Letter from Beyond

October 25, 2009

Pada sebuah malam. Tanpa sengaja aku bertemu Qisha dan Reno, sebuah kisah imajiner dari masa lalu yang jauh. Masa lalu yang jauh milik seorang lelaki dengan sekuntum bunga yang selalu menguncup di tangannya.

Qisha dan reno muncul dalam sebuah surat setahun yang lalu. Surat yang ditujukan kepada entah. Lelaki itu menulisnya ketika malam yang murung tengah mengurung.

Qisha dan Reno adalah penyesalan lelaki itu. Menyesali waktu yang tidak memihak. Menyesali langkah yang abai menapak. Menyesali kasih yang salah memilih. Ia tidak hendak meminta waktu kembali. Tapi ia hanya ingin merasai sejenak kenangan yang dulu pernah dicecapnya. Pun waktu tak sudi menoleh. Penyesalan pun membeku, awet seperti bunga di tangannya yang tidak akan pernah mekar. Bunga dengan kelopak merah darah yang selalu bergelung di ujung tangkainya yang menghijau. Ranum. Tak mekar. Tak juga layu.

Qisha dan Reno akan terus ada dalam lipatan ingatan. Cerita masa lalu yang tak terhapus dan tak tertebus.


Kejujuran Lidah

September 18, 2009

Memang lidah nggak bisa bohong.

Aku setuju dengan iklan mie instan di televisi yang mengangkat kejujuran lidah. Terlepas dari iklan itu berlebihan atau nggak, tapi dalam praktek nyata pameo itu sudah terbukti. Setidaknya di tempatku bekerja.

Menjelang hari raya seperti sekarang ini, kiriman makanan mendadak mbanyu mili bak air mengalir. Dari relasi itu ini, dari hotel ini itu. Seminggu terakhir ini, meja urusan logistik di tengah ruangan pun penuh makanan: makanan kemasan pabrikan, minuman kaleng, kue-kue kering dalam kemasan plastik yang cantik, dan kue-kue tart berdekorasi aduhai. Bingkisan makanan ini menlengkapi sajian makanan kecil yang sering tampil dari para simpatisan yang berbaik hati membagi menu berbukanya. Makanan kecil yang sering muncul dari para simpatisan ini seperti: agar-agar made in Nanik, gorengan tahu, tempe, cireng, yang sering dibeliin Nanik, Martabak telor atau lunpia favorit Luhur.

Nah, bak panggung aduan, ternyata makanan yang kerap muncul berbarengan ini beradu laris. Ternyata yang paling cepat tandas adalah gorengan! Gak peduli apa yang digoreng, entah martabak yang agak berkelas kaki lima mahalan dikit, tempe yang cokelat gelap karena memakai minyak 10 kali pakai, hingga cireng kenyal alot karena sudah dingin, lebih cepat laris manis tanjung kimpul. Sementara, bingkisan hotel yang cantik menik-menik itu ternyata lebih sering mengendap dulu di kulkas untuk disajikan lagi  besok sorenya.

Mungkin inilah yang disebut selera dan cita rasa. Bicara soal rasa, memang lidah nggak bisa bohong. Soal kelas dari mana asal muasal makanan dan bagaimana penyajiannya? Halaagh …


Toko Kue Ibu-ibu

September 18, 2009

Aku masih mengantuk. Tapi, ini adalah pagi yang sibuk. Nggak peduli jam masih menunjukkan pukul 06.00, tapi aku sudah memaksa diriku untuk beringsut. Aku musti mempersiapkan diriku untuk menembus kerumunan ibu-ibu! Aaah, pagi-pagi dan ibu-ibu yang mengerumuni kue fresh from the oven, jelas bukan perpaduan kata favoritku. Apalagi dua hari menjelang liburan Lebaran seperti hari ini.

Bukan toko kue di Kota Bandung namanya kalau tidak dipadati ibu-ibu. Jangankan yang bangunannya magrong-magrong di pinggir jalan protokol, yang di gang sempit pun asal sudah punya nama pastilah ramai. Salah satunya ya toko kue di Jalan Kamuning ini.

Bronis panggangnya terkenal garing dengan cokelat legit yang manisnya pas. Sementara di etalasenya dipenuh dengan kue-kue basah mulai dari jajanan pasar hingga bolen, pastel, dan schootel ala negeri Belanda. Belum lagi kue kering dan camilan dalam kemasan-kemasan plastik yang cantik itu… Rasanya? Jelas boleh diadu.

Nggak heran, toko kue ini selalu jadi incaran ibu-ibu yang punya acara keluarga, ibu-ibu yang mau bikin arisan,  ibu-ibu yang suka ngemil, pelancong ibu-ibu yang berwisata kuliner ke Kota Bandung. Lha kok semua ibu-ibu? Ya memang kebanyakan yang dateng ibu-ibu. Kalau nggak percaya, datang saja ketika toko baru buka pukul 07 sampai mau tutup pukul 20!

Tapi berkat ibu-ibu yang selalu-teliti-mengamati-kue-dan-riuh-bertanya-itu-ini-tentang-harga-dan-rasa inilah aku pun yakin bahwa toko kue yang satu ini memang masuk kategori highly recommeded. Dan pagi ini, kembali aku mempersiapkan diri untuk menembus kerumunan ibu-ibu yang selalu-teliti-mengamati-kue-dan-riuh-bertanya-itu-ini-tentang-harga-dan-rasa itu.

Dengan tak kalah cekatan dengan para ibu itu, aku memasukkan ke dalam kerangjang belanja: satu bronis panggang rasa keju, dua cake pisang panggang, dan satu bolu ketan hitam pandan kukus. Plus satu plastik kue kering almond. Kubayar dan lantas kutata rapi dalam tas merah marun. Aku pun pulang dengan hati riang. Besok, penganan itu akan kujejer di meja makan di rumah. Kue-kue itu pesanan ibuku.


Tak Ada Waktu Untukmu

August 31, 2009

Dia memang cantik. Bentuk wajah serupa hati dengan dagu meruncing. ada gurat halus di dagu saat dia tersenyum. Ya, senyumnya sungguh menawan apalagi dengan lesung di pipinya. Sepintas, mirip Tante Desi Ratnasari.

Penampilannya pun menarik. Stelan bajunya serasi dengan tas dan sepatunya. Kalau blazernya cokelat tua, untuk dalamannya ia memakai blus putih berkerah kerut merut ala gothik. Sebagai padanannya, celana berbahan drill warna cokelat muda yang dipadukan dengan tas dan sepatu warna senada. Elegan. Meyakinkan. Perempuan itu mengaku bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan daerah milik Provinsi Jabar.

Tadi pagi, dia kembali datang dengan senyum mengembang. Bergaya kasual dengan celana jeans 3/4 dan atasan blus kotak yang longgar. Tetap cantik dan menarik. Menyapaku dengan caranya yang khas: menggenggam tangan, menggamit lengan, dan mencium pipi. Tapi, seperti yang sudah-sudah, ia masih saja gemar mengumbar cerita yang tak benar.

Maaf, kali ini aku tidak punya waktu ngobrol panjang lebar denganmu. Aku sudah tahu tentangmu, suamimu, dan tanggungan hutang-hutangmu! Sudah cukup kamu mempermainkanku.


Cerita tentang Mbak Cantik

August 27, 2009

Gaduh saat masak? Atau bersenandung riang kala mencuci baju? Atau terlalu tergesa menutup pintu pagar hingga menimbulkan suara berisik? Atau cekikikan saat terima late night phone call? Kalau kamu penghuni rumah kos nomor 8, jangan coba-coba melakukan hal seperti itu! Dijamin, kamu bakal kena pasal perbuatan yang tidak menyenangkan.

Sudah kondang seantero gang, rumah kos nomor 8 ini seperti rekaman adegan film rekaan “membaca di perpustakaan”. Sungguh toto titi tentrem adem ayem. Tak ada gejolak harga minyak apalagi huru hara. Tulisan berukuran besar yang nempel di kaca jendela ruang tamu menegaskan kondisi ini: Kos putri baik-baik.

Memang awalnya nggak mudah menerjemahkan kata “baik-baik”. Tapi dari aturan yang diterapkan, kriteria baik-baik adalah tidak berbicara keras-keras, tidak berisik saat nyuci baju, tidak sok bersenandung merdu saat nyuci baju, tidak gaduh saat memasak, tidak memasak makanan berbau tajam, selalu rajin beberes kamar, tidak lupa mematikan lampu kamar mandi, tidak boros air, kalau nyimpen makanan di lemari nggak sampe basi busuk, kalau jalan berjingkat-jingkat, tidak malas menjejer rapi sepatu dan sandal di rak yang sudah disediakan.

Banyak? Ah, itu relatif. Itu baru sedikit bagian dari deret ukur kebaikan ala rumah kos nomor 8. Apakah aku masuk kriteria baik-baik? Ya, sudah pasti! Aku sudah bertahan tiga tahun lebih di rumah itu. (untuk prestasi yang satu ini aku sendiri juga heran, hehehe)

Ah, tapi itu cerita lalu. Saat ini, sepertinya angin perubahan sedang berhembus lewat ventilasi. Semilir, menyejukkan, memberi harapan. Sang pemilik rumah kini lebih toleran.

Toleran?? Iya, toleran. Seminggu ini warga rumah kos nomor 8 sungguh riang. Sedikit canda tawa jam 4 subuh sungguh tak mengapa. Tetangga malah ada yang pacaran di pagar rumah saat sudah lewat jam malam. Ada juga yang teledor menjatuhkan panci pas nyuci jam 10 malam tanpa kena teguran.Ada lagi yang dengan sengaja menaruh begitu saja tumpukan sayur mayur bercampur panci dan piring kotor.

Bukan, bukan karena berkah Ramadhan atau hal-hal religius lainnya. Tapi dugaanku yang ngawur dan serampangan mengatakan ini adalah perubahan kecil yang dibawa oleh si mbak cantik nan gemar berbohong.Si mbak cantik berpenampilan menarik ini jadi warga rumah kos nomor 8 terhitung pada Februari lalu.

Tapi kemunculan si mbak cantik ini seolah mengguncang tatanan kebaikan. Si mbak berpenampilan baik dan berjemari lentik ini ternyata kelakuannya nggak baik: tukang ngutang dan ngemplang. Ia menghilang setelah ketahuan mangkir bayar kos selama 3 bulan, ngutang uang pulsa beberapa ratus ribu, dan sok belaga lupa harus bayar utang ke tetangga-tetangganya. Si mbak cantik ini sudah tidak kelihatan jemari lentiknya selama enam bulan terakhir. Paraaaaaah!

Nah, mungkin karena awalnya si mbak cantik ini penampilannya dan unggah ungguhnya masuk kriteria baik-baik, maka ia dapat puja puji dari sang pemilik rumah kos nomor 8. Tapi, lama-lama ya keliatan belangnya. Sekarang sang pemilik keliatannya mulai hilang sabar buat nungguin si mbak cantik balik ke kos buat ngelunasin semua utangnya. Dan mungkin karena itu juga, sang pemilik mulai berpikir ulang dengan deret ukur kebaikan yang sudah diterapkan.

Yang jelas, kendornya ukuran kebaikan ini bikin warga bernafas sedikit lega. Udara ruangan terasa lebih segar, ceria, ringan, dan gembira. Hayo… tebaak, bertahan berapa lama seperti begini?


Manis, tapi Jual Mahal

July 16, 2009

Aku suka buah mangga. Di setiap musim mangga, hampir setiap minggu aku membungkus sekilo. Aku membelinya pada si bapak penjual buah langganan.

Ya, hanya mangga yang bisa membuatku datang rutin pada si bapak. Mangga arum manis. Tidak ada yang lain. Padahal, si bapak yang punya lapak kecil ini tidak hanya menjual arum manis, masih ada manggga golek, mangga gedong gincu, kelengkeng, jeruk medan, jeruk pontianak, tergantung mana yang sedang musim.

Mangga si bapak memang jaminan mutu. Dagingnya tebal, buahnya  besar. Harum, dan rasanya pasti manis. Dia bilang, mangga ini diadatangkan dari Jawa Timur, Probolinggo, atau Nganjuk. Entah dari mana jatim sebelah mana lagi, aku tidak peduli. Yang pasti rasanya beda dengan yang kubeli di lapak pinggir jalan, atau di pasar dekat kos, atau di supermarket. Di tempat coba-coba itu, aku perlu nasib baik untuk mendapatkan mangga yang manis. Makanya, karena malas mencoba-coba, akhirnya lagi-lagi aku kembali pada si bapak. Di lapak di emperan toko kelontong itu, aku cuma perlu memilih mangganya dan memasukkannya dalam timbangan. Insting, kepekaan, nasib baik, ah, aku abaikan saja. Sudah pasti mangga yang kubungkus harum dan manis!

Tapi, ono rego ono rupo. Si bapak ini tahu betul memanfaatkan konsumen loyal yang bego macam aku ini. Iya, aku bego karena aku tak juga mampu menemukan tempat jualan mangga yang seenak dan semanis punya si bapak. Praktis, bagiku, si bapak tak punya kompetitor. Aaaah, dan dia sepertinya tau hal ini. Meski aku sudah bolak balik beli sama dia, tetap saja dia selalu menjual harga di atas harga pasaran. Contohnya begini, kalau di pasaran – ketika mangga sedang banyak-banyaknya di jalanan – harganya enam ribu per kilo isi empat biji . Nah, si bapak action dengan 10 ribu per kilo isi tiga biji. Tetap kubeli saja. Lha, mau bagaimana lagi, mangganya lebih manis dan besar.

Nah, si bapak barusan berulah lagi. Minggu kemarin aku membelinya masih di harga dua belas ribu lima ratus perak! Seperti biasa, sekilo isi tiga buah. Eh, siang ini kubeli malah di harga lima belas ribu! Kali ini memang lebih besar sih, sekilo isi dua biji. Aku pun mengomel.

+ Lha, bapak ini gimana? biasanya orang jualan makin lama makin murah, ini malah makin mahal, padahal baru seminggu!

- Enggak, Neng, ini juga sudah murah. Bener, rasanya manis. Soalnya barangnya udah gak banyak. (dengan rayuan semanis mangga tentu saja)

Dooooh! Lagi-lagi aku menyerah. Ya, memang sih, musim mangga ini belum pada puncaknya. Aku belum melihat penjual mangga dadakan di jalanan. Tapi tetap saja itu tidak membuatku berhenti ngedumel. Dan tetap saja, meski menggerutu, aku menganggsurkan selembar sepuluh ribuan dan lima ribuan.

Jadi, ada yang tau nggak, tempat jualan mangga arum manis yang bener manis tapi penjualnya gak jual mahal?


Anak Naga

July 7, 2009

“Hanya kegelisahan yang usulnya tak jelas.”

Itulah tulisan terakhir Ryunosuke kepada sahabatnya. Dalam cengkeraman kegelisahan yang begitu kuat, Ryunosuke akhirnya memilih mati dengan menelan berbutir-butir pil penenang pada 24 Juli 1927. Si anak naga peletak dasar penulisan cerpen dan novelet Jepang ini mengakhiri hidupnya pada usia 35 tahun.

Ryunosuke lahir dari pasangan Toshizo Niihara dan Fuku pada tanggal 1 Maret 1892 di Tokyo. Dalam kalender Jepang, tanggal lahirnya bertepatan dengan hari Naga Air dan tahun Naga Air. Karena itu ia dipanggil Ryunosuke yang berarti anak naga. Ketika usianya tujuh tahun, Fuku ibunya menderita sakit jiwa. Peristiwa ini begitu membekas bagi Ryunosuke hingga persoalan kejiwaan tergambar jelas pada sejumlah karyanya di kemudian hari.

Karirnya sebagai penulis cerpen dimulai dengan “Ronen” (1914). Ryunosuke menerbitkan cerpen itu pada majalah sastra yang didirikannya bersama dua teman kuliahnya di jurusan Sastra Inggris Universitas Kekaisaran Tokyo. Tapi, namanya mulai dikenal ketika ia menulis “Rashomon” (1915). Pada cerpen itu, ia mulai memakai nama Akutagawa Ryunosuke.

Sejak itu, tak kurang ada 30 cerpen dan novelet lahir dari penanya selama 12 tahun karir menulisnya. Gayanya mengawinkan realis dan surealis. Gaya bertuturnya pelan, detil, dan sering mengundang nuansa asing yang senyap. Tokoh cerita acap kali tenggelam dalam konflik batin yang pekat.

Kegelisahan tergurat dalam sejumlah cerpennya. Dalam “Rashomon” atau pintu gerbang, ia melukiskan pikiran seorang Genin, samurai kelas rendah saat dihadapkan pada kehancuran Kota Kyoto. Di antara mayat-mayat bergelimpangan, Genin ini muak dengan seorang nenek yang hidup dengan menjual rambut para mayat untuk dibuat cemara. Tapi ia pun tak berdaya menahan perutnya yang lapar. Pada akhir cerita, Genin ini malah merenggut baju si nenek untuk dijual.

Lain lagi dengan “Hana” atau hidung (1916) yang bertutur tentang seorang pendeta dengan hidung sepanjang 16 cm. Hidung itu sungguh merepotkan karena bergelayut mulai dari atas bibir hingga melewati dagu. Dengan perlahan dan detil, diceritakan bagaimana perang batin sang pendeta yang ingin memendekkan hidungnya. Namun, ketika hidungnya memendek, ia justru tak bahagia dan ingin hidung panjangnya kembali.

Ryunosuke sempat bekerja sebagai wartawan dan ditugaskan ke China pada tahun 1921. Namun sepulang dari daratan Tiongkok, ia menderita schizophrenia. Ia jadi sering berhalusinasi. Meski demikian ia masih menulis. Salah satu tulisannya yang imajinatif adalah Kappa (1927) yang disebut-sebut sebagai kritik sosial atas masyarakat urban Jepang pada massa itu. Dalam ceritanya, Kappa adalah hewan imajiner dengan kehidupan mirip seperti manusia.

Kegelisahan demi kegelisahan terus menghantuinya. Ia takut menjadi gila. Seiring dengan penyakitnya yang makin parah, Ryunosuke mengalami masalah keuangan. Akhirnya ia kelelahan dan memilih mati. Tahun 1935, namanya diabadikan sebagai penghargaan sastra bergengsi bagi para penulis baru.


Imogayu

July 5, 2009

Atau dalam bahasa kita adalah bubur ubi. Ubi yang direbus bersama cairan gula hingga lumat? Tak yakin aku akan menyukainya.

Tapi ada bubur ubi yang bikin penasaran. Ini gara-gara aku baru saja membaca cerita pendek  Akutagawa Ryunosuke. Dalam cerita yang berseting zaman samurai tahun 885-889 itu, semangkuk bubur ubi hangat adalah makanan yang lezat lagi enak. Makanan ini biasa disajikan pada hari-hari perayaan di rumah para bangsawan atau kerajaan.

Nah, tersebutlah seorang goi, samurai kelas rendah yang sangat menyukai bubur ubi. Goi ini digambarkan sangat lugu hingga cenderung bodoh. Kerap dicaci dan dihina, tapi ia tak pernah marah. Bukannya dia penyabar, tapi memang dia tidak sadar bahwa dirinya sedang direndahkan. Ia bertubuh pendek ceking, berpenampilan lusuh, dan sebilah pedang yang kusam. Pendeknya, ia tak layak berperang. Sepanjang hidupnya, goi berusia 40-an tahun ini selalu mendambakan bisa makan bubur ubi sepuasnya.

Hingga suatu hari tibalah hari gembira itu. Ia dijamu makan oleh seorang bangsawan filantropis kaya raya. Bangsawan itu masih kerabat keluarga yang mempekerjakan si goi. Di rumah bangsawan itu, ia bisa menyaksikan bagaimana para pembantu menyiapkan bubur ubi untuknya. Para pembantu itu tak mengupas  sebuah ubi, tapi puluhan. Ya, puluhan ubi yang mirip talas berukuran betis orang dewasa itu menggunung di dapur, menunggu untuk dikupas dan dicemplungkan ke kuali perak berukuran besar.

Melihat proses itu, si goi mulai kehilangan selera. Begitu kuali perak besar berisi bubur ubi tersaji di ruang makan, goi pun merasa perutnya mual. Keringat dingin mengucur deras di dahinya, lengannya, dan perutnya. Tapi demi menghormati tuan rumah yang sudah berbaik hati menjamunya, ia pun makan separuh isi kuali sedikit demi sedikit.

Alih-alih merasa puas karena bisa makan bubur ubi sepuasnya, ia justru merasa bubur itu menggeder gedor lambungnya dan minta dimuntahkan. Ia pun berhenti sejenak. Sejenaak, hingga seekor rubah datang ingin makan bubur ubi. Si Tuan filantropis yang semula sibuk memaksa si goi menghabiskan sakuali bubur ubi, menjadi sibuk memerintahkan pembantunya untuk memberi rubah itu semangkuk bubur ubi. Goi pun lega karena tidak perlu lagi menghabiskan bubur ubi. Keringat yang semula membasahi bajunya pun perlahan mengering. Tiba-tiba angin pegunungan bertiup. Dingin menggigiti tubuhnya. Dan, bersamaan dengan itu, goi pun bersin dengan kerasnya ke arah kuali perak yang berisi bubur ubi.

Begitulah, akhir cerita goi dan semangkuk bubur ubi yang begitu diidamkannya. Begitu aku menamatkan cerita itu, aku tertawa. Ganjil, lucu, dan aneh. Ya, aneh. Jalinan cerita yang detil, beritme lambat, dan bernuansa senyap ternyata harus berakhir dengan bersin yang sepele dan menjijikkan. Maklum, aku pembaca pemula cerpen Jepang. Mungkin kalau sudah terbiasa, aku tidak akan merasa ganjil lagi. Dan mungkin aku akan berpikir bahwa bubur ubi itu enak sehingga benar-benar tertarik mencobanya.


Malam Terakhir

June 18, 2009

Aku sudah mengemasi semuanya, membungkusnya dalam kardus, termasuk juga kenangan.

Kenangan itu lekat di dinding. Baru saja aku mencopot satu foto. Foto Tamansari sebelum dipugar hingga mirip tempat spa Sheraton seperti sekarang ini. Bukan foto istimewa tentu, apalagi kalo ditilik dari komposisi, teknis bla bla ..waduuuh jauh jauh. Tapi bagiku itulah sepotong kenangan, sepuluh tahun lalu, kala belajar menjepret dengan kamera Nikon FM2 hasil meminjam. Aku suka warna langitnya yang biru, maka kupajang foto itu.

Kenangan itu teronggok di meja di sudut itu. Meja kayu jati besar yang usianya sama dengan usiaku. Dulu, waktu berumur balita, aku sering duduk di atas meja itu, melihat truk yang lalu lalang di depan rumah. Dan di meja itu juga, aku mengerjakan tugas-tugas sekolah sampe kuliah, ditemani radio stereo dan lampu meja yang kutaruh di atasnya.

Kenangan itu terlipat, menjadi ganjalan pintu. Pintu kamarku memang sudah gak beres sejak lama. Pegangannya sudah tidak berfungsi sempurna. Alhasil, jika pintu itu ditutup tanpa dikunci, angin tetap bisa mempermainkannya. Dan, pernah pada suatu malam, pintu itu tiba-tiba terbuka sendiri. Dan ada seseorang berdiri di sana. Berdiri sebentar, sebentar saja, mugkin hanya dua kejap mata. Namun itu sudah cukup bikin badanku dingin dan jantungku melorot sampai perut. Sampai sekarang aku tidak tahu itu siapa, dan tidak mau tahu…

Kenangan itu melayang-layang di langit-langit kamar. Sebelum tidur, langit-langit itu yang kupandangi. Masih saja aku ingat, di kamar ini ada banyak senandung: tentang sore yang tak habis, tentang cerita yang tak selesai, tentang malam yang tak berpulang, tentang lagu yang akan selalu berputar di kepala. Ah,tentu, aku bukan manusia kamar, tapi aku tumbuh dan sebagian cerita itu ada tergantung di langit-langit kamarku.

Dan sepanjang hari ini, aku sudah mengemasi semuanya, membungkusnya rapi dalam kardus, termasuk juga kenangan. Besok pagi, semua akan diangkut pindah.


Berkemas

June 17, 2009

Ada yang tidak biasa di kepulanganku kali ini. Aku pulang untuk mengemasi barang-barang. Kami akan pindah.

Ternyata mengemasi barang bukan perkara mudah. Sebetulnya persiapan pindah ini sudah dimulai sejak dua bulan lalu. Buku-buku di kamarku sudah kubungkus rapi dalam kardus. Pun baju-baju. Tapi aku seorang penggemar hal remeh temeh. Rupanya kamarku juga penuh dengan barang-barang yang aku sekarang pun lupa pernah menimpan itu: sobekan karcis bis yogya-purwokerto, robekan tiket bioskop, surat lawas yang terlipat, potongan berita Bernas tentang festival film, kalender jadul bergambar malioboro tempoe doeloe, buku harian warna cokelat jaman cinta monyet di smp, kartu pos berperangko Thailand, nota Oregano yang mencatat pembelian dua cangkir kopi… Banyaklah pokoknya!

Nah, kembali lagi ke urusan berkemas-kemas itu. Sungguh tak mudah. Apalagi mengemasi barang-barang yang sudah bertumpuk selama dua puluhan tahun. Meski sudah dicicil sejak dua bulan lalu, dan dimulai dipindahkan dalam dua kali pengangkutan ke rumah baru, tetap saja masih ada banyak barang untuk dikemasi lagi: berjilid-jilid buku hidrologi berdebu, beberapa lusin piring dan gelas dan perabotan pecah belah, hingga sejumlah set panci-dandang-wajan dan kerabatnya yang serba berisik kalau ditumpuk..bruk.. Klonthaang .. wew …

Seharian aku memunguti itu semua, dari gudang, dari rak, dari meja, dari lemari. Membungkusi dengan kertas koran, dan meletakkannya dalam kadus-kardus berukuran besar. Kardus-kardus itu kini tertumpuk di sudut-sudut rumah. Rumah pun tampak ganjil, lantai berdebu tanpa perabot, tanpa kasur di kamar, tanpa sofa di depan tivi, tanpa meja di ruang makan. Ketika mengobrol, suara kami pun bergema, terpantul dinding yang juga sudah kosong.

Kosong. Iya, besok, rumah ini akan benar-benar kosong. Barang-barang itu akan diangkut dipindahkan ke rumah baru. Dan rumah ini, yang sudah 27 tahun ini kusebut rumah, akan segera dihancurkan. Mungkin akan dijadikan kantor, mungkin akan dijadikan lahan parkir. Entahlah..