Di Kotamu, Di Kota Kita

Rasanya jadi ingin ke kotamu, kota kita/mengantarmu pulang sore ini/jika sempat, kita melihat matahari menelusup rerimbunan pohon/sebelum menghilang ditelan malam/atau  malah gerimis? kalau pun datang, aku yakin kamu masih berdendang/tentang bulan merah jamu, atau tentang romansa saat menghabiskan waktu berdua di atas roda/jika kamu suka, ceritakan juga tentang belahan jiwa, dan melihat matamu berpendar/

ya, ku ingin pulang ke kotamu, kota kita/akan selalu mengingatkan pada senyummu/setumpuk tempe hangat yang kita sikat berdua, abai pada kerumunan yang bergumam tentang bosan/teh yang menghangatkan, tak menyisakan peduli pada kota yang makin riuh oleh angkuh/kota kita masih sama, ramah, menyimpan setampuk rindu yang pernah selalu kau pecahkan di ujung minggu

iya, aku ingin pulang ke kotamu, kota kita/tak apa jika aku tak sempat menggengam hangat tanganmu atau memelukmu erat/tak lagi bisa menepuk-tepuk bahumu, dan menempelkan pipiku dan pipimu sama bulat/sekarang aku cuma ingin membisikkan/tidur, tidurlah yang nyenyak

aku ingin pulang ke kotamu, kota kita/mengantarmu ke peraduan terakhirmu/tidak ada lagi yang membebanimu sahabatku/tidur, tidurlah yang nyenyak, dan bermimpilah tentang apapun/dan kotamu, kota kita, Yogyakarta akan selalu dengan senyum abadimu

Dear Zus

aku tak pernah bosan bertanya soal rencanamu. dan kamu, selalu dengan renyah berbagi cerita, nggak peduli remeh temeh atau serius semua mengalir bersama, disisipi gojek kere jenaka. rencanamu selalu terdengar seru, tentang ngglundung dengan sepedamu ke bukit juminten atau tanjakan apalah itu, atau soal meramu buku, atau soal menulis ini itu, atau soal ehm.. lelakimu. hangat. celotehan seperti secangkir teh yang kita seruput. dan kita pun riuh menertawakan hidup. nggak pernah sekalipun kamu mengumpati hari celaka, seburuk apapun kamu melewatinya. itulah kamu, perempuan yang selalu tahu bagaimana mensyukuri hidup.

Dan kamu, selalu mensyukuri pertemanan. friends from heaven. begitu kamu selalu menyebut para sahabatmu dan membuat coretan di blogmu. Rutinitas jakarta yang kusebut celaka itu, ternyata sama sekali tidak menggilasmu. kamu selalu punya waktu untuk teman-temanmu, mengirimi gambar dan gojekan wagu lewat email,  ngeteh bareng, mengungkep dan menggoreng swiwi untuk malam malam, menyusuri gang kota tua sambil ngemil jajanan ra mbejaji, mengirimi kartu pos, membungkuskan barang remeh temeh tapi lutju. ah kamu selalu ribuan jurus untuk membuat teman-temanmu merasa berharga. terakhir, kamu membungkuskan kantong hijau untuk wadah abrak-abrakan selama bepergian. “iki nggo kowe ndah, ben bolpen, tiket, karo paspormu ora kececer. tak pilihke warna ijo senenganmu.”  yak, kamu selalu praktis dan taktis memilihkan barang fungsional. dan kalau perlu menciptakannya! yang kutahu, kamu sedang senang menjahit dan sudah tahu bagaimana membuat tanda pribadi dengan huruf F berwarna merah besar untuk barang-barang kreasimu. gimana, apa kamu sempat menjahit kantong abrak-abrakanmu untuk menaruh notes, bolpoin, recorder, biar nggak berserakan dalam ranselmu?

itulah kamu, Zus. selalu punya hal seru untuk teman-temanmu, dan tentu untuk dirimu. padahal, aku tahu hidupmu selalu diburu waktu, untuk tidak pernah berhenti membaca, dan …. selalu bekerja. artikel dan ipad yang selalu berada di atas kasurmu itu nunjukin kalau kamu memang tidak pernah berhenti memikirkan banyak hal. mungkin dalam mimpi pun kamu akan memikirkan panglima anu yang begitu, atau kenaikan harga saham dan minyak mentah akan membuat dunia menjadi begini, atau peledakan bom dengan tokoh-tokoh yang punya latar belakang begitu begini, atau tentang industri otomotif dan manufaktur yang meranggas karena begini begitu. tapi kamu tidak pernah kesasar dalam pikiranmu, sebaliknya, selalu punya kata-kata bernas menjembreng setiap detil kejadian. aku nggak pernah bosan mengikuti tuturan celotehanmu dan membaca bukumu. pabrik kata-kata tidak membuatmu lantas menjadi sekrup. kamu tetaplah kamu dengan ribuan, atau malah jutaan kata yang selalu menghambur bersama dengan ketukan jemarimu di atas papan ketik.

Dear Zus, akhirnya aku menerima semuanya. kamu pasti tersenyum ceria memamerkan gigi kelincimu saat berangkat dengan menumpang Sukhoi, rabu itu (9/5). pagi-pagi kamu pasti sudah rapi-rapi mengeblow rambut kriwilmu, menenteng tas ransel kecilmu memastikan nggak ada peralatan yang kececer. dan apa kamu juga memakai rok pagi itu? pasti terlihat manis. Lebih dari sepuluh hari aku menanti kabarmu, berharap kamu kembali ke rumah sewa mungilmu di Cidodol, dan mengurai riang di kartu pos gimana rasanya menumpang Sukhoi, pesawat yang udah lama kamu kejar-kejar itu. hingga hari ini aku membaca berita Polri mengumumkan daftar nama korban kecelakaan Sukhoi Superjet 100 dan ada namamu terselip di sana. rupanya kali ini Dia yang berkehendak, memilihkan jalan untuk keberangkatanmu. baiklah, selamat jalan Zus, selamat berkumpul dengan ayah dan ibumu. sampai bertemu di kehidupan yang lain … you are the friend from heaven.

Perfecte Krul

Iklan yang memasang wajah manis seorang mbak berambut warna cokelat keriting itu bikin penasaran. si mbak tampil begitu percaya diri. senyumnya mengembang, semegar rambutnya yang bak singa kruwil. di dekat mukanya terpajang beberapa botol perawatan rambut dengan keterangan menggoda: perfecte krul.

wow..!

itu memang iklan sebuah merek perawatan rambut, mulai dari sampo, conditioner, vitamin, dan krim pelembab. gara-gara iklan itu, aku bela-belain cari waktu senggang untuk ke Kruidvart, swalayan retail yang spesialisasinya menjual produk farmasi, perawatan kecantikan dan perawatan kesehatan. di sini cantik identik dengan sehat, jadi harap maklum kalau produk perawatan seperti itu nggak bakal ditemui di toko swalayan umumnya. mengayuh sepeda juga musti gesit. mencari sela di tengah padatnya jadwal kampus yang baru selesai jam lima sore. padahal, jam segitu pula toko-toko di sini mulai berkemas. dan teng jam enam malem, nggak ada lagi yang buka (gini nih negara maju? ckckckck)

sesampainya di Kruidvart, produk perawatan rambut ternyata memang beraneka. rak empat tingkat dipenuhi produk dengan berbagai merek, jenis dan harga. ada yang untuk rambut supaya bervolume sempurna, lurus sempurna, warna sempurna, njigrak sempurna. ini sempurnaaaa… sampai-sampai perlu sekitar 10 menit untuk menemukan yang aku cari. ah, akhirnya aku menemukan si kruwel sempurna. hampir salah ambil dengan bervolume sempurna karena kemasannya sama persis. masing-masing cuma dibedakan oleh tulisannya. aku mengambil satu pelembab bertuliskan krul control creme. setelah mencermati, ternyata itu bikinan unilever. hmm, rasa-rasanya makin tegas kalau aku memang generasi Indonesia yang tumbuh bersama unilever.

konsepnya ternyata sama. di negara asalnya, unilever dikenal sebagai produk ritual sehari-hari menyasar keluarga kebanyakan. tapi ada yang beda. kalau dipikir, negara kapitalis mutakhir sungguh mencengangkan. seperti nggak pernah kehabisan strategi menjaring pangsa pasar. dan strateginya kali ini jitu sekali. membuatku tiba-tiba merasa membutuhkan produk itu. kita-kira kalau produk itu masuk ke Indonesia bakal laku gak ya, mengingat iklan produk perawatan rambut di kita adanya cuma untuk rambut hitam lurus dan ketombean?

Sebundel Stik Keju

Minggu ini aku belajar soal property dan tanah. bidang baru yang nggak pernah kepikiran untuk belajar ini sebelumnya.

profesor tamu datang dari negeri yang jauh, Wisconsin, negara bagian AS yang berbatasan dengan Canada. sudah berumur, tapi suaranya masih cukup lantang untuk membuyarkan setiap lamunan yang lewat di otak mahasiswa pada jam-jam kritis. selain rajin bertanya, profesor ini punya metode mengajar yang unik di kelas.

“property right is a bundle of rights !” serunya di awal perjumpaan kami.

profesor ini mengajarkan hak property seperti sebundel stik keju, yang ikatannya bisa dibongkar pasang, stiknya dikurangi atau ditambah, bahkan dipotong-potong untuk dipindahtangankan. sebagai ilustrasi, dia membagikan seluruh stik keju dalam kantong. siang itu, aku mendapat sepotong hak tanaman. yang lainnya ada yang mendapat hak tanah, hak air, hak mineral, hak udara, hak binatang, hak menggunakan, hak menjual, hak menyewa, dan hak mewariskan.

“o o … please, don’t eat your property now!” serunya jenaka saat semua mahasiswa sudah memegang masing-masing satu stik keju. wah, prof tau aja sih? stik keju ini baunya harum sekali. aku sudah ingin melumatnya.

oh tidak, mungkin lebih tepat ingin meremukkannya. tiba-tiba pikiranku melayang ke kota yang sama jauhnya dari kelas .. Jakarta! aku ingat kalau masih memegang sepotong hak menyewa, tapi makelar-makelar itu akan merebutnya!

tiba-tiba profesor membuyarkan lamunanku. dia bertanya padaku, hak apa yang kugenggam. saat itu aku tidak ingin bilang kalau sedang memegang hak atas tanaman. woaaa .. rasanya aku ingin berteriak padanya seraya mengangkat tangan kiri yang mengepal, “yes prof, I still have right to use!”  (hei, makelar, gentar nggak kalian?&*@#$!)

# jeritankontraktorjakartadisiangbolong

Cerita Jakarta #2: Memang Semprul!@%!*?

Rumah Rabel ternyata bermasalah. Rumah sumuk itu jadi perebutan sebuah keluarga besar yang tak akur.

Dasar makelar! ternyata kami membayar pada orang yang tidak tepat. Dari awal kami tahunya ya si bapak A yang mengurusi rumah kami. tambah hakul yakin 110 persen bahwa si bapak A yang bertanggung jawab setelah dia dengan gagah berani mengurusi waterfall yang nggerojok nyaris meruntuhkan langit-langit rumah.

Lha tiba-tiba muncul si ibu I dengan utusannya mbakyu S yang konon kabarnya cantik seperti pesohor tante Desi Ratnasari. dua orang ini mengaku sebagai pihak sah pemilik rumah rabel. Dan mbakyu S inilah yang paling sering nongol ke rumah rabel. dia menyampaikan pesan bahwa kami harus segera angkat kaki dengan alasan yang kontrak setahun yang sudah kami bayar di muka ke bapak A dianggap tidak ada. dasar makelar! mbakyu yang ramah tamak ini maunya kami membayar sewa lagi padanya. cantik-cantik kok maruk.

silang sengkarut, karut marut, berkerut-kerut. perang urat sarap belum juga berakhir sampai saat ini padahal sudah meluntjur menjelang akhir tahun 2011. bapak A sok menjamin kami tidak harus pindah karena sudah bayar. sebaliknya mbakyu S ingin supaya kami segera pergi, kecuali kami membayar sewa lagi. mbakyu S ternyata bawel tapi nggak mau repot. dia lebih suka mengutus pacarnya mas D untuk meningkatkan tensi, nyuruh kami berkemas dalam dua minggu! sarap! nggak cuma dengan kata, tetangga mengabarkan mereka juga menebar rapalan rajah dengan air bertuah di halaman rumah. entah supaya rumah kosong di sebelah segera laku terisi, atau mungkin sebaliknya supaya keluarga rabel nggak betah dan segera angkat kaki. sekarang ini, dari lima rumah sengketa di situ, hanya satu terisi, yaitu rumah nomor 2A yang ditinggali keluarga rabel.

Jakarta memang semprul!

Makelar-makelar tamak itu bikin balada kontraktor makin panjang. lakon keluarga rabel seperti drama dengan jumlah babak yang tidak tertebak. beruntung, Nik the girl next door tangguh menghadapi perang urat sarap. dengan mental baja dia menghadapi kebawelan duo mawut mbakyu S dan pacarnya mas D. bertekad mendudukkan keluarga tak akur satu meja bersama pak RT yang baik budi. namun, Nik akhirnya urung duduk bersama di meja itu. kisah duka menyelusup membuat Nik pun mengambil jeda (aku ikut berduka, Nik). untunglah ada Put yang rela mengambil alih peran. maafkan aku, nggak ada dalam lakon saat kalian butuh pemeran pengganti …

Living

Ini kali pertama aku nonton film Rusia. Living salah satu nominasi dalam Festival Film Internasional Rotterdam. Sebuah film satir tentang kematian karya sineas muda Vasily Sigarev (1977). Perasaan kehilangan yang senyap dalam tiga jalinan kisah cinta tak lazim. Seluruhnya terjadi di tengah musim dingin Rusia yang menggigit.

Meski gila, ayah tetaplah seorang ayah. Seorang bocah tak mampu menerima kenyataan bahwa ayahnya yang tidak waras itu telah mati. si anak merasa selalu melihat ayahnya menuntun sepeda onthelnya di luar sana. celakanya, si ibu yang temperamen lebih kerap memaki dan menuduh si bocah mewarisi ketakwarasan si ayah. pacar baru si ibu, jelas tak bisa menggantikan sosok ayah. sementara si ibu lebih mirip psikopat. hamil tua tidak membuatnya kepayahan untuk terus merokok, memukul dan mencaci-maki. Keluarga ganjil yang seluruhnya terlihat tidak waras.

Kehilangan suami membuat seorang istri kehilangan kewarasannya. Ia memilih untuk mendem vodka sampai-sampai mengabaikan dua putri kembarnya. panti sosial mengambil alih si anak hingga si ibu ini dianggap cukup waras untuk kembali merawat. Malang, putri kembarnya justru kecelakaan ketika panti hendak memulangkan pada ibunya. tragedi pun dimulai. ibu kini benar-benar gila ini membongkar makam dan membawa dua putrinya pulang. Dalam pikirannya, dua putrinya pasti kedinginan. sesampai di rumah, ia memandikan dan memberinya dua putrinya makan. kegemparan tetangga berujung si ibu bunuh diri dengan meledakkan tabung gas.

Seorang perempuan mempertanyakan mengapa Tuhan menyemaikan cinta di hatinya kalau  kemudian harus merasai perih. perempuan nyentrik berambut gimbal dan bertindik di lidah itu serius bertanya pada seorang pendeta. hanya selang beberapa jam setelah pendeta itu menikahkannya, maut yang kejam justru memisahkan perempuan itu dengan kekasihnya. bukan HIV yang merenggut nyawa kekasihnya, tapi lima perampok brutal di kereta. masyarakat yang sakit membiarkan penganiayaan itu terjadi di depan mata. tak ada seorang pun yang peduli pada jerit pilu perempuan yang menyaksikan kekasihnya meregang nyawa. putus asa menggiring perempuan itu mengiris nadinya. Tapi ia menolak untuk mati. Semangatnya bangkit setelah tiba-tiba bayangan kekasihnya membuatnya tersadar harus mencari uang demi memakamkan dengan layak.

Perasaan kehilangan sulit diungkapkan. Kata-kata tak pernah cukup. Tapi, ekspresi datar dan dingin orang-orang Rusia dalam film itu lebih dari cukup. hatiku terjungkir. sepi yang senyap datang menyergap. tiba-tiba saja aku teringat seperti apa rasanya kehilangan.

Tania

Di dada kirinya tertulis Tania. “If you have any question, ask me. Tanya. Tanya,” katanya sambil mengulang-ulang namanya. Yak, namanya saja sudah membuatku selalu ingin bertanya. Siang itu, Tania memandu kami berkeliling pusat kota Maastricht. Ia menerangkan itu ini mengenai sejarah kota sejak pendudukan tentara Romawi di abad pertama hingga penataan di era Golden Age. Kota yang terbelah sungai, Maas. Sungai ini juga mengalir di gorong-gorong dalam perut kota. “Maastricht is Maastricht,” kata Tania memperkenalkan kotanya.

Tania tentu tidak lagi muda. Kerut merut di wajahnya nggak bisa menutupi lagi usianya. Apalagi tatanan rambutnya yang sedikit di sasak di atas dahi dan dikonde kecil di bagian belakang jelas bukan model rambut masa kini. Tapi pastinya tatanan rambut itu berlaku sepanjang masa mengingat ibu-ibu pejabat di Indonesia masih saja pede dengan gaya seperti itu. Make up Tania pun bisa dibilang agak ajaib untuk ukuran masa kini. Alis diwarnai cokelat sementara kelopak mata dibubuhi warna biru langit yang terang benderang. Tak mengapa, Tania tetap percaya diri. Di sela-sela ceritanya, Tania dengan bangga ia menunjukkan foto anaknya yang menjadi Pangeran di festival Maastricht tahun ini. Kutaksir putranya sudah berusia lebih dari 20-an tahun. Entah itu putranya yang ke berapa. Yang jelas, Tania sudah terlihat tua.

Meski begitu, Tania punya semangat muda. Gesit dan tangkas. Ia memandu kelompok kami – yang usianya mungkin separuh umurnya – berjalan menyusuri gang-gang kota. Dengan antusias ia bertutur tentang perbedaan luas penampang jendela pada rumah-rumah tradisional yang masih bertahan. Ada yang satu jendela tetapi punya empat panel kaca, tapi sebagian besar merupakan jendela lebar satu panel. Perubahan model jendela itu gara-gara Napoleon menarik pajak berdasarkan jumlah panel jendela yang dimiliki. Pada zaman itu, orang lantas ramai-ramai mengganti jendelanya dengan bingkai lebar tanpa kerangka menyilang di tengahnya demi mengurangi jumlah pajak yang harus di bayar. Maastricht pernah menjadi basis tentara Perancis saat pendudukan akhir tahun 1700-an.

Tania pun antusias menerangkan identitas kotanya. “Do not say Hup Hup Holland, here!” tukasnya. Holland hanya merujuk dua provinsi di wilayah utara dengan pusat di Kota Haarleem dan Den Haag. Ya, Maastricht jauh berada di bagian selatan Belanda, berjarak sekitar 200-an km dari Amsterdam. Berada di Provinsi Limburg yang diapit wilayah Belgia dan Jerman. Dan kalau kota-kota di Holland bekerja keras membangun dam karena berada hingga empat meter di bawah muka air laut, Maastricht berada sekitar 300 meter di atas permukaan air laut. Topografinya berbukit-bukit dan punya gua-gua buatan warisan jaman Romawi. Gua-gua ini juga menjadi saksi gelap perang dunia kedua.

I leave you here. Good luck with your study. Don’t forget Maastricht when you leave Netherlands,” pamit Tania di ujung pertemuan kami. Hangat. Ia menjabat tangan kami semua sambil tersenyum sangat ramah. Ah, bagaimana bisa lupa. Kamu mengingatkanku pada teman arisan nenekku dulu.

Sabtu Sial dan Ban Perancis

Kalau saja aku tahu informasi ini sebelumnya, mungkin aku nggak akan beli sepeda yang sekarang kupakai. Merepotkan. Aku membelinya dari kakak angkatan dengan sistem informasi dari mulut ke kuping. Deal. Sepeda mini dengan tas pannier seperti punya pak pos di boncengan belakangnya bikin aku kesengsem sejak fotonya dilayangkan melalui surat elektronik.

Uzur dan kekerapan gelindingan roda dari hari ke hari membuat ban belakang pun menyerah. Kempes di hari Sabtu yang sial. Pinjaman sejumlah pompa dari sana sini ternyata nggak berhasil menggembungkan ban sepedaku. Ternyata, ada dua masalah. Selain ukuran pentil nggak cocok degan pompa, ban dalam ternyata robek.

Aku baru tahu kalau Belanda dan Perancis sungguh-sungguh serius membedakan produk industrinya. Saking seriusnya, pentil ban dalam pun dibuat tidak sama ukurannya. Bikinan Perancis berukuran kecil mirip seperti ujung logam isi pulpen Pilot. Sementara buatan Belanda berukuran besar, sedikit sedikit lebih kecil dari batere AAA. Perbedaan yang merepotkan! Tidak sembarang pompa yang beredar di pasar Rotterdam bisa dipakai untuk meniupkan angin ke ban dalam produksi Perancis. Sial! Ban dalam sepedaku ternyata bikinan Perancis.

Mau tak mau aku menguji ketrampilan pas-pasan bongkar sepeda demi menyelamatkan puluhan Euro. Rasanya nggak rela kalau harus membayar jasa tukang tambal ban dengan harga puluhan ribu rupiah. Hup. Ban dalam yang koyak pun sudah tergulung dan kubawa ke pasar dadakan, Blaak Markt. Seluruh kios onderdil sepeda yang kudatangi tidak memberikan solusi. Tapi, mereka membawa informasi penting: ban dalam sepedaku adalah buatan Perancis dan di pasar itu tidak ada yang menjual pompa untuk itu!

Aku menyerah. Untunglah ukuran ban sepedaku masih standar Belanda. Akhirnya kuganti dengan ban dalam buatan Belanda yang lebih toleran dengan berbagai jenis pompa, termasuk pompa kecil yang kubawa dari Jakarta. Beruntung, ada dua handyman yang sigap membantu memasangkan ban. Yak! Pada Sabtu sore yang sial itu, sepedaku menggelinding lagi di jalanan. Mendadak, suara Freddie Mercury yang beraksen British itu terngiang.. I want to ride my bicycle, I want to ride my bikeeeeeeee! Hmm, pentil ban dalam sepeda buatan Inggris seperti apa ya?

Occupy!

Aku lupa namanya. Penampilannya terlihat modis dengan jaket tebal warna ungu metalik, syal tebal warna terang, dan celana pensil warna hitam. Topi fedora dan kacamata berbingkai hitam tebal ala nerd cocok dengan raut mukanya yang manis. Rambutnya yang kecoklatan acak-acakan menyembul dari balik topinya, serasi dengan cambang yang dibiarkan menutupi dagu. Aku menaksir usianya nggak lebih dari 25 tahun. Ia duduk dalam sebuah tenda di Beursplein.

Penampilannya mengingatkan pada tipikal anak band Britpop. Tebakanku nggak sepenuhnya salah. Dia mengaku bekerja sebagai DJ di sebuah klub di Maastricht. Sebuah tape kotak besar di sampingnya memutar lagu tanpa lirik berirama tekno. “I made it for this movement,” katanya sambil tersenyum.

Aku pun tersenyum menanggapi seperlunya musik ramuannya itu. Menarik. Tapi bagiku lebih menarik buku yang sedang dibacanya. Buku setebal tiga centi berjudul filsafat bla bla bla. Aku nggak tahu terusannya karena memakai bahasa Belanda. Dia bilang sedang kuliah di Maastricht jurusan hukum atau ekonomi, aku nggak ingat lagi penjelasannya.

DJ yang modis, buku filsafat, dan tenda yang mirip barak pengungsian korban bencana alam adalah perpaduan yang ganjil. Tenda itu berdiri tepat di depan gedung megah World Trade Center. Spanduk besar bertulisan Occupy Rotterdam terpampang, juga beberapa spanduk dengan tulisan pylox asal-asalan tentang perdamaian dan keadilan. DJ modis dan sejumlah kawan-kawannya sudah belasan hari menduduki tenda itu.

Ternyata, setiap negara punya persoalannya sendiri, nggak terkecuali negara semaju Belanda. Lupakan kelas buruh dan abaikan serikat pekerja dalam buku-buku babon. Demonstrasi kini dilancarkan kalangan mapan dengan isu yang beraneka rupa. Nggak jelas protes ditujukan pada siapa. Yang jelas maunya semua serba ideal. Sejumlah orang yang kuajak ngobrol meyakini sejumlah hal yang harus jadi sorotan. Mulai dari Amerika sudah terlalu mendominasi perekonomian dunia, krisis ekonomi Eropa yang tengah menggerogoti Yunani dan Itali, sampai persoalan lokal seperti komersialisasi ruang publik yang sudah kebablasan di Rotterdam.

Bukan cuma orang Belanda yang kesengsem gerakan Occupy. Secara masif, gerakan Occupy telah  mencuri perhatian publik dunia sejak dilancarkan sekitar dua bulan lalu. Aksi ini pertama kali menggebrak Wall Street, New York, Oktober 2011 dan setelah itu menjalari berbagai negara.  Terinspirasi dari Arab Spring, gerakan menargetkan unjuk rasa di lebih dari 950 kota di 82 negara demi menggugat korporasi dan liberalisme. Kemarin, ribuan pengunjuk rasa Occupy kembali menggelar aksi di New York (18/11). Aksi ini berakhir ricuh.

Pohon Masalah

Penuh seminggu ini kami belajar menggambar pohon. Bukan sembarang pohon melainkan pohon masalah. Bener-bener jadi masalah ketika kami terjebak dalam rimba wilayah yang lebat rimbun lagi tak bertuan. Kota!

Masalah pertama muncul gara-gara kami punya latar belakang yang beda satu sama lain. Kami bertujuh dari belahan bumi yang sudah punya banyak masalah: Indonesia, Asia dan Afrika. Tentu saja, perbedaan benua bikin isi kepala kami nggak sama, menjalar sampai tutur kata yang beda, dan menjulur pada tindak tanduk yang juga beda. Ruwet. Makin bundet ketika kami mencoba mengurai persoalan sebuah kota merana tanpa sumber daya.

Kolega berasal dari Afrika yakin bahwa makin lebar daun yang digambar, maka makin banyak masalah yang tertampung. Tapi penalarannya mendadak melempem ketika ditantang bagaimana memetiki daun masalah untuk segera diatasi. Terlalu lebar dan nggak fokus. Sebaliknya, kolega dari Asia berpendapat sebaiknya daun yang digambar kecil-kecil saja. Mendadak aku jadi ingat pohon willow. Mengayun mendayu-dayu ditiup angin. Tapi ketika ditantang dari mana menyelesaikan daun persoalan, argumentasinya mental. Rontokan daun menjadi terlalu banyak untuk disapu, bagian mana yang harus dibereskan terlebih dahulu. Puyeng. Dan, pemikiran dari Indonesia ternyata juga nggak banyak membantu. Terlalu lama berada di bawah pohon beringin bikin pikiran nggak terlalu terang benderang menggambar dedaunan. Beringin masih saja terlalu rimbun, terlalu lebat, dengan sulur dan akar yang menjulur kemana-mana. Lebih baik dipangkas saja!

Diskusi berkepanjangan berputar-putar. Ribuan kata berlalu lalang di depan jidat tanpa belas ampun berkelit, bertubrukan, melompat, menggelinding, berguling-guling. Kami pun bingung menentukan mana yang seharusnya akar, mana batang dan seberrapa banyak ranting yang musti kami babati atau kami stek sambung. Kami gamang menggambar daun dan buah pohon.

Pohon masalah kami memang penuh masalah. Mungkin perlu puluhan ember pikiran jernih untuk menumbuhkan ide tentang bagaimana seharusnya pohon masalah itu. Tapi untunglah, pohon kami tak mati. Di ujung minggu, kami pun berhasil menggambar sebatang pohon masalah yang rimbun. Pohon itu kami pajang di depan kelas. Angin tajam berupaya merontokkan sebagian daun. Maklum, musim gugur. Tapi pohon kami tetap tegak berdiri. Cuma masalahnya, aku masih nggak tahu, itu sebetulnya menyerupai pohon apa? Di benakku cuma ada pohon asem Jawa, pohon cemara dan pohon kelapa. Wew!

Next Page »



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.