Ngeblog (lagi)

June 5, 2009

Yak, aku sudah lama lama sekali tidak menulis di blog ini. Dan sekarang aku ingin kembali.  

Jangankan menulis,  menyambangi blog-ku pun lama tidak kulakukan. Pun untuk  berjalan-jalan di blog tetangga. Kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi, ada rasa enggan untuk melakukannya. Aku sendiri tidak tau dari mana asal muasal keenganan itu. Rasa enggan itu seperti kemalasan di hari minggu pagi yang kelabu. Mata terbuka, tapi badan nggak mau diajak ngapa-ngapain.

Namun yang jelas sekarang aku rindu. Rindu berceloteh. Rindu bertukar obrolan sore yang hangat. Toh, obrolan yang terakhir itu selalu aku miliki meski tidak lah aku tulis di sini.

Kupikir aku perlu n ge-blog l agi. Sebab, berhasil mengurai apa yang ada di kepala ternyata menyenangkan.


Kasur

November 14, 2008

Kasur. Iya, itu salah satu obrolan hangat waktu Femi datang ngabandung. Malam itu, setelah kami kenyang dengan secangkir kopi hangat, sosis, dan masih ditambah seporsi nasi kalong dan ubo rampenya, kami mengobrol tentang kasur.

Ternyata, dia orang yang sangat khawatir terhadap debu… (mengherankan memang, melihat pembawaannya yang tampak tidak terlalu bersih :p piss miss!) Dia tidak suka meletakkan kasurnya begitu saja di atas lantai tanpa dipan. Alasannya, ya itu tadi, debu. Menurutnya, debu bikin kasurnya kotor dan tidak aman untuk ditiduri. Entahlah, dia mungkin dalam benaknya itu seperti sleeping with the enemy huehehe …

Tapi aku nggak takut kotor. (Ehm, jadi kayak iklan sabun.) Maksudku, dipan bikin ruangan menjadi lebih sempit. Aku lebih suka meletakkan kasur dengan karpet sebagai alasnya. Ada alasan lain sebetulnya, karena memang ibu kosku tidak menyediakan dipan. Tapi, meski tanpa dipan, aku dan kasurku baik-baik saja. 

Aku dan kasurku – yang tanpa dipan dan ternyata baik-baik saja - itu pun akhirnya diakui Femi. Semalaman, aku memang membagi kasurku dengannya. Kami pun tampak seperti dua beruang kecil yang manis yang berbagi kasur. Suasana kamar jadi hangat. Hangat karena asap persahabatan yang mengepul (ciee ciee) dan tentu saja karena timbunan lemak-lemak di badan kami mau tidak mau bersentuhan (lha mau gimana lagi, kasurku hanya berukuran single 2 m x 1 m).  Angin yang menerobos celah kecil di jendela malam itu jadi tidak terasa dingin.

Beberapa hari setelah itu, si jeng satu itu kirm kartu pos. Mengabari kalau kasur di kamarnya sudah diletakkan sedemikian rupa seperti kasurku. Tanpa dipan. Dan dia mengaku dia dan kasurnya pun baik-baik saja.

Hari ini, Femi akan kembali datang. Kami punya rencana di ujung minggu ini, dan dia akan menginap selama dua malam. Tentu saja, aku secara khusus sudah menyiapkan kasurku. Spreinya sudah kuganti. Wangi. Tapi, kupikir kalau kami tidak tampak seperti dua beruang kecil yang manis yang berbagi alas tidur, itu akan lebih baik. Kali ini aku akan pinjam kasur tetanggaku yang baik saja ah..  Biar Femi seorang saja yang tidur di kasurku.


Istimewa

October 31, 2008

Kalau sebungkus martabak, yang istimewa pastilah memakai telor bebek dobel dan irisan daging yang tebal dan banyak. Harganya tentulah lebih mahal. Lalu, jikalau kota, apa yang membuatnya menjadi istimewa?

Yang jelas, takdir sejarahlah, yang bikin kotaku menjadi istimewa. Di kota ini, roda sejarah meninggalkan jejaknya. Daerah asalku, Ngayogyakarta Hadiningrat, ditetapkan berstatus daerah istimewa Presiden RI pertama, Soekarno 19 Agustus 1945. Status ini diberikan sebagai balasan setelah dua raja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII menyatakan bersedia bergabung dengan negara yang baru lahir, Republik Indonesia pada tanggal 5 September 1945. Ya, kira-kira semacam jaminan bahwa kedua raja itu tetap memiliki kekuasaan yang sama atas wilayahnya.

Dan karena warisan sejarah itulah, di daerah asalku ini Sultan Yogyakarta merangkap sebagai Gubernur Daerah IStimewa Yogyakarta. Itulah yang bikin para pemuja demokrasi menjadi gerah. Kalau di daerah lain, seorang kepala daerah harus bertarung meraih simpati melalui pemilihan langsung. Tapi itu tidak terjadi untuk jabatan Gubernur daerahku. Seperti dalam sejarah kasultanan yang selalu mewariskan kekuasaan, kekuasan gubernur pun ikut diwariskan. Gubernur sekarang ya, Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Warisan itu pula yang bikin politisi di daerahku (dan juga nasional) ribut. (Entah ya, namanya warisan yang berhubungan dengan harta, tahta, dan ehm.. wanita, selalu jadi pusatkeributan.) Satunya kubu pro pemuja demokrasi yang menjunjung pemilihan langsung bagi jabatan gubernur dan di seberangnya ada kubu pro pemuja artefak sejarah yang menganggap bahwa jabatan publik nomor satu di daerahku adalah milik Sultan semata. Mereka sibuk memperdebatkan makna keistimewaan. Ada jalan tengah gak sih?

Wew… kayaknya ada satu hal penting yang dilupakan dalam keributan itu. Yang membuat suatu daerah menjadi istimewa ya jelas orang-orangnya. Dua raja yang benar-benar tahu makna pengorbanan bagi keutuhan bangsa. Dan tentu saja, orang-orang yang hingga kini masih saja suka tersenyum dan selalu berhati nyaman. Sabar dan menerima hidup dalam putaran roda hidup yang berjalan pelan.

Sungguh, itu masih ada di kotaku. Masih ada yang bersedia menjadi abdi dalem meski hanya diberi imbalan tidak lebih dari harga sekilo beras dalam sebulan. Masih banyak simbok pedagang pasar yang tidak mau terlibat dalam persaingan bebas. “Rejeki tidak akan kemana”, begitu kata mereka. Iya, mereka orang-orang yang masih terus mengimani nasehat warisan leluhur.. “Gusti tidak tidur”.


Fakta

October 20, 2008

Dapet kerjaan gak penting dari the girl next door. Dan inilah 10 remahan fakta tentangku.

1. Kruwil. Huehe.. kalau ini sih semua orang juga bakalan tahu begitu bertemu denganku. Yak. Rambutku berombak. Makanya, begitu aku memberi sentuhan dikiiit aja pada rambutku, sejurus kemudian menuai tanggapan. Emang sih, kalo abis creambath apalagi abis potong rambut, rambut kruwilku bakalan tampak jinak. Intinya, ketika potongan rambut cepak abis, kelihatan lurus. Agak panjangan dikit, ya beromba. Nah kalo panjang.. itu nguwel kruwel kruwel. Maka dari itu, aku nggak pernah nyolong waktu kerja buat nyalon … abis bakalan ketauan sih. Susah ngelesnya ..

2. Paling ngeri sama kodok. Mungkin nggak cuma aku yang mengalami ini. Tapi sumpaaah, kalo ngeliat kodok, rasanya kulitku ini langsung berkerut. Detak jantung 10 kali bertambah cepat hingga dada ini rasanya lupa menarik nafas. Otot leher meregang, dan bulu kuduk meremang. Huhuhuhu … aku nggak mau ketemu kodok. Tapi ngeri juga sih sama cicak dan tokek. Whatever… mereka menyeramkan!

3. Pecandu soto. Kalau ada makanan yang nggak ada bosan-bosannya pengen kuseruput, itu pastilah soto. Apalgi nih, kalau soto itu berkuah bening berminyak dengan ayam kampung yang lembut beraroma menggoda. Ya, sebutlah Soto Kadipiro di Yogya, Soto Kudus yang di makan juga di Yogya. Atau kalau soto yang isinya rame pun aku suka, macam Soto Jalan Bank di Purwokerto. Waduh.. adanya cuma enak dan enak banget. Tapi eits, aku nggak terlalu suka soto daging sapi. Rasanya berat di lidah, yaa macam Soto Madura, Soto Sulung, Coto Makassar.

4. Pecinta senja. Banyak orang romantis yang bilang bahwa senja adalah simbol keredupan. Selalu bilang, usia senja. Atau seperti kata lagu Jikustik yang baru “Tetap Percaya”, senja akan berganti fajar. Tapi bagiku, sesuatu di keremangan senja itu sangatlah sentimentil. (aku nggak bisa bilang itu selalu indah.) Langit barat yang memerah jingga, bayangan gedung yang memanjang, matadewa yang tersangkut di ujung menara sana, atau melihat bayangan senja di sebuah lembah antah berantah melalui jendela kereta Lodaya Pagi. Wew… semua itu seperti memutar sebuah lagu di kepala. Kadang hati menjadi hangat kadang juga menjadi senyap .. duh.

 5. Peminum wortel. Iya, aku bilang peminum. Karena aku selalu berusaha memenuhi janjiku pada tubuhku untuk meminum sari wortel seminggu tiga kali. Warna oranyenya segar menerbitkan air liur, penuh beta karoten yang baik untuk mata. Mengandung antioksidan yang baik untuk daya tahan tubuh. Kandungan seratnya konon baik untuk kulit wajah karena mengurangi minyak. Hmm, sumpah kasiat yang terakhir ini kayaknya tidak terbukti. Aku bak selalu jadi remaja puber karena taburan jerawat di wajah. Begitu juga yang kedua, karena mataku tetap saja minus 1.5 dan silinder 0.5. Tidak mengapa. Jus wortel itu segar, apalagi jika dicampur sesendok madu bunga liar. Sruuulp.

6. Pantai. Pantai. Pantai. Iyak, itu tempat liburan favoritku. Rasanya menhirup udara laut yang asin dan bergaram, berenang di pantai sampai badan berbau matahari, rambut gimbal alami, itu menyenangkan! Pantai favorit?  Pantai Ngrenehan!!! (jawaban orang kurang pikinik sebetulnya) Teluk kecil di sebuah rongga pesisir selatan Gunung Kidul ini sungguh menyenangkan. Nggak terlalu jauh dari kota Yogya. Di sini, bisa melihat senja dan bola jingga, melihat bulan perlahan muncul dari balik bukit, mereka-reka rasi bintang, tidur dengan backsound deburan ombak, dan… paginya nyemplung berenang!!  

7. Penikmat teh. Bisa dibilang, ini minuman keluargaku. Waktu kecil, simbah sering bikin teh yang ditempatkan dalam teko porselen. Teh di teko ini rasanya selalu hangat karena tekonya ditaruh sedemikian rupa di dalam sebuah bantalan busa. Teh ini mereknya Tong Ji. Beranjak remaja, ibu selalu membagi segelas teh hangat. Kali ini, tidak ada lagi teko berbantalan busa. Cukup air hangat dalam termos. Kalau mau buat teh, ya tinggal seduh lagi. Teh yang ini mereknya Catut atau Tang. Ya ya, sampai sekarang kebiasaan itu masih berlaku di rumah. Nah, kebiasaan itu masih aku bawa sampai sekarang di tempat baruku. Merek tehnya sih nggak sefanatik zaman dua generasi di atasku. Aku suka teh rasa vanili berbungkus merah dari Malang, atau Walini dari Bandung, atau teh seduh dari gunung Dempo, atau Wonosobo. Malah baru-baru ini, aku diberi Teh Jawa yang marak di Gunung Kidul, dan Teh Prendjak yang kata si pemberi bisa bikin aku ngoceh. Ayo ayo.. ngeteh bareng.

8. Pemerhati kucing. Kalau ada binatang yang bisa membuatku bercerita banyak, itu pasti kucing. Ya, tentu cerita yang menyenangkan. Aku pernah bilang pada the girl next door, bahwa si kucing berwajah gembil berbaju kuning, bertubuh gempal yang selalu berseliweran di muka kosan kami adalah raja preman. Entah dia percaya atau tidak. Atau aku pun bilang bahwa, si Melly kucing ibu kos kami ingin masuk ke dalam rumah. Waktu itu dia tampaknya terpaksa percaya, karena si Melly langsung membututi kami begitu kami masuk. Di rumah, ibuku punya sembilan ekor kucing. Semua ada namanya, tapi aku tidak hafal. Satu yang aku ingat adalah Tam. Dia selalu malu-malu kucing. Waktu aku pulang ke rumah 2 minggu lalu, dia menitipkan salam. Untuk lelaki bersuara semilir angin katanya.

9. Katakan TIDAK pada film horor! Katakan YA pada honor. Eh, nggak nyambung. Aku suka berbagai jenis film, mau nonton film seaneh apapun, asal bukan film horor. Gimana ya? Melihat posternya saja sudah ngeri, lha kok mau coba-coba lihat filmnya. Apalagi kalau judulnya sudah berbau-bau kamboja macam Sarang Kuntilanak, Tusuk Jalangkung, Pulau Setan. Aiiiiy … Tapi, jangan salah, dulu aku suka nonton filmnya Tante Suzanna, macam Beranak dalam kubur, atau Malam Jumat Kliwon, Sundel Bolong. Nggak tahu ya, kayaknya dulu itu dia begitu menjiwai sampai bikin aku penasaran ma film-film itu. Kayaknya dia juga yang akhirnya mematok pakem bahwa hantu harus selalu berbaju putih, berambut panjang awut-awutan, mata menghitam, muka memucat, dan muncul malem hari di tempat sepi banyak pohon gede.

10. Cinta Lansia. Maksudku di sini, aku cinta pada Taman Lansia. Ituuu, taman di Cilaki yang cuman berjarak 10 menit jalan kaki dari kosanku. Nyaman banget berjalan-jalan di situ. Mo joging nyusuri trek yang tersedia juga bersemangat. Janjinya pada tubuhku sih, dua kali seminggu. Biasanya aku olahraga sekitar 30 menit di situ. Namanya juga janji, kadang ya kuingkari. Apalagi kalu bukan karena alasan malas bangun pagi ..

Nah, itu remahan fakta gak penting tentangku. Dan karena ini pesan berantai, maka aku rantaikan lagi ke 10 tetangga berikut ini: Warung Yenti, Kaki Kecil Rani, Ken Terate, Negeri Kata Alex, Munggur, Sari, Dunia Sophie, Rumah Domie, Adidassler, Marput.  

Cara ngerjain PR-nya sebagai berikut:
1. Each blogger must post these rules
2. Each blogger starts with ten random facts/habits about themselves
3. Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their ten things and post these rules. At the end of your blog, you need to choose ten people to get tagged and list their names.
4. Don’t forget to leave them a comment telling them they’ve been tagged and to read your blog.


Curiga

September 25, 2008

Rasanya otak ini begitu sibuk. Membongkar, menimbun, membongkar dan kembali menimbun sesuatu yang selalu saja muncul. Iya, pikiran itu selalu saja melintas seenaknya memotong konsentrasi. Pikiran itu juga tega sekali menaut-tautkan kepingan-kepingan rasa ingin tahu yang melesak-lesak. Semena-mena bikin otakku ini selalu berdenyut-denyut. Duh …

Rasanya otak ini begitu sibuk. Merekam kejadian demi kejadian. Melontarkan pertanyaan demi pertanyaan yang semuanya tidak bisa pula kujawab. Pikiran melayang-layang, mendarat, melayang lagi, lalu mendarat lagi demi merambati lipatan-lipatan otak untuk mencari jawaban. Tapi nihil, tidak ketemu juga.

Otakku ini pun makin sibuk. Menelisik akhir yang pasti untuk sebuah pertanyaan … ah, jangan-jangan …


Pohon

September 18, 2008

Hari ini aku belajar tentang pohon. Aku suka pohon. Pepohonan yang reriungan itu selalu membisikkan cerita yang menenangkan.

Ki Hujan (Samanea saman). Pohon yang satu ini selalu bikin aku jatuh hati. Sosoknya tinggi besar berdaun lebat. Tapi tidak terlalu lebat untuk menghalangi sinar matahari yang hangat. daunnya yang kecil lebat ini dapat mengiris hujan selebat apapun menjadi serinai air embun. Halus. Pertama kali aku mengenalinya di belakang Gedung Sate. Berdiri di sana, seperti tubuh penari kesatrian dengan tangan yang terjulur ke atas. Anggun dan gagah.

Lain lagi dengan Pohon Sosis (Kigelia aethiopica). Ya. Seperti sebutannya, dari kejauhan, pohon ini seperti digelantungi puluhan sosis besar berwarna cokelat. Tapi kalu didekati, mirip seperti pohon keberuntungan dengan gantungan puluhan angpau tebal yang selalu dipajang di mal-mal tiap kali imlek. Aku selalu ingat sosoknya yang unik sedang duduk-duduk di Taman Hutan Raya Juanda di Bukit Dago Pakar. Entah ya, sudah berapa ratus tahun dia berlama-lama memandangi Kota Bandung dari ketinggian sana.

Nah, kalau pohon yang satu ini aku belum tahu namanya. Sama-sama tinggi besar berdaun rimbun. Teduh. Hanya saja, setiap kali bulan Agustus atau September di penghujung kemarau, pohon ini selalu mengeluarkan bau yang khas. Mirip cengkeh bercampur kayu manis beraroma seperti kue bumbu spekuk, on bien kuk. Hmmm… Ketika berbau harum begini, pohon ini juga merontokkan dedaunan kecil berwarna kuning. Buanyaaak sekali. sampai-sampai pak penyapu jalan pasti kewalahan, karena jalanan Citarum, Serayu, dan sekitarnya jadi bertaburan daun kecil kekuningan. Aku sudah memerhatikannya hampir tiga tahun ini. Dan itu artinya, musim hujan akan segera tiba. Hei, kamu … siapa sih namamu?


Cokelat

September 15, 2008

Secangkir cokelat hangat baru saja datang. Ditemani segelas jus mangga masam. Duduk gelisah ditingkahi musik yang resah

Lukisan berbingkai merah di sana menyeringai. Melumatkan wajah letih melunglai

Apa yang kupikirkan                                                                                                                           Tidak ada

Cuma kamu

Bandung, 14/9/08                                                                                                                                PS: Terima kasih sudah menemani


Baru

September 14, 2008

Katanya nih, segala sesuatu yang baru itu menyenangkan. Sederet hal baru yang menyenangkan ketika usia SD apalagi kalau baju baru, sepatu baru, buku baru, tas baru. Dulu, aku selalu pengen menempelkan idung ini berlama-lama di benda-benda itu untuk mengendus kebaruannya.

Meningkat lagi. Ketika usia sekolah menengah, SMP ato SMA, hal baru yang menyenangkan hati sudah beralih. Yang kalo dulu ketika SD dipuja puji setengah mati, di bangku SMA tentu sudah nggak memesona lagi. Trus apa yang menarik dari hal baru? Apalagi kalau bukan teman baru, motor baru, hape baru, pacar baru .. (Hmmm, keknya kalau yang terakhir itu sampai tua pun kayaknya selalu bikin hati berbunga-bungan ya?)

Kalau kuliah, nah ini susahnya. Mungkin bukan wujud fisik lagi yang dicari. Seperti pikirannya yang mulai abstrak (mungkin terlalu banyak menyantap misteri angka, menimbun pemikiran Sartre, atau malah meyakini nihilisme). Kupikir, anak kuliahan mungkin lebih tertarik pada pengalaman baru, ilmu baru, ketrampilan baru..

Ah, aku kok jadi sok tau begini ya? Tentu saja, itu penggolongan usia dan ketertarikan atas kebaruan yang sangat ngawur dan serampangan. Aku cuma mau bercerita bahwa ternyata nggak semua hal baru itu menyenangkan. Seseorang yang lama tapi ingin diperlakukan seperti teman baru bagiku sangat menyebalkan. Tiba-tiba muncul setelah lima tahun nggak bertukar kabar.  Dan munculnya pun tengah malam, seperti pocong, dan ingin diperlakukan seperti teman baru pulak. Huh!

Maaf, persoalannya bukan lagi lama atau baru. Tapi semua itu sudah kuanggap hilang!


Merdeka

August 18, 2008

Ini tidak ada hubungannya dengan hari kemerdekaan. Tapi sungguh, tanggal 17 Agustus ini aku merasa merdeka. Pemilik rumah nomor 8 sedang pergi keluar kota.. yippie!

Ya, hampir 3 tahun ini aku tinggal di rumah nomor 8. Temboknya berwarna merah jambu dengan pintu dan kusen jendela yang berkelir cokelat. Sementara plafonnya bercat putih bersih. Serasi. Di halaman depan, ada pohon delima dan belimbing wuluh yang ribun. Ada juga sebatang pohon yang aku nggak tahu namanya, kalau berbunga wanginya harus ke mana-mana. (Bukan bukan kantil atau kenanga. Kalau itu sih aku tahu. Sepupunya itulah, karena wangi bunganya sama-sama mengingatkan pada aroma kembang mistis) Ya, ya.. pendeknya, rumah nomor 8 ini berpenampilan cantik.

Kamarku nggak kalah cantik. (Kata bahasa iklan, rumah ini cantik di luar cantik di dalam!) kamarku di lantai dua. Punya balkon, meski tidak bisa dipakai untuk kongkow. Aku selalu bilang pada siapapun yang datang berkunjung bahwa kamarku punya pemandangan menarik yang terbaik: dari jendela kamarku, selalu bisa melihat kunang-kunang yang terbang di bukit dago pakar!

Satu lagi poin plus plus rumah nomor 8 ini adalah tempat mencuci baju. Diletakkan khusus. Ada di lantai teratas. Tempat cuci itu setengah tebuka. Sambil mencuci bisa melamun, rambut berkibar ditiup angin semilir dan bikin pikiran menerawang melayang layang sampai Manglayang. Aku suka sekali mencuci di sini meski tanpa mesin cuci, cuma dengan dibantu detergen yang konon katanya bekekuatan 12 tangan. Kegiatan mencuci jadi menyenangkan di rumah nomor 8 ini.

Ah, ya tentu saja, semuanya tidak sesempurna kelihatannya. Harus bayar mahal untuk mendapatkan semua ini. Bukan bukan. Bukan bayaran kos yang mahal, tapi perasaanku yang harus membayar kenyamanan itu jauh lebih mahal…

Ibu pemilik rumah nomor 8 ini sungguh penuh aturan. Aturan di rumah ini mirip dalam buku dongeng seri “tentukan petualanganmu sendiri!” Di setiap lipatan rumah pun ada instruksi. Di pagar masuk: buka tutup pintu harap pelan-pelan. Di pintu masuk ruang induk:sandal yang dipakai di luar tidak boleh di bawa masuk. Di jendela ruang tamu: sandal basah tidak boleh masuk ruangan. Di atas keran cuci piring:jangan jorok!dst.. dst (bagian ini terpanjang, karena sampai ada 3 halaman kwarto!). Di pintu kamar mandi:saklar kiri untuk mengidupkan lampu kamar mandi kiri. Lengkap dengan jargon “orang pintar tidak akan salah tekan”. Dan di balik pintu kamarku pun ada: menerima tamu menginap dua kali dalam sebulan. Dan keterangan di bawahnya ditulis dengan sipdol hitam tebal: pembayaran kos setiap tanggal 20.

Ya, sederet instruksi… Kalau dilanggar, jelas akan terkena pasal perbuatan tidak menyenangkan. Nggak diomelin sih, cuma bakal diomongin pada tetangga kamar yang lain. Huff.. beban perasaan lebih berat.

Tapi tanggal 17 Agustus kali ini, ibu pemilik rumah nomor 8 sedang ke luar kota. Aku pun dengan perasaan ringan menginapkan seorang teman selama dua malam yang tentu sedikit cekikikan malam-malam, memasak cumi asin yang baunya tentu menyengat, menyetel musik kesukaanku menjadi lebih keras, mencuci berlama-lama dengan bersiul ramai. Merdeka sodara-sodara!


Kreatip

August 7, 2008

Kreatip. Ditulis dengan huruf untuk mengganti lafal /ef/. Ya, inilah kreativitas ala Bandung.  Cerah, meriah, berwarna warni. Kalau ada kota berbudaya kreatif yang mengagumkan plus menghasilkan, itu pastilah Bandung. 

Etalase kota yang kreatip ini ada di Lapangan Gasibu akhir minggu lalu. Selama tiga hari, ada hajatannya komunitas clothing dan distibution outlet bertajuk Kickfest 2008. Ini udah kali kedua mereka melaksanakan event itu.

Seperti tajuknya, acara ini ternyata nge-kick betul! Ada 120 unit clothing yang terlibat. Nggak cuma dari Bandung tapi ada juga beberapa yang dari kota-kota lain. Semuanya menjual beragam produk: topi, gelang, tas, sepatu, aksesori dan entah apa lagi. (aku nggak masukis emua stand) Tapi tentu saja namanya juga usaha clothing, ya produknya kebanyakan adalah baju: kaos, celana, kemeja. Semuanya dengan beragam bentuk, warna, dan desain.

Bukan pula Bandung namanya kalo desainnya biasa-biasa saja. Kota ini sudah terlanjur dikenal sebagai Parisj van Java, kiblat fashion tanah air, atau apapun lah itu sebutan sanjungannya. Yang jelas, desainnya memang khas anak muda pop perkotaan. Warna cerah bak taman bunga di bawah langit biru hingga gelap malam mendung yang paling sendu ada dalam desainnya. Potongan bajunya jangan ditanya.. wuih macem-macem pulak.. Ada yang manis imut berkerut merut, sampai yang digemari punk lady pun ada. Pendeknya, tinggal mau cari yang kayak gimana.

Tapi.. eits, jangan keburu antusias. Masuk ke arena Kicfest 2008, apalagi di waktu sore hingga malam, adalah uji kesabaran. Harus rela berdesakan, dan harus mau antre. Semua stand dipenuhi pengunjung. Bahkan, sejumlah stand dengan merek yang sudah dikenal sampai menetapkan pintu masukd an keluar yang berbeda, dan ada jam buka tutup stand. Wew.. Dan hebatnya lagi, keriuhan ini kalau diperhatikan dengan saksama wajah-wajahnya, hampir seluruhnya anak muda usia belasan sampai paling 30an. Yang  terlihat tua dan lelah ya para ortu yang mengantar anak remajanya. Nggak heran, dengan segala biang keriuhan yang ada, transaksi belanja orang-orang yang tumplek-blek itu sampai Rp 15 miliar!

Nah, itulah Bandung. Gerak putar uang itu ditenagai oleh apa? Semata kreativitas dan daya cipta yang amat sangat produktif, atau lebih pada minat orang muda Bandung yang gemar berdandan? Ah, mungkin itu nggak penting. Yang paling penting adalah semua orang pun bangga mematut diri dengan produk-produk lokal ini. Sebut saja 347/eat, Ouval, Rattle, Screamous, Invictus. Memakai merek-merek itu akan terlihat sama kerennya dengan memperlihatkan tulisan Polo, Calvin Klein, atau Ripcurl di kerah baju. 

Bandung emang kreatip!