencana baru untuk memulai sesuatu yang baru. Namun jarang yang menanyakan, “Bagaimana tahunmu yang sudah lewat kemarin?” Seolah semua beranggapan bahwa yang sudah lewat ya biarlah lewat.

Padahal, kalau dipikir lagi, apa bedanya tanggal 1 Januari dengan tanggal 1 Juli? Kupikir hanya kebetulan yang 1 Januari itu mengiringi pergantian tahun, sementara yang 1 Juli berganti bulan.

Ya ya.. Tapi harus kuakui, merencanakan sesuatu di tanggal 1 Januari itu memiliki efek menggugah yang lebih besar dibandingkan bila aku merencanakan di tanggal 1 Maret. Aku pun termasuk orang yang mudah bersemangat karena menghirup aura tahun baru yang membius. Huff, aku termasuk orang yang malas.  Aku memerlukan momentum bahkan untuk mengubah hal-hal kecil dalam diriku sendiri.

Selamat Tahun Baru… Dan selamat membuat resolusi!

Dunia Sophie

Namanya Sophie. Umurnya empat tahun. Bentuk mukanya bulat dengan garis wajah yang tegas. Rambutnya kriwil. Senyumnya selalu mengembang memamerkan empat gigi depannya yang ompong. Aku mengenal ayah Sophie. Dan sepintas, aku melihat wajah ayahnya itu di muka kecil Sophie.

Namanya Sophie Amundsen. Ayah dan ibunya sengaja memberi nama itu dengan harapan Sophie akan selalu berpikir kritis tentang dunia seperti seorang filsuf. Seperti tokoh Sophie Amundsen yang mencoba memaknai dunia ide dan material dalam novel “Dunia Sophie”. Ayah dan ibunya sepertinya punya harapan besar bahwa Sophie akan membentuk sendiri dunianya. Tidak takluk pada keadaan, tidak menyerah pada keputusasaan.

Dunia Sophie pun terbentuk. Harapan ayah dan ibu sepertinya terkabulkan. Sophie yang berbadan gempal mirip seperti gasing yang tidak bisa diam. Bergerak ke sana kemari. Tangannya menggapai, meraih, memegang, menyentuh, mengambil, apapun yang menarik perhatiaannya. Matanya selalu bergerak, mencari apapun yang bisa dijadikannya sebagai bahan mainan. Mulut kecilnya tak henti-hentinya bertanya, meminta, sekaligus menjawab. Riuh sekali. Aku mengenal baik ibu Sophie. Dan dari perjumpaanku dengan Sophie, aku tahu bahwa Sophie kecil banyak belajar dari sang ibu, bagaimana membentuk dunianya.

Siang tadi, adalah perjumpaan pertamaku dengan Sophie. Dan perjumpaan pertamaku dengan ibunya, setelah empat tahun kami tidak bertemu. Ibu dan anak itu begitu sibuk. Bercanda, bercerita. Sophie marah, ibu menenangkannya. Sophie menangis, ibu mendekapnya. Sophie tertawa, ibu membelainya. Sophie berceloteh, tawa ibu berderai. Manis.  

Meski manis, dunia Sophie bukanlah gula-gula. Di usia bocahnya, Sophie sudah harus belajar tentang arti kehilangan. Kanker ganas telah melumat paru-paru ayahnya dan menghentikan daya hidupnya. Setelah satu tahun bergulat melawan kanker, ayahnya pun takluk. Meninggal di usia bilangan 30. Sophie telah kehilangan ayahnya.

Beruntung, Sophie tidak kehilangan dunianya. Ibu yang sabar dan manis selalu ada menemaninya, dan juga menemani dua adik kembar Sophie: Tirto Adi Suryo dan Tirto Adi Samudro.

Tetap tersenyum ya, Sophie!

Kalender

Tahun baru adalah kalender baru. Bagiku, tak ada yang lebih identik dari kedua hal itu.  

Bagaimana tidak? Inilah minggu-minggu di penghujung tahun 2007. Dan di minggu-minggu ini pula kalender bertebaran di toko-toko buku, dijajakan di perempatan jalan, dan dibagi-bagikan sebagai hadiah di pusat-pusat perbelanjaan. Ehm.. termasuk juga dibagikan sebagai jatah di kantor. Dan kemarin, seorang teman lama yang bekerja di pabrik kata-kata pun mengoleh-olehiku kalender ketika berkunjung ke Bandung. (Thx, yak!)

Tentu saja, desain kalender itu bermacam-macam. Ada yang polos tanpa gambar, hanya angka tercetak besar-besar berikut hari dan pasarannya. Namun ada juga yang berhiaskan gambar mulai dari realis, kartun, sampai gambar yang absurd. Dan banyak juga nih yang memasang foto-foto mulai dari pemandangan macam pantai lengkap dengan bulan keemasan, atau peristiwa seperti bencana banjir, anak-anak berseragam mau berangkat sekolah (kalau yang ini kok aku rasanya sering lihat ya?), hingga gambar puitis ala kalender perusahaan rokok yang belakangan iklannya padha bagus-bagus itu.  

Dan tinggal pilih juga, mau yang duduk di meja, atau digantung di dinding.

Kalau aku, untuk di kubikelku jelas lebih suka kalender duduk. Praktis, tinggal melirikkan mata, aku bisa memelototi angka penanggalan di atas monitor kompie. Tapi untuk di kamar, aku tak suka kalender meja. Terlalu serius dan yang jelas terlalu kecil. Aku lebih memerlukan kalender yang bisa berfungsi sebagai penyemarak dinding kamarku.

Tentang kalender, mungkin juga ini yang disebut-sebut sebagai pegangan orang yang mengaku modern yak? Berani taruhan, sejumlah kalender yang dipajang itu pastilah dipenuhi coret-coret: tanda silang, lingkaran untuk menandai hari H pelaksanaan rencana ini itu. Huff.. ya mau bagaimana lagi, kita terlanjur hidup dalam dunia yang memaksa kita punya segudang rencana dalam waktu yang hampir bersamaan. Celakanya, waktu yang bekejaran bikin orang pun mudah lupa. Bahkan utnuk sekadar mengingat: hari ini hari apa, tanggal berapa dan harus ngapa?

Yak, dan jreng.. jreng.. jadilah kalender berkolaborasi dengan agenda harian, menjelma menjadi buku agenda, organizer, atau apapun itu namanya. Kalender ada di hape, di komputer, di jam tangan, ada di mana-mana. Satu hari tanpa melirik kalender rasanya menjadi tidak lengkap. Ingatan terpenggal-penggal, tercecer, dan alhasil bikin rencana bisa berantakan. (Apa iya segitu tergantungnya otak manusia yang mengaku modern pada penanggalan?)

Dan melihat kalender di ujung tahun ini aku seperti tersadarkan. Sebelum aku membuka kalender baruku, aku pun membolak-balik kalender lama. Sepanjang tahun ini aku udah ngapain aja ya? Kalenderku penuh coretan, tapi kok jauh di lubuk hati sana rasanya masih ada yang kosong …

Ah, waktu terlalu cepat berlalu.. Dan aku belum cukup cepat mengejarnya…

Pendek

“Ingatanmu terlalu pendek!”

Begitu kata seorang teman yang suka membanyol kepadaku. Awalnya, aku pikir itu salah satu bayolan barunya. Tapi setelah aku pikir dan pikir lagi, omongannya itu ada benarnya.

Ada ribuan kata dalam otakku. Rasanya, kata-kata itu berseliweran di kepalaku dan siap terlontar keluar. Tapi, begitu ingin melepaskannya satu persatu, beberapa kata itu ngabur entah kemana. Mungkin menyelinap lewat telingaku, atau mungkin terjepit di sela-sela lipatan otakku, atau tercecer di jalan becek. Alhasil, ketika mau mengatakan sesuatu pada seseorang, blesssss … sepertinya mulutku hanya mengeluarkan udara hampa. Lupa mau bilang apa. Dan aku perlu beberapa detik untuk mengumpulkan kata-kata yang tercecer itu. Itu terjadi beberapa kali dalam sebulan ini.

Dan terjadi pula beberapa kali dalam sebulan ini, aku bangun dalam keadaan lelah. Rasanya seperti joging lima lap dalam tidur. Capek. Badan pegel. Mata berat. Dan ketika  berhasil membuka mataku sepenuhnya, aku perlu beberapa detik untuk mengingat hari. Memang nggak penting untuk selalu ingat hari ketika bangun tidur. Tapi rasanya jengkel sekali ketika bangun tidur spontan otakku mendesakku menjawab hari ini hari apa? 

Dan terjadi pula beberapa kali, aku sering lupa apakah sudah mematikan tivi atau belum, di mana menaruh hapeku, sudah mematikan lampu kamar mandi atau belum, sudah mengunci gembok pintu kandang sepeda motor atau belum, ini itu, itu ini, sudah belum, banyak lah! Namun, ketika aku mengecek ulang, ternyata semua sudah dilakukan! Kesimpulannya, aku pun jadi parno dengan sindrom lupaku.

Sebal!

Hmm.. sepertinya aku perlu senam otak!

« Previous PageNext Page »