Aroma

Ia menyebut dirinya dengan sebutan papa. Setiap kali bercerita, tak pernah sekalipun ia menyebut dirinya dengan kata ganti saya. Entahlah, mungkin untuk mendekatkan orang padanya, atau ia jsutru terlalu baik dan menganggap setiap orang adalah anaknya.

Papa orang yang senang bercerita. Ia tidak pelit membagi pengetahuannya. Umurnya kutaksir sudah lebih dari setengah abad. Dan itu membuatnya menjadi orang yang paham betul tentang kehidupan. Satu topik yang paling disenanginya, kopi.

Pengetahuannya tentang kopi sungguh luar biasa.

Ia tahu betul bagaimana memilih biji kopi yang baik. Ia datangkan berkarung-karung biji kopi dari penjuru perkebunan kopi di nusantara, mulai Aceh, Jawa, Bali, hingga Toraja. Mana yang arabika, mana yang robusta, hanya dengan meraba dan mengendus, ia tahu bagaimana membedakannya.

Ia memperlakukan biji kopi dengan istimewa. Disimpannya berkarung-karung biji kopi itu di gudang tokonya. Itulah gudang hartanya. Lihatlah tumpukan debu dan pintalan sarang laba-laba yang berjuntai-juntai di permukaan karung. Ratusan karung itu memang sebagian besar sudah hampir delapan tahun ditimbun. Ya harus benar-benar delapan tahun. “Supaya aroma dan rasanya keluar,” begitu alasannya.Ia hanya akan mengolah biji kopi yang sudah berumur delapan tahun untuk dijadikan bubuk kopi nan harum.

Tak hanya memamerkan gudang harta, papa juga membanggakan pabrik kecilnya yang sesak. Tumpukan kayu bakar berjejeran dengan belasan drum berisi bubuk kopi. Tak jauh dari situ, terdapat tungku besar untuk menyangrai biji kopi. Terdapat pahatan angka 1936 di dinding tungku besar itu, menandakan awal mula tungku itu beroperasi.

Di parbik kecilnya itu, papa menghabiskan waktu sepanjang hari. Memeriksa tumpukan biji kopi di gudang, mengeluarkannya sedikit demi sedikit, menyangrai biji kopi dalam tungku bermesin khusus dan kemudian menggilingnya menjadi bubuk kopi yang beraroma harum.

Ia sudah melakukan itu seperti yang ayahnya dulu lakukan. Sebuah sepeda tua tergantung di atas pabrik kecilnya. Sebuah sepeda kuno yang dulu sering ia pakai bersama ayahnya. Ya, papa adalah generasi kedua keluarga kopi itu. Di tangannya, tungku di pabrik kecil di sudut Jalan Banceuy itu terus menyala dan menghasilkan bubuk kopi yang beraroma.

5 Responses to “Aroma”


  1. 1 sari February 14, 2008 at 5:53 pm

    thanks dah kau bawa aku ke toko ini, walaupun aku tak sempat ketemu “papa” dan memang kopinya memiliki taste yang berbeda…aroma

  2. 2 aini February 18, 2008 at 2:24 am

    ndah aku pernah lihat di tv, tentang kedai kopi itu..wah kepengen banget nyicipi kopinya..disini bisa 2 gelas kopi lo sehari, pake dua sendok teh gula, dan sedikit susu. kopinya kapal api. hmmm

  3. 3 almascatie February 24, 2008 at 10:58 am

    jubile jadi pengen dakku mampir kesananaaaaaa………
    arghhhh nikmatnya kupi sampai ke langit ke tujuh :D

  4. 4 munggur February 26, 2008 at 6:14 pm

    hmm… yang gemar lembur sama ngopi…
    adakah butiran kopi dibungkus dan sampai di sini untuk dinikmati?
    ah… hanya berharap (setengah meminta) hahaha…

    met ngopi saat senja hari.

  5. 5 Dhany si Kurus Imut March 18, 2008 at 5:58 pm

    Kopi menehhhhh …
    bikin novel tentang Derita Penjual Kopi gihhh ….
    Tapi aku salut dengan hobimu yang satu itu ….
    Dalam bayanganku, kamu minum kopi sik beresidu teballl itu, kamu ngerokok kretek, tipas-tipas. Hihiihihi
    Imajinasi jorok deh aku ….

Leave a Reply