Percaya

Apa yang terlihat di luar belum tentu sama dengan yang di dalam. Aku percaya itu.

Aku bertemu dengannya beberapa kali. Lelaki berumur 28 tahun ini mirip dengan gambaran orang tentang pemuda Bandung. Ramping berkulit bening. Rambutnya cepak modis dengan potongan acak asimetris. Ya, mirip-mirip dengan penyanyi band ngetop masa kinilah, semisal Republik atau Juliet (sumpah, aku bukan penggemar band ini). Ia mengenakan kaos T warna pastel yang ngepas badan lengkap dengan celana jeans yang juga body fit. Intinya adalah modis. Sesuai dengan bidang keahliannya memotong rambut. Aku bertemu dengannya di salon langgananku. Sebuah salon yang konon kabarnya menjadi ampiran anak muda Bandung yang ingin mengikuti trend gaya rambut masa kini. (Aku suka ke sini tapi lebih karena aku cocok dengan hasil karya si Aa satu ini. Beberapa bulan terakhir aku suka mempertahankan gaya rambut cepak)

Tatkala bertemu, ia selalu membuka dengan salah satu pertanyaan standar tukang salon “Mau dipotong berapa centi?” Dan kujawab dengan tak kalah standarnya, “Dirapiin aja.” Karena kami sudah beberapa kali bertemu, aku bisa menambahkan frase standar lainnya, “Kayak biasanya.” Entahlah. Mungkin itu kata pembuka yang mujarab. Dan setelah itu, obrolan pun mengalir ringan. Seperti siang tadi.

Kali ini ia memilih topik spiritual. Nggak tahu juga bagaimana juntrungannya mengapa kami akhirnya membicarakan tentang topik ini. Tiba-tiba saja ia sudah nyerocos menceritakan Sunan Kalijaga yang menurutnya tiga kali berganti raga dalam tiga masa yang berbeda. Dan di masa kini, ia meyakini Sang Sunan ada di tubuh seorang guru spiritual di Sumedang. Ciri-cirinya, sang guru punya cap kewalian di dahi dan paha kanannya. Cap yang menurutnya tidak akan hilang meski Sang Wali sudah berganti raga. Cap kewalian itu merupakan tanda lahir yang mirip dengan tulisan asma Tuhan. Dia juga bercerita bahwa ia pernah mengikuti ritual permandian di malam Jumat Kliwon saat sang guru memandikan para muridnya. Hmm… hanya beberapa detik, obrolan pun jatuh ke jurang mistik.

Mau tak mau aku pun membenturkan penampilannya yang modis dengan pemikirannya yang menurutku tak logis. Seorang Sunan, yang sudah meninggal sekitar 400 tahun lalu, bisa hidup lagi di tubuh orang yang berbeda … Tak apalah, aku pun tak boleh menyanggah. Aku kadung percaya bahwa kepercayaan itu mahal harganya. Ia sudah percaya padaku dengan bercerita dan dengan begitu aku harus menghargainya. Meski ia modis, meski ia lelaki muda yang berprofesi harus mengikuti perkembangan trend anak muda masa kini, meski trend dan kepercayaan tak ada hubungannya, aku harus menerima kenyataan bahwa apa yang tampak di luar belum tentu sama dengan yang di dalam. Ya, ya .. Aa’ jangan keras-keras ceritanya, ntar nggak enak di denger FPI, malah nanti bisa jadi psst… pstt .. bla bla bla…

Liburan

Aku baru saja liburan. Hmm.. ini sebetulnya obrolan yang terlambat. Sementara anak-anak di bangku sekolah sedang merancang liburan mereka di bulan Juni, aku sudah mengambil liburanku di bulan Mei lalu. Membebaskan diri dari rutinitas selama seminggu, dan bahkan sudah kembali tenggelam dalam rutinitas dalam dua minggu ini. Ya, ya.. yang penting aku sudah liburan!

Liburan buatku adalah minum teh hangat sembari mengobrol bersama ibu di belakang rumah. Itu yang kulakukan kemarin. Liburan juga berarti mendengarkan celoteh riang kemayu ala gadis cilik berusia lima tahun. Kemarin keponakan kecil ini bercerita dengan sangat bangga bahwa ia sudah bisa naik sepeda kecil merah jambu barunya. Ia tidak peduli, meski wara-wiri naik sepeda di dalam rumah.

Liburan yang cukup panjang kemarin juga berarti mendengarkan cerita kegilaan seorang adik. Adik sepupu yang hitam manis, yang betul-betul manis lima tahun lalu, kini ternyata tidak lagi manis. Rambut di dahi tergerai menutupi sebelah matanya sementara ujung-ujung rambut di kepalanya berdiri menjulang. Sama menjulang seperti badannya yang jangkung. Celana pensil kotak-kotak yang dipadukan kaos hitam yang tak kalah sempit melengkapi penampilannya. Kukunya pun dicatnya warna hitam, menghitam persis seperti baru kena jepit pintu. Tapi serasi sih, dengan kulitnya yang hitam. Ia kini bukan lagi bocah yang mengidolakan power ranges seperti yang kukenal lima thaun lalu. Ia kini lebih suka membesut gitar elektrik sembari menjajal vokal seraknya. Ya, ia sering bernyanyi. Aku sendiri belum pernah mendengarnya, tapi kupikir sama nyaring dengan nyanyian sang ibu yang tiap hari dibuat senewen oleh polahnya itu.

Liburan juga berarti bertukar cerita berlama-lama bersama teman-teman lama. Ya, kami mengobrol melewatkan malam di pantai favorit kami: Ngrenehan. Dari yang awalnya ke pantai itu bersama rombongan dalam belasan anak, kemarin kami kembali ke pantai itu hanya dalam rombongan tujuh anak. Tidak apa. Rasanya masih tetap sama. Kami berenang di pantai keesokan harinya. Niat liburan untuk bermain di pantai sampai kulit terbakar dan rambut asin bergaram berbau matahari pun kesampaian.

Dan, liburan pun kuakhiri di Stasiun Tugu. Bepergian lewat stasiun selalu terasa sendu. Entah karena apa, mungkin karena kereta, mungkin karena bangunan stasiun yang tua. Atau, mungkin karena tatapan mata teduh yang mengiringi kepergianku kali itu. Ya, ya sebuah sajak lama menderu di kepala … “Kita ini seperti sepasang rel yang menjulur beriringan namun tak pernah bertemu …” (hapalan serampangan sajak milik Eka Budianta yang kuingat di kepala)

Fajar

Siapakah dia yang sudah meletakkan setangkai fajar dalam senyumku ketika aku tengah tertidur?

Aku menemukan setangkai fajar merah muda dengan kelopak merekah utuh tergeletak di pintu mimpiku. Kuletakkan setangkai fajar itu dalam bejana berair supaya tak layu sepenuh hari.

Siapakah dia, yang sudah meletakkan setangkai fajar dalam senyumku ketika aku tengah tertidur? Coba, perdengarkan suaramu. Mungkin dengan begitu aku bisa mengenalimu. Supaya aku bisa mengirimkan sepotong senja sebagai balasannya … 

Palu

Palu dan paku. Itu terdengar seperti garam dengan merica. Dan mirip seperti gula dan semut. Hubungan kekerabatannya dekat. Kalau mau memaku, itu pasti membutuhkan palu. Membicarakan palu, entah kenapa, hatiku jadi tidak nyaman. Mirip seperti mendengar kata “palu dan racun”, atau senandung lagu jaman dulu “hatiku palu mendengar kata-katamu”. (Ah, makin lama kok makin nggak jelas ..) Meski tidak suka, nyatanya aku perlu palu beberapa hari lalu. Palu itu untuk memaku potongan demi potongan rak buku model bongkar pasang yang kubeli hari sabtu.

Ragu-ragu, aku mengurungkan niat untuk meminjam palu pada bapak kos. Bukan, bukan karena bapak kos galak. Justru ia terlalu baik sehingga aku memperkirakan bakal nggak enak hati kalau sekiranya bapak kos malah akan repot turun tangan memasangkan rak. Tidak, tidak, aku tidak mau itu. Alih-alih meminjam palu pada bapak kos, aku pun berembug dengan the girl next door. Dia selalu punya solusi untuk berbagai macam situasi :D

Dan benar. Dia pun berinisiatif untuk mengirimkan pesan singkat pada seorang rekan kerja. Menurutnya, si rekan yang selalu berpenampilan dendy ini punya palu karena secara dia sudah berkeluarga dan tinggal di rumah sendiri. Hmm.. ini cukup logis, karena biasanya hanya rumah tangga dengan kehidupan normallah yang menyediakan palu di rumahnya. Normal di sini dalam arti: tinggal di sebuah tempat yang disebut rumah yang tentu berjalin erat dengan kebutuhan pertukangan alias perlu peralatan seperti palu di garasi, sama halnya perlu peralatan seperti pisau di dapur.

Singkat cerita, the girl next door ini pun mengirimkan pesan ke rekan kerja yang selalu berpenampilan dandy tadi. Pesan singkat yang berisi: “Mas, punya palu nggak? Bawain dunk ntar sore.” pun terkirim sempurna di Minggu siang yang bolong.

Wah, sejurus kemudian pesan singkat itu pun mendapatkan sambutan yang sempurna. Rrr… bukannya si rekan kerja yang membalasnya, namun justru istrinya. Pesannya jelas melebihi sempurna untuk menunjukkan kecurigaannya: “Maaf mbak, masnya lagi nggak ada. Nggak punya palu.”

Aku dan the girl next door pun tergelak. Bukan menertawakan si istri yang pasang antene kewaspadaan, tapi menertawakan kebodohan kami. Hanya karena menghindari meminjam palu dari bapak kos, urusan palu malah bikin rumah tangga orang jadi panas. Ya, ya, kalu dipikir lagi, perempuan mana yang nggak curiga ada perempuan lain di siang bolong yang mengirimkan pesan singkat meminta suaminya membawakan palu. Huehueue…

Tuh kan, kejadian itu bikin aku makin tidak suka pada palu. Tapi sejak itu, aku bertekad tidak akan meminjam palu lagi. Keesokan harinya aku langsung ke toko besi untuk membeli sebuah palu. Palu ramping itu sudah menjalankan tugasnya. Jadi sekarang, aku punya palu dan rak buku baru. 

Miniatur

Undangan resepsi pernikahan membuatku datang ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Menarik. Tentu yang menarik bukan pesta resepsinya. Tetapi tentu saja TMII yang menarik. Tempat itu masih tampak sama seperti aku datang ke tempat itu sekitar 18 tahun silam. menarik, dengan dibumbui rasa nostalgia tentunya. 

Namanya juga dengan semangat nostalgia, meski matahari menyengat, aku tak patah semangat untuk berkeliling. Tidak berjalan kaki, tapi dengan menumpang sebuah mobil tour. Ya, tempat itu masih serupa. Ada danau buatan seluas sekitar 9 hektar dengan miniatur kepulauan Indonesia di tengahnya. Ada kereta gantung yang berseliweran di atasnya. Bangunan teater 4D Keong Mas - yang dulu pernah bikin aku menganga takjub - juga masih berdiri megah. Ada yang baru, Taman Budaya Tionghoa. Jumlah anjungan berubah jadi 26, karena anjungan Timor Timur sudah dijadikan museum. Katanya sih, akan dibangun anjungan baru, secaraaaaa … sekarang ini kan sudah 33 provinsi gitu.

Ngomongin museum. Taman mini yang seluas 100an hektar itu punya sejumlah museum. Antara lain Museum Indonesia (konon inilah cikal bakal taman miniatur Indonesia), Museum Transportasi yang majang pesawat dan rangkaian lokomotif di mukanya, Museum Keprajuritan yang masih saja serem dan tentu saja Museum Purna Bhakti Pertiwiyang kesohor itu. Yang disebutkan terakhir ini kesohor karena dibangun dalam kurun waktu lima tahun (1987-1992) dan isinya memang menakjubkan: koleksi cinderamata dari berbagai negara milik mantan Presiden Soeharto.  

Ya, TMII masih tampak serupa. Kecuali pagar sejumlah bangunan yang catnya sudah mengelupas di sana sini, kecuali sejumlah museum yang tampak sepi tidak dikunjungi, kecuali sejumlah besi dan logam Stasiun Kereta Mini yang terlihat berkarat, kecuali pepohonan dan semak belukar yang tumbuh subur di sejumlah halaman anjungan. Tak apa, TMII rasa nostalgia memang menarik.

Makin menarik ketika sopir mobil tour yang aku tumpangi mulai membeberkan ceritanya. Bukaan, ia tidak tertarik memamerkan koleksi taman wisata di TMII. Ia juga tambah tidak antusias ketika membicarakan sejarah berdirinya TMII yang pada suatu masa dulu sempat didengung-dengungkan. Ia lebih tertarik membicarakan tentang makhluk-makhluk tak kasatmata yang menjadi bagian koleksi TMII. (Lhaa.. ini taman mini atau taman uka-uka?)

Ceritanya, ada sepasang ular berkepala manusia yang suka berseliweran di jalanan, terutama di seputaran Museum Indonesia dan bakal Sea Park yang sedang dibangun. “Panjangnya, mbak, dari Museum Indonesia ini, sampai ujung genteng rumah di sana itu!”, seru si sopir bersemangat. Ya, ia tengah menggambarkan betapa besar dan panjang ular itu. “Yaa.. kira-kira 300 meteran lah” (coba itu, kalau ular beneran, pasti udah dilepasliarkan kembali ke habitatnya oleh para pecinta alam).

Belum cukup menceritakan koleksi extra large-nya, si sopir pun berganti topik. Kali ini giliran koleksi yang super cantik tapi suka mengikik. Dengan semangatnya, si sopir bercerita, “Iya, mbak. Mobil saya pernah ditumpangi perempuan cantik. Dia nyetop mobil saya di sini ini, di Stasiun Kereta Mini. Setelah putar-putar, eh si perempuan tadi tiba-tiba menghilang. Tinggal dua daun kamboja yang ada di tempat duduknya… bla-bla-bla.” Aku tidak lagi mendengar lanjutannya karena sibuk celingukan mencari-cari jejak nostalgia yang tersisa di antara anjungan demi anjungan.

Sial. Santapan nostalgia siang itu pun habis. Ya tersisa obrolan tak penting yang diobral si sopir mobil tour. Tak apalah, aku justru menemukan bahwa taman yang kukelilingi selama sekitar dua jam itu memang benar-benar miniatur Indonesia. Sebuah bangsa salah urus, kurang suka berpikir logis, tapi lebih suka mikirin mistik. Duh.. duh… Mendingan makan bistik, deeeh!

Sekolah

Ketika aku datang pagi ini, seorang teman tampak sibuk berkemas. Mengambili kertas-kertas yang teronggok di sudut meja, mengikatnya menjadi satu bundel tebal. Menggeser kotak-kotak anyaman bambu warna warni koleksinya, dan mengelapnya. Tumpuk demi tumpuk buku di mejanya pun disusunnya kembali. Semuanya ia masukkan ke dalam kardus besar. Tak cukup satu kardus. Mungkin ia perlu empat kardus besar untuk membuat semua barang di mejanya terangkut. Ia memang sibuk berkemas. Ia akan pindahan. Pindah kota, pindah kerja, pindah kehidupan.

Melihatnya sibuk, perasaanku campur aduk. Aku banyak belajar darinya selama ini, dan sekarang, ia akan pindah. Perasaanku pun menjadi entah. “Aku akan sekolah lagi.” begitu katanya ketika kutanyakan apa rencana berikutnya.

Tentu tidak ada yang salah dengan rencananya. Keputusannya untuk sekolah lagi sudah dipikirnya masak-masaknya. Temanku, seorang perempuan cerdas, tentu tidak ingin otaknya mengeras karena rutinitas. Pikirannya selalu mengalir bak air jernih, gemericik, mengiringi setiap ketuk jemarinya di papan ketik. Pikirannya lancar tertuang utuh menjadi karya yang menggugah. Bahasanya bernas, ulasannya tangkas. Entah sudah berapa jiwa yang semula layu tanpa asa, kembali mekar setelah mengeja tulisannya yang segar. Ya, tentu saja, tidak ada yang salah dengan rencananya. Meski untuk mewujudkan rencana itu, ia harus mengorbankan apa yang ia miliki sekarang. Sesuatu yang sudah disusun teliti selama lima tahun. Atau.. tunggu.. tunggu, mungkin aku yang salah menduga, ia justru merasa tidak memiliki apa-apa lagi di sini?

“Aku malah senang sekali sekarang,” begitu katanya ketika kutanyakan bagaimana perasaannya menjelang kepindahannya. “Semua sudah kupersiapkan. Aku akan belajar lagi,” katanya mantap.

Separuh hidupnya kini ada dalam kardus, terselip di antara buku-buku, tergurat di atas ratusan kertas-kertas bekas yang selalu ia simpan rapi. (Ia tipe orang yang tidak pernah membuang catatan, notes, sobekan karcis pertunjukan, undangan seminar, agenda rapat, de el el) . Semuanya sudah terbungkus rapi. Dan segera akan ia bawa serta untuk kembali disusun di tampat barunya nanti. Entah apa yang ada di pikirannya, bagiku seruwet coretan pensilnya di notes hariannya. Baiklah, selamat belajar teman …  Tentu saja, aku gembira atas rencanamu itu!

 

Legenda

Namanya Nancy. Pembicaraan kami malam itu dimulai dari cerita seputar dirinya. Sepotong cerita yang berusia jauuuh lebih tua daripada umurnya.

Perempuan itu selalu tampak menunggu, termangu di ambang jendela. Pandangannya kosong. Menembus pepohonan di Insulindepark, melayang hingga merambahi pucuk Gunung Manglayang. Ia selalu menunggu entah. Kekasihnya atau kebenaran. Ia tak tahu mana yang akan lebih dulu menemuinya. Ternyata, maut yang menjemputnya dulu. Ya, ialah Nancy perempuan yang memilih mengakhiri hidupnya dengan melemparkan diri dari ujung tangga. Namun, penantiannya menjadi tak berujung. Menurut cerita, ia akan selalu tampak menunggu. Iya, menunggu di ambang jendela itu. Tepat di lantai teratas bangunan SMA 5 Bandung. Ia sudah menunggu … mungkin selama 86 tahun. Bagi yang kebetulan melihatnya di jendela itu, sapalah.. namanya Nancy.

Obrolan kami malam itu membahas penyebab ia bunuh diri. Satu potong cerita bilang, ia memilih bunuh diri karena patah hati. Kekasihnya meninggalkannya, mungkin tewas di Perang Jawa, mungkin tenggelam di Semenanjung Pengharapan, atau malah mungkin kawin dengan perempuan lain. Namun potongan cerita yang lain menyebutkan, ia memilih mati karena diperkosa.

Cerita Nancy mengingatkanku pada sepotong kisah lain yang dituturkan oleh seorang teman, tentang seorang pejuang bangsa Afrika. Pejuang ini tertangkap oleh penguasa rezim apartheid. Sang penguasa pun menjatuhkan hukuman pada si pejuang atas dakwaan telah melanggar peraturan dan mengganggu ketentraman umum. Ada dua pilihan, disiksa dalam penjara atau mati. Dan si pejuang memilih mati. Sama seperti Nancy, kisah si pejuang selalu diceritakan berulang-ulang.

Mungkin benar. Adakalanya kematian menjadi pilihan. Bukan, bukan mati untuk mengakhiri hidup, namun mati untuk hidup kembali. Adakalanya, kematian yang justru menghidupkan nama hingga berpuluh-puluh tahun, beratus tahun, atau bahkan berabad, kemudian. Kematian yang membuat sepotong nama menjadi legenda. Dan orang-orang seperti aku - selalu penasaran dengan cerita-cerita legenda  - yang bikin legenda itu terus hidup. Paling nggak, legenda akan terus dihidup-hidupkan dalam obrolan yang nggak penting macam tulisan kayak begini. :D

Ramuan Persahabatan

Sepotong perhatian dan segenggam ketelatenan. Itulah ramuan untuk merawat persahabatan. Sayangnya, aku sering kali kekurangan persediaan ramuan itu di ruang hatiku.

Bukannya aku tidak punya perhatian. Sering aku mengambinghitamkan rutinitas yang mengeringkan energi, mengeringkan rasa. Dan aku pun mengering layu. Semangatku yang meluap di awal tahun pun menguap entah ke mana. Aku seperti kehilangan perhatian.

Sahabat yang tepat selalu mengingatkanku bahwa merawat persahabatan itu mudah. “Yang kamu perlukan hanya sepotong perhatian dan segenggam ketelatenan,” begitu kata beberapa sahabat, tentu dengan dengan gaya bicara mereka yang berbeda-beda, “dengan begitu semangatmu akan terus tergenggam”.

Ya, sepotong perhatian datang dari seorang teman lama yang bekerja di pabrik kata-kata. Sepotong perhatian itu terselip dalam surat elektroniknya. Hmm, rupanya dia menulis surat itu pagi sekali. Terlalu pagi ketika keretanya tiba di Gambir, sehingga rumah sewanya masih terkunci.

Dia pun mampir di sebuah warung bubur di sekat jalan layang perempatan Slipi. Entah apa yang ada di kepalanya, entah karena di Slipi, entah karena bubur, entah karena penjualnya orang Sunda. Yang jelas, tiba-tiba ia teringat padaku dan mengirimkan sepotong surat itu. Isinya sangat khas. Celoteh sederhana, ringan, namun mengena. Iya, mengena, karena dengan celotehannya itu aku tahu bahwa ia mengingatku. “Aku kangen sama kamu,” begitu katanya lagi dalam surat elektroniknya tadi pagi.

Ya, ya, aku selalu terkesan dengan celotehan. Apalagi jika yang melontarkan seorang teman. Rasanya hangat. Tidak melulu hal penting yang harus diobrolkan, justru hal sederhanalah yang bisa membuat pertemanan kami mengesankan.

 Lain lagi dengan seorang teman lama dari Botoran, Tulungangung sana. Gimana kabarmu?” begitu katanya setiap kali menyapaku melalui telepon genggamku. Dalam hitungan menit, ceritanya mengalir lancar. Tentang muridnya, anaknya, rumahnya, sekolahnya. Tidak selalu ceria memang, kadang sendu ketika ia menceritakan tentang kerinduannya pada cinta. Ah, apapun kisahnya, aku selalu senang mendengarkan.

Mereka, para teman lama, mengingatkan bahwa merawat persahabatan itu mudah. Hanya perlu sepotong perhatian dan segenggam ketelatenan. Ya, aku belajar dari mereka.

kopi

Beberapa hari lalu, aku dan seorang teman membuat perdebatan kecil tentang efek kopi. Teman ini mengeluhkan efek secangkir kopi yang baru saja dia minum. “Aku menjadi mellow, nggak stabil,” begitu katanya. Ya tentu saja, keluhannya itu membuatku ngakak.

“Nggak masuk akal.” Komentarku itu pun bikin dia makin ngotot menjelaskan bahwa kopi membuat sistem syaraf tubuhnya menjadi buyar, tidak stabil, dan menggiringnya untuk memikirkan hal-hal yang sentimentil. Perasaan tidak nyaman itu bercokol hingga dua hari lamanya. (Ah, itu sih dasar kamu aja yang melankolis!)

Tapi pembicaraan kami itu ternyata menghasilkan satu kesimpulan penting. Efek kopi ternyata bisa di luar dugaan.  Kalau bagiku menenangkan, maka bagi yang lain bisa berarti mengacaukan pertahanan tubuh. Paling tidak, membuat seseorang menjadi rileks meski sedang membongkar hatinya, dan mengurai kembali jahitan-jahitan luka hatinya.  

Ini terbukti pada dua teman yang lain, di waktu yang lain lagi. Dengan kopi, dua orang teman yang sedang mengidap luka cinta pun berbagi cerita. Satunya, seorang lelaki yang muram. Ia bilang bahwa sudah empat kali perempuan yang dikasihinya mengkhianatinya. Dan kedua, perempuan yang mengaku sudah memberikan seluruh hatinya pada seorang lelaki, hingga ia pun rela membagi lelakinya itu dengan perempuan lain.

Entah berapa tahun keduanya bertahan dengan perasaan mereka. Perasaan yang entah. Hanya satu yang aku tahu pasti, ada luka yang masih basah di situ. Dan akan selalu basah jika bukan mereka sendiri yang mengeringkannya.

Karena kopi yang kami hirup, atau mungkin juga karena udara pekat persahabatan, kami pun merasa dekat. Berbagi cerita yang tidak pernah kami bagi sebelumnya. Berharap, bisa berbagi hangat untuk membangunkan kembali semangat.  

Ya.. ya.. hati kami benar menjadi hangat. Cerita di warung kopi pun berlanjut. Kami pun melanjutkan obrolan kami di pantai berharap bisa menyapa matahari.

Tiba-tiba ada sebuah lagu di kepalaku.

Hidup ini hanya kepingan, yang terasing di lautan. Memaksa kita memendam kepedihan.Tapi kita juga pernah duduk bermahkota. Pucuk-pucuk mimpi yang berubah jadi nyata. Dicumbui harumnya putik-putik bunga. Putik impian yang membawa kita lupa …. (Pas Band)

PS: My dear friends.. ayo kita cari lagi pucuk-pucuk mimpi kita!

Aroma

Ia menyebut dirinya dengan sebutan papa. Setiap kali bercerita, tak pernah sekalipun ia menyebut dirinya dengan kata ganti saya. Entahlah, mungkin untuk mendekatkan orang padanya, atau ia jsutru terlalu baik dan menganggap setiap orang adalah anaknya.

Papa orang yang senang bercerita. Ia tidak pelit membagi pengetahuannya. Umurnya kutaksir sudah lebih dari setengah abad. Dan itu membuatnya menjadi orang yang paham betul tentang kehidupan. Satu topik yang paling disenanginya, kopi.

Pengetahuannya tentang kopi sungguh luar biasa.

Ia tahu betul bagaimana memilih biji kopi yang baik. Ia datangkan berkarung-karung biji kopi dari penjuru perkebunan kopi di nusantara, mulai Aceh, Jawa, Bali, hingga Toraja. Mana yang arabika, mana yang robusta, hanya dengan meraba dan mengendus, ia tahu bagaimana membedakannya.

Ia memperlakukan biji kopi dengan istimewa. Disimpannya berkarung-karung biji kopi itu di gudang tokonya. Itulah gudang hartanya. Lihatlah tumpukan debu dan pintalan sarang laba-laba yang berjuntai-juntai di permukaan karung. Ratusan karung itu memang sebagian besar sudah hampir delapan tahun ditimbun. Ya harus benar-benar delapan tahun. “Supaya aroma dan rasanya keluar,” begitu alasannya.Ia hanya akan mengolah biji kopi yang sudah berumur delapan tahun untuk dijadikan bubuk kopi nan harum.

Tak hanya memamerkan gudang harta, papa juga membanggakan pabrik kecilnya yang sesak. Tumpukan kayu bakar berjejeran dengan belasan drum berisi bubuk kopi. Tak jauh dari situ, terdapat tungku besar untuk menyangrai biji kopi. Terdapat pahatan angka 1936 di dinding tungku besar itu, menandakan awal mula tungku itu beroperasi.

Di parbik kecilnya itu, papa menghabiskan waktu sepanjang hari. Memeriksa tumpukan biji kopi di gudang, mengeluarkannya sedikit demi sedikit, menyangrai biji kopi dalam tungku bermesin khusus dan kemudian menggilingnya menjadi bubuk kopi yang beraroma harum.

Ia sudah melakukan itu seperti yang ayahnya dulu lakukan. Sebuah sepeda tua tergantung di atas pabrik kecilnya. Sebuah sepeda kuno yang dulu sering ia pakai bersama ayahnya. Ya, papa adalah generasi kedua keluarga kopi itu. Di tangannya, tungku di pabrik kecil di sudut Jalan Banceuy itu terus menyala dan menghasilkan bubuk kopi yang beraroma.

Next Page »