Pohon

September 18, 2008

Hari ini aku belajar tentang pohon. Aku suka pohon. Pepohonan yang reriungan itu selalu membisikkan cerita yang menenangkan.

Ki Hujan (Samanea saman). Pohon yang satu ini selalu bikin aku jatuh hati. Sosoknya tinggi besar berdaun lebat. Tapi tidak terlalu lebat untuk menghalangi sinar matahari yang hangat. daunnya yang kecil lebat ini dapat mengiris hujan selebat apapun menjadi serinai air embun. Halus. Pertama kali aku mengenalinya di belakang Gedung Sate. Berdiri di sana, seperti tubuh penari kesatrian dengan tangan yang terjulur ke atas. Anggun dan gagah.

Lain lagi dengan Pohon Sosis (Kigelia aethiopica). Ya. Seperti sebutannya, dari kejauhan, pohon ini seperti digelantungi puluhan sosis besar berwarna cokelat. Tapi kalu didekati, mirip seperti pohon keberuntungan dengan gantungan puluhan angpau tebal yang selalu dipajang di mal-mal tiap kali imlek. Aku selalu ingat sosoknya yang unik sedang duduk-duduk di Taman Hutan Raya Juanda di Bukit Dago Pakar. Entah ya, sudah berapa ratus tahun dia berlama-lama memandangi Kota Bandung dari ketinggian sana.

Nah, kalau pohon yang satu ini aku belum tahu namanya. Sama-sama tinggi besar berdaun rimbun. Teduh. Hanya saja, setiap kali bulan Agustus atau September di penghujung kemarau, pohon ini selalu mengeluarkan bau yang khas. Mirip cengkeh bercampur kayu manis beraroma seperti kue bumbu spekuk, on bien kuk. Hmmm… Ketika berbau harum begini, pohon ini juga merontokkan dedaunan kecil berwarna kuning. Buanyaaak sekali. sampai-sampai pak penyapu jalan pasti kewalahan, karena jalanan Citarum, Serayu, dan sekitarnya jadi bertaburan daun kecil kekuningan. Aku sudah memerhatikannya hampir tiga tahun ini. Dan itu artinya, musim hujan akan segera tiba. Hei, kamu … siapa sih namamu?