Legenda

Namanya Nancy. Pembicaraan kami malam itu dimulai dari cerita seputar dirinya. Sepotong cerita yang berusia jauuuh lebih tua daripada umurnya.

Perempuan itu selalu tampak menunggu, termangu di ambang jendela. Pandangannya kosong. Menembus pepohonan di Insulindepark, melayang hingga merambahi pucuk Gunung Manglayang. Ia selalu menunggu entah. Kekasihnya atau kebenaran. Ia tak tahu mana yang akan lebih dulu menemuinya. Ternyata, maut yang menjemputnya dulu. Ya, ialah Nancy perempuan yang memilih mengakhiri hidupnya dengan melemparkan diri dari ujung tangga. Namun, penantiannya menjadi tak berujung. Menurut cerita, ia akan selalu tampak menunggu. Iya, menunggu di ambang jendela itu. Tepat di lantai teratas bangunan SMA 5 Bandung. Ia sudah menunggu … mungkin selama 86 tahun. Bagi yang kebetulan melihatnya di jendela itu, sapalah.. namanya Nancy.

Obrolan kami malam itu membahas penyebab ia bunuh diri. Satu potong cerita bilang, ia memilih bunuh diri karena patah hati. Kekasihnya meninggalkannya, mungkin tewas di Perang Jawa, mungkin tenggelam di Semenanjung Pengharapan, atau malah mungkin kawin dengan perempuan lain. Namun potongan cerita yang lain menyebutkan, ia memilih mati karena diperkosa.

Cerita Nancy mengingatkanku pada sepotong kisah lain yang dituturkan oleh seorang teman, tentang seorang pejuang bangsa Afrika. Pejuang ini tertangkap oleh penguasa rezim apartheid. Sang penguasa pun menjatuhkan hukuman pada si pejuang atas dakwaan telah melanggar peraturan dan mengganggu ketentraman umum. Ada dua pilihan, disiksa dalam penjara atau mati. Dan si pejuang memilih mati. Sama seperti Nancy, kisah si pejuang selalu diceritakan berulang-ulang.

Mungkin benar. Adakalanya kematian menjadi pilihan. Bukan, bukan mati untuk mengakhiri hidup, namun mati untuk hidup kembali. Adakalanya, kematian yang justru menghidupkan nama hingga berpuluh-puluh tahun, beratus tahun, atau bahkan berabad, kemudian. Kematian yang membuat sepotong nama menjadi legenda. Dan orang-orang seperti aku - selalu penasaran dengan cerita-cerita legenda  - yang bikin legenda itu terus hidup. Paling nggak, legenda akan terus dihidup-hidupkan dalam obrolan yang nggak penting macam tulisan kayak begini. :D

1 Response to “Legenda”


  1. 1 Dhany si Trewelu April 24, 2008 at 6:30 pm

    Aku setuju dengan kalimat paling bontot!!
    Ayolah NDah … mana pedemu hehehehee
    emang aku pede gitu?

Leave a Reply