<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>obrolansenja</title>
	<atom:link href="http://obrolansenja.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://obrolansenja.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Nov 2009 03:09:43 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='obrolansenja.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/2c0d89b0b0424e8229b6ae5e36736ed0?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>obrolansenja</title>
		<link>http://obrolansenja.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>2012</title>
		<link>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/11/19/2012/</link>
		<comments>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/11/19/2012/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 16:09:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryasenja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolansenja.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Temanku yang satu itu unik. Pokoknya unik.
Terakhir waktu mampir ke kotaku, dia pamer. Pamer dengan kaos kaki barunya yang warna hitam putih. Kaos kaki itu baru saja dibelinya di toko lingkaran k (maksa banget ya&#8230;. eh atau berhuruf alpha ya? aku tak ingat).&#8221;Lihat &#8230; kaos kakiku baru!&#8221; katanya sumringah.
Entah kenapa, melihat kaos kakinya yang hitam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=172&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Temanku yang satu itu unik. Pokoknya unik.</p>
<p>Terakhir waktu mampir ke kotaku, dia pamer. Pamer dengan kaos kaki barunya yang warna hitam putih. Kaos kaki itu baru saja dibelinya di toko lingkaran k (maksa banget ya&#8230;. eh atau berhuruf alpha ya? aku tak ingat).&#8221;Lihat &#8230; kaos kakiku baru!&#8221; katanya sumringah.</p>
<p>Entah kenapa, melihat kaos kakinya yang hitam putih itu aku jadi ingat kucingku. Kalau kaos kakinya hitam di ujung jari dan putih di bagian sisanya, kucingku lain lagi. Kaki kucingku putih di ujung jari dan hitam di sisa kakinya.&#8221;Kamu kayak temi.&#8221; kataku tak kalah sumringah.</p>
<p>Ah, ya, temanku itu unik. Pokoknya unik.</p>
<p>Beberapa jam sebelum beli kaos kaki, dia sudah memecahkan pertanyaan tentang sejumlah lalat yang tiba-tiba datang menyergap. &#8220;ngggg.. nggg .. nggg&#8221; begitu suara kepak sayap lalat hijau. Tiba-tiba dia sudah menyergapku dengan analisanya yang tajam, &#8221; aku tau kenapa tiba-tiba lalat-lalat ini muncul!&#8221;</p>
<p>&#8220;He ?&#8221; aku belum mampu menebak ke mana arah pembicaraannya.</p>
<p>&#8220;Ini karena ikannya udah busuk, makanya bau, makanya lalat hijau gemuk ini menyerbu &#8230;&#8221;</p>
<p>Oh, ternyata dia cuma mau bilang bahwa ikan bakar yang kadung kupesan ternyata tidak segar. Analisa tajam dan ujaran yang sungguh berhati-hati.. Sepertinya temanku ini tidak mau merusak suasana makan siang kami.</p>
<p>Memang, temanku itu unik. Pokoknya unik.</p>
<p>Sembari memamerkan kaos kakinya, dia berujar tentang masa depannya. &#8220;Menurutmu apa perlu hidup itu dibikin target?</p>
<p>Wah, entah dari mana dia dapat pemikiran itu. Apa mungkin dari garis di hitam di kaos kaki barunya itu. Atau mungkin dia terinspirasi dari garis hitam putih di tepi trotoar alun-alun. Entahlah. Setahuku, pikirannya selama ini penuh dengan warna dan warni. Warna warni yang suka-suka dia mau dominan warna apa. Nggak pake pola, nggak pake template. Ah, mungkin betul, dia terinspirasi dari garis hitam di kaos kaki barunya.</p>
<p>&#8220;Perlu ya? baiklah. Aku akan buat target. Tiga tahun lagi aku tahu akan jadi apa!&#8221; katanya penuh tekad.</p>
<p>&#8220;Lha kamu sekarang belum jadi apa-apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pokoknya, tiga tahun lagi&#8221;</p>
<p>Wah .. <em>anyar iki</em>. Ya, baiklah, kita lihat tiga tahun lagi&#8230;. Itukan janji? Lha, itu kan 2012! Ah, kamu seperti film saja &#8230;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolansenja.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolansenja.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolansenja.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolansenja.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolansenja.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolansenja.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolansenja.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolansenja.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolansenja.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolansenja.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=172&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/11/19/2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f81991c7abbf772b674fcd176c6a43a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryasenja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dan Ibu Icoh Menang, Lagi</title>
		<link>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/11/18/dan-ibu-icoh-menang-lagi/</link>
		<comments>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/11/18/dan-ibu-icoh-menang-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 14:06:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryasenja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolansenja.wordpress.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Ibu Icoh menang. Suara tepuk tangan terdengar memenuhi ruangan. Suara tepuk tangan melintas gang, dan sampai di kamarku. Ibu Icoh menang, lagi. Ia kembali dipilih warga untuk jadi ketua RW 12 untuk periode tiga tahun ke depan.
Pemilihan itu berlangsung cepat dan tanggap. RW 12 bikin acara pemilihan ketua setelah sejumlah RW tetangganya menyelenggarakan acara serupa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=170&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ibu Icoh menang. Suara tepuk tangan terdengar memenuhi ruangan. Suara tepuk tangan melintas gang, dan sampai di kamarku. Ibu Icoh menang, lagi. Ia kembali dipilih warga untuk jadi ketua RW 12 untuk periode tiga tahun ke depan.</p>
<p>Pemilihan itu berlangsung cepat dan tanggap. RW 12 bikin acara pemilihan ketua setelah sejumlah RW tetangganya menyelenggarakan acara serupa minggu sebelumnya. Nggak pakai kampanye itu ini, apalagi politik uang buat bikin acara ini itu. Tampaknya semua dilakukan serba sederhana.Aku sudah tahu dua minggu sebelumnya dari bapak kos, kalau akan ada pemilihan ketua RW. Yang jadi calon ada tiga orang, yang masing-masing sudah dihubungi personal (plus dibujk rayu) oleh para sesepuh. Tapi entah ya, siapa para sesepuh itu.</p>
<p>Soal Ibu Icoh ini, terus terang aku tidak tahu. Aku hanya tau kalau si ibu ini adalah pemilik rumah kos yang berjarak beberapa meter dari rumah kosku. Kalau saja tidak ada pengeras suara saat penghitungan suara, aku pun tidak tahu kalau Ibu Icoh menang, lagi. Ia menangdengan suara 77. Melebihi dua rivalnya yang dapat suara masing-masing 55 dan 32.</p>
<p>Ibu Icoh langsung didaulat memberikan sambutan oleh warga sesaat setelah dia ditetapkan sebagai pemenang. Tanpa ba bi bu, ia bicara seperlunya, intinya bilang terima kasih atas kepercayaan warga. Dan langsung membubarkan panitia pemilihan dengan catatan semua laporan berita acara pemilihan harus sudah jadi pada hari besoknya. Tidak bertele-tele. Kudengar, semua puas, semua senang. Suara tawa dan tepuk tangan memenuhi ruangan. Warga sepertinya senang betul dengan Ibu Icoh sampai-sampai dia dipilih untuk kali kedua sebagai ketua RW. Acara diakhiri dengan makan bersama.</p>
<p>Ah, kalau saja semua pemimpin disayangi warganya pastilah pemilihan ketua atau kepala itu ini bakal berlangsung sangkil dan mangkus macam pemilihannya Ibu Icoh. Nggak perlu make kampanye yang boros-borosin duit, nggak perlu merapat ke sana sini bikin grup itu ini dan nggak perlu bikin janji-janji tak bertepi menjual pete hampa. Ibu Icoh aja bisa tuh kepilih lagi &#8230;</p>
<p>Hidup Ibu Icoh!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolansenja.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolansenja.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolansenja.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolansenja.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolansenja.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolansenja.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolansenja.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolansenja.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolansenja.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolansenja.wordpress.com/170/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=170&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/11/18/dan-ibu-icoh-menang-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f81991c7abbf772b674fcd176c6a43a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryasenja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Letter from Beyond</title>
		<link>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/10/25/letter-from-beyond/</link>
		<comments>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/10/25/letter-from-beyond/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 13:50:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryasenja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolansenja.wordpress.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Pada sebuah malam. Tanpa sengaja aku bertemu Qisha dan Reno, sebuah kisah imajiner dari masa lalu yang jauh. Masa lalu yang jauh milik seorang lelaki dengan sekuntum bunga yang selalu menguncup di tangannya.
Qisha dan reno muncul dalam sebuah surat setahun yang lalu. Surat yang ditujukan kepada entah. Lelaki itu menulisnya ketika malam yang murung tengah mengurung.
Qisha [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=163&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pada sebuah malam. Tanpa sengaja aku bertemu Qisha dan Reno, sebuah kisah imajiner dari masa lalu yang jauh. Masa lalu yang jauh milik seorang lelaki dengan sekuntum bunga yang selalu menguncup di tangannya.</p>
<p>Qisha dan reno muncul dalam sebuah surat setahun yang lalu. Surat yang ditujukan kepada entah. Lelaki itu menulisnya ketika malam yang murung tengah mengurung.</p>
<p>Qisha dan Reno adalah penyesalan lelaki itu. Menyesali waktu yang tidak memihak. Menyesali langkah yang abai menapak. Menyesali kasih yang salah memilih. Ia tidak hendak meminta waktu kembali. Tapi ia hanya ingin merasai sejenak kenangan yang dulu pernah dicecapnya. Pun waktu tak sudi menoleh. Penyesalan pun membeku, awet seperti bunga di tangannya yang tidak akan pernah mekar. Bunga dengan kelopak merah darah yang selalu bergelung di ujung tangkainya yang menghijau. Ranum. Tak mekar. Tak juga layu.</p>
<p>Qisha dan Reno akan terus ada dalam lipatan ingatan. Cerita masa lalu yang tak terhapus dan tak tertebus.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolansenja.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolansenja.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolansenja.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolansenja.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolansenja.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolansenja.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolansenja.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolansenja.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolansenja.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolansenja.wordpress.com/163/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=163&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/10/25/letter-from-beyond/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f81991c7abbf772b674fcd176c6a43a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryasenja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kejujuran Lidah</title>
		<link>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/09/18/kejujuran-lidah/</link>
		<comments>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/09/18/kejujuran-lidah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 12:46:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryasenja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolansenja.wordpress.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Memang lidah nggak bisa bohong.
Aku setuju dengan iklan mie instan di televisi yang mengangkat kejujuran lidah. Terlepas dari iklan itu berlebihan atau nggak, tapi dalam praktek nyata pameo itu sudah terbukti. Setidaknya di tempatku bekerja.
Menjelang hari raya seperti sekarang ini, kiriman makanan mendadak mbanyu mili bak air mengalir. Dari relasi itu ini, dari hotel ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=156&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Memang lidah nggak bisa bohong.</p>
<p>Aku setuju dengan iklan mie instan di televisi yang mengangkat kejujuran lidah. Terlepas dari iklan itu berlebihan atau nggak, tapi dalam praktek nyata pameo itu sudah terbukti. Setidaknya di tempatku bekerja.</p>
<p>Menjelang hari raya seperti sekarang ini, kiriman makanan mendadak mbanyu mili bak air mengalir. Dari relasi itu ini, dari hotel ini itu. Seminggu terakhir ini, meja urusan logistik di tengah ruangan pun penuh makanan: makanan kemasan pabrikan, minuman kaleng, kue-kue kering dalam kemasan plastik yang cantik, dan kue-kue tart berdekorasi aduhai. Bingkisan makanan ini menlengkapi sajian makanan kecil yang sering tampil dari para simpatisan yang berbaik hati membagi menu berbukanya. Makanan kecil yang sering muncul dari para simpatisan ini seperti: agar-agar made in Nanik, gorengan tahu, tempe, cireng, yang sering dibeliin Nanik, Martabak telor atau lunpia favorit Luhur.</p>
<p>Nah, bak panggung aduan, ternyata makanan yang kerap muncul berbarengan ini beradu laris. Ternyata yang paling cepat tandas adalah gorengan! Gak peduli apa yang digoreng, entah martabak yang agak berkelas kaki lima mahalan dikit, tempe yang cokelat gelap karena memakai minyak 10 kali pakai, hingga cireng kenyal alot karena sudah dingin, lebih cepat laris manis tanjung kimpul. Sementara, bingkisan hotel yang cantik menik-menik itu ternyata lebih sering mengendap dulu di kulkas untuk disajikan lagi  besok sorenya.</p>
<p>Mungkin inilah yang disebut selera dan cita rasa. Bicara soal rasa, memang lidah nggak bisa bohong. Soal kelas dari mana asal muasal makanan dan bagaimana penyajiannya? Halaagh &#8230;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolansenja.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolansenja.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolansenja.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolansenja.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolansenja.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolansenja.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolansenja.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolansenja.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolansenja.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolansenja.wordpress.com/156/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=156&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/09/18/kejujuran-lidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f81991c7abbf772b674fcd176c6a43a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryasenja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Toko Kue Ibu-ibu</title>
		<link>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/09/18/toko-kue-ibu-ibu/</link>
		<comments>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/09/18/toko-kue-ibu-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 09:04:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryasenja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolansenja.wordpress.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Aku masih mengantuk. Tapi, ini adalah pagi yang sibuk. Nggak peduli jam masih menunjukkan pukul 06.00, tapi aku sudah memaksa diriku untuk beringsut. Aku musti mempersiapkan diriku untuk menembus kerumunan ibu-ibu! Aaah, pagi-pagi dan ibu-ibu yang mengerumuni kue fresh from the oven, jelas bukan perpaduan kata favoritku. Apalagi dua hari menjelang liburan Lebaran seperti hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=154&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Aku masih mengantuk. Tapi, ini adalah pagi yang sibuk. Nggak peduli jam masih menunjukkan pukul 06.00, tapi aku sudah memaksa diriku untuk beringsut. Aku musti mempersiapkan diriku untuk menembus kerumunan ibu-ibu! Aaah, pagi-pagi dan ibu-ibu yang mengerumuni kue fresh from the oven, jelas bukan perpaduan kata favoritku. Apalagi dua hari menjelang liburan Lebaran seperti hari ini.</p>
<p>Bukan toko kue di Kota Bandung namanya kalau tidak dipadati ibu-ibu. Jangankan yang bangunannya magrong-magrong di pinggir jalan protokol, yang di gang sempit pun asal sudah punya nama pastilah ramai. Salah satunya ya toko kue di Jalan Kamuning ini.</p>
<p>Bronis panggangnya terkenal garing dengan cokelat legit yang manisnya pas. Sementara di etalasenya dipenuh dengan kue-kue basah mulai dari jajanan pasar hingga bolen, pastel, dan schootel ala negeri Belanda. Belum lagi kue kering dan camilan dalam kemasan-kemasan plastik yang cantik itu&#8230; Rasanya? Jelas boleh diadu.</p>
<p>Nggak heran, toko kue ini selalu jadi incaran ibu-ibu yang punya acara keluarga, ibu-ibu yang mau bikin arisan,  ibu-ibu yang suka ngemil, pelancong ibu-ibu yang berwisata kuliner ke Kota Bandung. Lha kok semua ibu-ibu? Ya memang kebanyakan yang dateng ibu-ibu. Kalau nggak percaya, datang saja ketika toko baru buka pukul 07 sampai mau tutup pukul 20!</p>
<p>Tapi berkat ibu-ibu yang selalu-teliti-mengamati-kue-dan-riuh-bertanya-itu-ini-tentang-harga-dan-rasa inilah aku pun yakin bahwa toko kue yang satu ini memang masuk kategori highly recommeded. Dan pagi ini, kembali aku mempersiapkan diri untuk menembus kerumunan ibu-ibu yang selalu-teliti-mengamati-kue-dan-riuh-bertanya-itu-ini-tentang-harga-dan-rasa itu.</p>
<p>Dengan tak kalah cekatan dengan para ibu itu, aku memasukkan ke dalam kerangjang belanja: satu bronis panggang rasa keju, dua cake pisang panggang, dan satu bolu ketan hitam pandan kukus. Plus satu plastik kue kering almond. Kubayar dan lantas kutata rapi dalam tas merah marun. Aku pun pulang dengan hati riang. Besok, penganan itu akan kujejer di meja makan di rumah. Kue-kue itu pesanan ibuku.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolansenja.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolansenja.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolansenja.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolansenja.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolansenja.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolansenja.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolansenja.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolansenja.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolansenja.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolansenja.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=154&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/09/18/toko-kue-ibu-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f81991c7abbf772b674fcd176c6a43a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryasenja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tak Ada Waktu Untukmu</title>
		<link>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/08/31/masih-tentang-mbak-cantik/</link>
		<comments>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/08/31/masih-tentang-mbak-cantik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 09:44:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryasenja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolansenja.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Dia memang cantik. Bentuk wajah serupa hati dengan dagu meruncing. ada gurat halus di dagu saat dia tersenyum. Ya, senyumnya sungguh menawan apalagi dengan lesung di pipinya. Sepintas, mirip Tante Desi Ratnasari.
Penampilannya pun menarik. Stelan bajunya serasi dengan tas dan sepatunya. Kalau blazernya cokelat tua, untuk dalamannya ia memakai blus putih berkerah kerut merut ala [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=147&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://obrolansenja.wordpress.com/2009/08/27/cerita-tentang-mbak-cantik/">Dia</a> memang cantik. Bentuk wajah serupa hati dengan dagu meruncing. ada gurat halus di dagu saat dia tersenyum. Ya, senyumnya sungguh menawan apalagi dengan lesung di pipinya. Sepintas, mirip Tante Desi Ratnasari.</p>
<p>Penampilannya pun menarik. Stelan bajunya serasi dengan tas dan sepatunya. Kalau blazernya cokelat tua, untuk dalamannya ia memakai blus putih berkerah kerut merut ala gothik. Sebagai padanannya, celana berbahan drill warna cokelat muda yang dipadukan dengan tas dan sepatu warna senada. Elegan. Meyakinkan. Perempuan itu mengaku bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan daerah milik Provinsi Jabar.</p>
<p>Tadi pagi, dia kembali datang dengan senyum mengembang. Bergaya kasual dengan celana jeans 3/4 dan atasan blus kotak yang longgar. Tetap cantik dan menarik. Menyapaku dengan caranya yang khas: menggenggam tangan, menggamit lengan, dan mencium pipi. Tapi, seperti yang sudah-sudah, ia masih saja gemar mengumbar cerita yang tak benar.</p>
<p>Maaf, kali ini aku tidak punya waktu ngobrol panjang lebar denganmu. Aku sudah tahu tentangmu, suamimu, dan tanggungan hutang-hutangmu! Sudah cukup kamu mempermainkanku.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolansenja.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolansenja.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolansenja.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolansenja.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolansenja.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolansenja.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolansenja.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolansenja.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolansenja.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolansenja.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=147&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/08/31/masih-tentang-mbak-cantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f81991c7abbf772b674fcd176c6a43a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryasenja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita tentang Mbak Cantik</title>
		<link>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/08/27/cerita-tentang-mbak-cantik/</link>
		<comments>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/08/27/cerita-tentang-mbak-cantik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 14:51:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryasenja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolansenja.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Gaduh saat masak? Atau bersenandung riang kala mencuci baju? Atau terlalu tergesa menutup pintu pagar hingga menimbulkan suara berisik? Atau cekikikan saat terima late night phone call? Kalau kamu penghuni rumah kos nomor 8, jangan coba-coba melakukan hal seperti itu! Dijamin, kamu bakal kena pasal perbuatan yang tidak menyenangkan.
Sudah kondang seantero gang, rumah kos nomor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=144&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Gaduh saat masak? Atau bersenandung riang kala mencuci baju? Atau terlalu tergesa menutup pintu pagar hingga menimbulkan suara berisik? Atau cekikikan saat terima late night phone call? Kalau kamu penghuni <a href="http://obrolansenja.wordpress.com/2008/08/">rumah kos nomor 8,</a> jangan coba-coba melakukan hal seperti itu! Dijamin, kamu bakal kena pasal perbuatan yang tidak menyenangkan.</p>
<p>Sudah kondang seantero gang, rumah kos nomor 8 ini seperti rekaman adegan film rekaan &#8220;membaca di perpustakaan&#8221;. Sungguh toto titi tentrem adem ayem. Tak ada gejolak harga minyak apalagi huru hara. Tulisan berukuran besar yang nempel di kaca jendela ruang tamu menegaskan kondisi ini: <strong>Kos putri baik-baik.</strong></p>
<p>Memang awalnya nggak mudah menerjemahkan kata &#8220;baik-baik&#8221;. Tapi dari aturan yang diterapkan, kriteria baik-baik adalah tidak berbicara keras-keras, tidak berisik saat nyuci baju, tidak sok bersenandung merdu saat nyuci baju, tidak gaduh saat memasak, tidak memasak makanan berbau tajam, selalu rajin beberes kamar, tidak lupa mematikan lampu kamar mandi, tidak boros air, kalau nyimpen makanan di lemari nggak sampe basi busuk, kalau jalan berjingkat-jingkat, tidak malas menjejer rapi sepatu dan sandal di rak yang sudah disediakan.</p>
<p>Banyak? Ah, itu relatif. Itu baru sedikit bagian dari deret ukur kebaikan ala rumah kos nomor 8. Apakah aku masuk kriteria baik-baik? Ya, sudah pasti! Aku sudah bertahan tiga tahun lebih di rumah itu. (untuk prestasi yang satu ini aku sendiri juga heran, hehehe)</p>
<p>Ah, tapi itu cerita lalu. Saat ini, sepertinya angin perubahan sedang berhembus lewat ventilasi. Semilir, menyejukkan, memberi harapan. Sang pemilik rumah kini lebih toleran.</p>
<p>Toleran?? Iya, toleran. Seminggu ini warga rumah kos nomor 8 sungguh riang. Sedikit canda tawa jam 4 subuh sungguh tak mengapa. Tetangga malah ada yang pacaran di pagar rumah saat sudah lewat jam malam. Ada juga yang teledor menjatuhkan panci pas nyuci jam 10 malam tanpa kena teguran.Ada lagi yang dengan sengaja menaruh begitu saja tumpukan sayur mayur bercampur panci dan piring kotor.</p>
<p>Bukan, bukan karena berkah Ramadhan atau hal-hal religius lainnya. Tapi dugaanku yang ngawur dan serampangan mengatakan ini adalah perubahan kecil yang dibawa oleh si mbak cantik nan gemar berbohong.Si mbak cantik berpenampilan menarik ini jadi warga rumah kos nomor 8 terhitung pada Februari lalu.</p>
<p>Tapi kemunculan si mbak cantik ini seolah mengguncang tatanan kebaikan. Si mbak berpenampilan baik dan berjemari lentik ini ternyata kelakuannya nggak baik: tukang ngutang dan ngemplang. Ia menghilang setelah ketahuan mangkir bayar kos selama 3 bulan, ngutang uang pulsa beberapa ratus ribu, dan sok belaga lupa harus bayar utang ke tetangga-tetangganya. Si mbak cantik ini sudah tidak kelihatan jemari lentiknya selama enam bulan terakhir. Paraaaaaah!</p>
<p>Nah, mungkin karena awalnya si mbak cantik ini penampilannya dan unggah ungguhnya masuk kriteria baik-baik, maka ia dapat puja puji dari sang pemilik rumah kos nomor 8. Tapi, lama-lama ya keliatan belangnya. Sekarang sang pemilik keliatannya mulai hilang sabar buat nungguin si mbak cantik balik ke kos buat ngelunasin semua utangnya. Dan mungkin karena itu juga, sang pemilik mulai berpikir ulang dengan deret ukur kebaikan yang sudah diterapkan.</p>
<p>Yang jelas, kendornya ukuran kebaikan ini bikin warga bernafas sedikit lega. Udara ruangan terasa lebih segar, ceria, ringan, dan gembira. Hayo&#8230; tebaak, bertahan berapa lama seperti begini?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolansenja.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolansenja.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolansenja.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolansenja.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolansenja.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolansenja.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolansenja.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolansenja.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolansenja.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolansenja.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=144&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/08/27/cerita-tentang-mbak-cantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f81991c7abbf772b674fcd176c6a43a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryasenja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manis, tapi Jual Mahal</title>
		<link>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/07/16/manis-tapi-jual-mahal/</link>
		<comments>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/07/16/manis-tapi-jual-mahal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 08:07:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryasenja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolansenja.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Aku suka buah mangga. Di setiap musim mangga, hampir setiap minggu aku membungkus sekilo. Aku membelinya pada si bapak penjual buah langganan.
Ya, hanya mangga yang bisa membuatku datang rutin pada si bapak. Mangga arum manis. Tidak ada yang lain. Padahal, si bapak yang punya lapak kecil ini tidak hanya menjual arum manis, masih ada manggga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=135&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Aku suka buah mangga. Di setiap musim mangga, hampir setiap minggu aku membungkus sekilo. Aku membelinya pada si bapak penjual buah langganan.</p>
<p>Ya, hanya mangga yang bisa membuatku datang rutin pada si bapak. Mangga arum manis. Tidak ada yang lain. Padahal, si bapak yang punya lapak kecil ini tidak hanya menjual arum manis, masih ada manggga golek, mangga gedong gincu, kelengkeng, jeruk medan, jeruk pontianak, tergantung mana yang sedang musim.</p>
<p>Mangga si bapak memang jaminan mutu. Dagingnya tebal, buahnya  besar. Harum, dan rasanya pasti manis. Dia bilang, mangga ini diadatangkan dari Jawa Timur, Probolinggo, atau Nganjuk. Entah dari mana jatim sebelah mana lagi, aku tidak peduli. Yang pasti rasanya beda dengan yang kubeli di lapak pinggir jalan, atau di pasar dekat kos, atau di supermarket. Di tempat coba-coba itu, aku perlu nasib baik untuk mendapatkan mangga yang manis. Makanya, karena malas mencoba-coba, akhirnya lagi-lagi aku kembali pada si bapak. Di lapak di emperan toko kelontong itu, aku cuma perlu memilih mangganya dan memasukkannya dalam timbangan. Insting, kepekaan, nasib baik, ah, aku abaikan saja. Sudah pasti mangga yang kubungkus harum dan manis!</p>
<p>Tapi, <em>ono rego ono rupo</em>. Si bapak ini tahu betul memanfaatkan konsumen loyal yang bego macam aku ini. Iya, aku bego karena aku tak juga mampu menemukan tempat jualan mangga yang seenak dan semanis punya si bapak. Praktis, bagiku, si bapak tak punya kompetitor. Aaaah, dan dia sepertinya tau hal ini. Meski aku sudah bolak balik beli sama dia, tetap saja dia selalu menjual harga di atas harga pasaran. Contohnya begini, kalau di pasaran &#8211; ketika mangga sedang banyak-banyaknya di jalanan &#8211; harganya enam ribu per kilo isi empat biji . Nah, si bapak action dengan 10 ribu per kilo isi tiga biji. Tetap kubeli saja. Lha, mau bagaimana lagi, mangganya lebih manis dan besar.</p>
<p>Nah, si bapak barusan berulah lagi. Minggu kemarin aku membelinya masih di harga dua belas ribu lima ratus perak! Seperti biasa, sekilo isi tiga buah. Eh, siang ini kubeli malah di harga lima belas ribu! Kali ini memang lebih besar sih, sekilo isi dua biji. Aku pun mengomel.</p>
<p>+ <em>Lha, bapak ini gimana? biasanya orang jualan makin lama makin murah, ini malah makin mahal, padahal baru seminggu! </em></p>
<p>- <em>Enggak, Neng, ini juga sudah murah. Bener, rasanya manis. Soalnya barangnya udah gak banyak</em>.<em> (</em>dengan<em> </em>rayuan<em> </em>semanis mangga tentu saja<em>)<br />
</em></p>
<p>Dooooh! Lagi-lagi aku menyerah. Ya, memang sih, musim mangga ini belum pada puncaknya. Aku belum melihat penjual mangga dadakan di jalanan. Tapi tetap saja itu tidak membuatku berhenti ngedumel. Dan tetap saja, meski menggerutu, aku menganggsurkan selembar sepuluh ribuan dan lima ribuan.</p>
<p>Jadi, ada yang tau nggak, tempat jualan mangga arum manis yang bener manis tapi penjualnya gak jual mahal?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolansenja.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolansenja.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolansenja.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolansenja.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolansenja.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolansenja.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolansenja.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolansenja.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolansenja.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolansenja.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=135&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/07/16/manis-tapi-jual-mahal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f81991c7abbf772b674fcd176c6a43a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryasenja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak Naga</title>
		<link>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/07/07/132/</link>
		<comments>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/07/07/132/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 16:50:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryasenja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolansenja.wordpress.com/2009/07/07/132/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Hanya kegelisahan yang usulnya tak jelas.&#8221;
Itulah tulisan terakhir Ryunosuke kepada sahabatnya. Dalam cengkeraman kegelisahan yang begitu kuat, Ryunosuke akhirnya memilih mati dengan menelan berbutir-butir pil penenang pada 24 Juli 1927. Si anak naga peletak dasar penulisan cerpen dan novelet Jepang ini mengakhiri hidupnya pada usia 35 tahun.
Ryunosuke lahir dari pasangan Toshizo Niihara dan Fuku pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=132&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&#8220;Hanya kegelisahan yang usulnya tak jelas.&#8221;</p>
<p>Itulah tulisan terakhir Ryunosuke kepada sahabatnya. Dalam cengkeraman kegelisahan yang begitu kuat, Ryunosuke akhirnya memilih mati dengan menelan berbutir-butir pil penenang pada 24 Juli 1927. Si anak naga peletak dasar penulisan cerpen dan novelet Jepang ini mengakhiri hidupnya pada usia 35 tahun.</p>
<p>Ryunosuke lahir dari pasangan Toshizo Niihara dan Fuku pada tanggal 1 Maret 1892 di Tokyo. Dalam kalender Jepang, tanggal lahirnya  bertepatan dengan hari Naga Air dan tahun Naga Air. Karena itu ia dipanggil Ryunosuke yang berarti anak naga. Ketika usianya tujuh tahun, Fuku ibunya menderita sakit jiwa. Peristiwa ini begitu membekas bagi Ryunosuke hingga persoalan kejiwaan tergambar jelas pada sejumlah karyanya di kemudian hari.</p>
<p>Karirnya sebagai penulis cerpen dimulai dengan &#8220;Ronen&#8221; (1914). Ryunosuke menerbitkan cerpen itu pada majalah sastra yang didirikannya bersama dua teman kuliahnya di jurusan Sastra Inggris Universitas Kekaisaran Tokyo. Tapi, namanya mulai dikenal ketika ia menulis &#8220;Rashomon&#8221; (1915). Pada cerpen itu, ia mulai memakai nama Akutagawa Ryunosuke.</p>
<p>Sejak itu, tak kurang ada 30 cerpen dan novelet lahir dari penanya selama 12 tahun karir menulisnya. Gayanya mengawinkan realis dan surealis. Gaya bertuturnya pelan, detil, dan sering mengundang nuansa asing yang senyap. Tokoh cerita acap kali tenggelam dalam konflik batin yang pekat.</p>
<p>Kegelisahan tergurat dalam sejumlah cerpennya. Dalam &#8220;Rashomon&#8221; atau pintu gerbang, ia melukiskan pikiran seorang Genin, samurai kelas rendah saat dihadapkan pada kehancuran Kota Kyoto. Di antara mayat-mayat bergelimpangan, Genin ini muak dengan seorang nenek yang hidup dengan menjual rambut para mayat untuk dibuat cemara. Tapi ia pun tak berdaya menahan perutnya yang lapar. Pada akhir cerita, Genin ini malah merenggut baju si nenek untuk dijual.</p>
<p>Lain lagi dengan &#8220;Hana&#8221; atau hidung (1916) yang bertutur tentang seorang pendeta dengan hidung sepanjang 16 cm. Hidung itu sungguh merepotkan karena bergelayut mulai dari atas bibir hingga melewati dagu. Dengan perlahan dan detil, diceritakan bagaimana perang batin sang pendeta yang ingin memendekkan hidungnya. Namun, ketika hidungnya memendek, ia justru tak bahagia dan ingin hidung panjangnya kembali.</p>
<p>Ryunosuke sempat bekerja sebagai wartawan dan ditugaskan ke China pada tahun 1921. Namun sepulang dari daratan Tiongkok, ia menderita 	schizophrenia. Ia jadi sering berhalusinasi. Meski demikian ia masih menulis. Salah satu tulisannya yang imajinatif adalah Kappa (1927) yang disebut-sebut sebagai kritik sosial atas masyarakat urban Jepang pada massa itu. Dalam ceritanya, Kappa adalah hewan imajiner dengan kehidupan mirip seperti manusia.</p>
<p>Kegelisahan demi kegelisahan terus menghantuinya. Ia takut menjadi gila. Seiring dengan penyakitnya yang makin parah, Ryunosuke mengalami masalah keuangan. Akhirnya ia kelelahan dan memilih mati. Tahun 1935, namanya diabadikan sebagai penghargaan sastra bergengsi bagi para penulis baru.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolansenja.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolansenja.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolansenja.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolansenja.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolansenja.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolansenja.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolansenja.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolansenja.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolansenja.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolansenja.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=132&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/07/07/132/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f81991c7abbf772b674fcd176c6a43a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryasenja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imogayu</title>
		<link>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/07/05/imogayu/</link>
		<comments>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/07/05/imogayu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 13:50:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryasenja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://obrolansenja.wordpress.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Atau dalam bahasa kita adalah bubur ubi. Ubi yang direbus bersama cairan gula hingga lumat? Tak yakin aku akan menyukainya.
Tapi ada bubur ubi yang bikin penasaran. Ini gara-gara aku baru saja membaca cerita pendek  Akutagawa Ryunosuke. Dalam cerita yang berseting zaman samurai tahun 885-889 itu, semangkuk bubur ubi hangat adalah makanan yang lezat lagi enak. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=126&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Atau dalam bahasa kita adalah bubur ubi. Ubi yang direbus bersama cairan gula hingga lumat? Tak yakin aku akan menyukainya.</p>
<p>Tapi ada bubur ubi yang bikin penasaran. Ini gara-gara aku baru saja membaca cerita pendek  <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ry%C5%ABnosuke_Akutagawa" target="_blank">Akutagawa Ryunosuke</a>. Dalam cerita yang berseting zaman samurai tahun 885-889 itu, semangkuk bubur ubi hangat adalah makanan yang lezat lagi enak. Makanan ini biasa disajikan pada hari-hari perayaan di rumah para bangsawan atau kerajaan.</p>
<p>Nah, tersebutlah seorang <em>goi</em>, samurai kelas rendah yang sangat menyukai bubur ubi. Goi ini digambarkan sangat lugu hingga cenderung bodoh. Kerap dicaci dan dihina, tapi ia tak pernah marah. Bukannya dia penyabar, tapi memang dia tidak sadar bahwa dirinya sedang direndahkan. Ia bertubuh pendek ceking, berpenampilan lusuh, dan sebilah pedang yang kusam. Pendeknya, ia tak layak berperang. Sepanjang hidupnya, goi berusia 40-an tahun ini selalu mendambakan bisa makan bubur ubi sepuasnya.</p>
<p>Hingga suatu hari tibalah hari gembira itu. Ia dijamu makan oleh seorang bangsawan filantropis kaya raya. Bangsawan itu masih kerabat keluarga yang mempekerjakan si goi. Di rumah bangsawan itu, ia bisa menyaksikan bagaimana para pembantu menyiapkan bubur ubi untuknya. Para pembantu itu tak mengupas  sebuah ubi, tapi puluhan. Ya, puluhan ubi yang mirip talas berukuran betis orang dewasa itu menggunung di dapur, menunggu untuk dikupas dan dicemplungkan ke kuali perak berukuran besar.</p>
<p>Melihat proses itu, si goi mulai kehilangan selera. Begitu kuali perak besar berisi bubur ubi tersaji di ruang makan, goi pun merasa perutnya mual. Keringat dingin mengucur deras di dahinya, lengannya, dan perutnya. Tapi demi menghormati tuan rumah yang sudah berbaik hati menjamunya, ia pun makan separuh isi kuali sedikit demi sedikit.</p>
<p>Alih-alih merasa puas karena bisa makan bubur ubi sepuasnya, ia justru merasa bubur itu menggeder gedor lambungnya dan minta dimuntahkan. Ia pun berhenti sejenak. Sejenaak, hingga seekor rubah datang ingin makan bubur ubi. Si Tuan filantropis yang semula sibuk memaksa si goi menghabiskan sakuali bubur ubi, menjadi sibuk memerintahkan pembantunya untuk memberi rubah itu semangkuk bubur ubi. Goi pun lega karena tidak perlu lagi menghabiskan bubur ubi. Keringat yang semula membasahi bajunya pun perlahan mengering. Tiba-tiba angin pegunungan bertiup. Dingin menggigiti tubuhnya. Dan, bersamaan dengan itu, goi pun bersin dengan kerasnya ke arah kuali perak yang berisi bubur ubi.</p>
<p>Begitulah, akhir cerita goi dan semangkuk bubur ubi yang begitu diidamkannya. Begitu aku menamatkan cerita itu, aku tertawa. Ganjil, lucu, dan aneh. Ya, aneh. Jalinan cerita yang detil, beritme lambat, dan bernuansa senyap ternyata harus berakhir dengan bersin yang sepele dan menjijikkan. Maklum, aku pembaca pemula cerpen Jepang. Mungkin kalau sudah terbiasa, aku tidak akan merasa ganjil lagi. Dan mungkin aku akan berpikir bahwa bubur ubi itu enak sehingga benar-benar tertarik mencobanya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/obrolansenja.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/obrolansenja.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/obrolansenja.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/obrolansenja.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/obrolansenja.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/obrolansenja.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/obrolansenja.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/obrolansenja.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/obrolansenja.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/obrolansenja.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=obrolansenja.wordpress.com&blog=2100067&post=126&subd=obrolansenja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://obrolansenja.wordpress.com/2009/07/05/imogayu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f81991c7abbf772b674fcd176c6a43a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryasenja</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>