Pohon Masalah

Penuh seminggu ini kami belajar menggambar pohon. Bukan sembarang pohon melainkan pohon masalah. Bener-bener jadi masalah ketika kami terjebak dalam rimba wilayah yang lebat rimbun lagi tak bertuan. Kota!

Masalah pertama muncul gara-gara kami punya latar belakang yang beda satu sama lain. Kami bertujuh dari belahan bumi yang sudah punya banyak masalah: Indonesia, Asia dan Afrika. Tentu saja, perbedaan benua bikin isi kepala kami nggak sama, menjalar sampai tutur kata yang beda, dan menjulur pada tindak tanduk yang juga beda. Ruwet. Makin bundet ketika kami mencoba mengurai persoalan sebuah kota merana tanpa sumber daya.

Kolega berasal dari Afrika yakin bahwa makin lebar daun yang digambar, maka makin banyak masalah yang tertampung. Tapi penalarannya mendadak melempem ketika ditantang bagaimana memetiki daun masalah untuk segera diatasi. Terlalu lebar dan nggak fokus. Sebaliknya, kolega dari Asia berpendapat sebaiknya daun yang digambar kecil-kecil saja. Mendadak aku jadi ingat pohon willow. Mengayun mendayu-dayu ditiup angin. Tapi ketika ditantang dari mana menyelesaikan daun persoalan, argumentasinya mental. Rontokan daun menjadi terlalu banyak untuk disapu, bagian mana yang harus dibereskan terlebih dahulu. Puyeng. Dan, pemikiran dari Indonesia ternyata juga nggak banyak membantu. Terlalu lama berada di bawah pohon beringin bikin pikiran nggak terlalu terang benderang menggambar dedaunan. Beringin masih saja terlalu rimbun, terlalu lebat, dengan sulur dan akar yang menjulur kemana-mana. Lebih baik dipangkas saja!

Diskusi berkepanjangan berputar-putar. Ribuan kata berlalu lalang di depan jidat tanpa belas ampun berkelit, bertubrukan, melompat, menggelinding, berguling-guling. Kami pun bingung menentukan mana yang seharusnya akar, mana batang dan seberrapa banyak ranting yang musti kami babati atau kami stek sambung. Kami gamang menggambar daun dan buah pohon.

Pohon masalah kami memang penuh masalah. Mungkin perlu puluhan ember pikiran jernih untuk menumbuhkan ide tentang bagaimana seharusnya pohon masalah itu. Tapi untunglah, pohon kami tak mati. Di ujung minggu, kami pun berhasil menggambar sebatang pohon masalah yang rimbun. Pohon itu kami pajang di depan kelas. Angin tajam berupaya merontokkan sebagian daun. Maklum, musim gugur. Tapi pohon kami tetap tegak berdiri. Cuma masalahnya, aku masih nggak tahu, itu sebetulnya menyerupai pohon apa? Di benakku cuma ada pohon asem Jawa, pohon cemara dan pohon kelapa. Wew!

About these ads

0 Responses to “Pohon Masalah”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: