Memang lidah nggak bisa bohong.
Aku setuju dengan iklan mie instan di televisi yang mengangkat kejujuran lidah. Terlepas dari iklan itu berlebihan atau nggak, tapi dalam praktek nyata pameo itu sudah terbukti. Setidaknya di tempatku bekerja.
Menjelang hari raya seperti sekarang ini, kiriman makanan mendadak mbanyu mili bak air mengalir. Dari relasi itu ini, dari hotel ini itu. Seminggu terakhir ini, meja urusan logistik di tengah ruangan pun penuh makanan: makanan kemasan pabrikan, minuman kaleng, kue-kue kering dalam kemasan plastik yang cantik, dan kue-kue tart berdekorasi aduhai. Bingkisan makanan ini menlengkapi sajian makanan kecil yang sering tampil dari para simpatisan yang berbaik hati membagi menu berbukanya. Makanan kecil yang sering muncul dari para simpatisan ini seperti: agar-agar made in Nanik, gorengan tahu, tempe, cireng, yang sering dibeliin Nanik, Martabak telor atau lunpia favorit Luhur.
Nah, bak panggung aduan, ternyata makanan yang kerap muncul berbarengan ini beradu laris. Ternyata yang paling cepat tandas adalah gorengan! Gak peduli apa yang digoreng, entah martabak yang agak berkelas kaki lima mahalan dikit, tempe yang cokelat gelap karena memakai minyak 10 kali pakai, hingga cireng kenyal alot karena sudah dingin, lebih cepat laris manis tanjung kimpul. Sementara, bingkisan hotel yang cantik menik-menik itu ternyata lebih sering mengendap dulu di kulkas untuk disajikan lagiĀ besok sorenya.
Mungkin inilah yang disebut selera dan cita rasa. Bicara soal rasa, memang lidah nggak bisa bohong. Soal kelas dari mana asal muasal makanan dan bagaimana penyajiannya? Halaagh …



September 30, 2009 at 6:27 pm |
Hmm, menurut tabiatku, tawarilah apa yang ada di depanku, entah apa itu bentuknya, dalam toples atau terbuka, gorengan, brownies atau apapun namanya, kalau itu bisa dimakan, mau deh.
~
October 20, 2009 at 8:17 am |
Ancene wong kantor iki ternyata kampung, ndesit, ndeso, ilate gak gelem/asing karo panganan perlente, mbois, berkelas hotel… huahahaha….