Tania

Di dada kirinya tertulis Tania. “If you have any question, ask me. Tanya. Tanya,” katanya sambil mengulang-ulang namanya. Yak, namanya saja sudah membuatku selalu ingin bertanya. Siang itu, Tania memandu kami berkeliling pusat kota Maastricht. Ia menerangkan itu ini mengenai sejarah kota sejak pendudukan tentara Romawi di abad pertama hingga penataan di era Golden Age. Kota yang terbelah sungai, Maas. Sungai ini juga mengalir di gorong-gorong dalam perut kota. “Maastricht is Maastricht,” kata Tania memperkenalkan kotanya.

Tania tentu tidak lagi muda. Kerut merut di wajahnya nggak bisa menutupi lagi usianya. Apalagi tatanan rambutnya yang sedikit di sasak di atas dahi dan dikonde kecil di bagian belakang jelas bukan model rambut masa kini. Tapi pastinya tatanan rambut itu berlaku sepanjang masa mengingat ibu-ibu pejabat di Indonesia masih saja pede dengan gaya seperti itu. Make up Tania pun bisa dibilang agak ajaib untuk ukuran masa kini. Alis diwarnai cokelat sementara kelopak mata dibubuhi warna biru langit yang terang benderang. Tak mengapa, Tania tetap percaya diri. Di sela-sela ceritanya, Tania dengan bangga ia menunjukkan foto anaknya yang menjadi Pangeran di festival Maastricht tahun ini. Kutaksir putranya sudah berusia lebih dari 20-an tahun. Entah itu putranya yang ke berapa. Yang jelas, Tania sudah terlihat tua.

Meski begitu, Tania punya semangat muda. Gesit dan tangkas. Ia memandu kelompok kami – yang usianya mungkin separuh umurnya – berjalan menyusuri gang-gang kota. Dengan antusias ia bertutur tentang perbedaan luas penampang jendela pada rumah-rumah tradisional yang masih bertahan. Ada yang satu jendela tetapi punya empat panel kaca, tapi sebagian besar merupakan jendela lebar satu panel. Perubahan model jendela itu gara-gara Napoleon menarik pajak berdasarkan jumlah panel jendela yang dimiliki. Pada zaman itu, orang lantas ramai-ramai mengganti jendelanya dengan bingkai lebar tanpa kerangka menyilang di tengahnya demi mengurangi jumlah pajak yang harus di bayar. Maastricht pernah menjadi basis tentara Perancis saat pendudukan akhir tahun 1700-an.

Tania pun antusias menerangkan identitas kotanya. “Do not say Hup Hup Holland, here!” tukasnya. Holland hanya merujuk dua provinsi di wilayah utara dengan pusat di Kota Haarleem dan Den Haag. Ya, Maastricht jauh berada di bagian selatan Belanda, berjarak sekitar 200-an km dari Amsterdam. Berada di Provinsi Limburg yang diapit wilayah Belgia dan Jerman. Dan kalau kota-kota di Holland bekerja keras membangun dam karena berada hingga empat meter di bawah muka air laut, Maastricht berada sekitar 300 meter di atas permukaan air laut. Topografinya berbukit-bukit dan punya gua-gua buatan warisan jaman Romawi. Gua-gua ini juga menjadi saksi gelap perang dunia kedua.

I leave you here. Good luck with your study. Don’t forget Maastricht when you leave Netherlands,” pamit Tania di ujung pertemuan kami. Hangat. Ia menjabat tangan kami semua sambil tersenyum sangat ramah. Ah, bagaimana bisa lupa. Kamu mengingatkanku pada teman arisan nenekku dulu.

Sabtu Sial dan Ban Perancis

Kalau saja aku tahu informasi ini sebelumnya, mungkin aku nggak akan beli sepeda yang sekarang kupakai. Merepotkan. Aku membelinya dari kakak angkatan dengan sistem informasi dari mulut ke kuping. Deal. Sepeda mini dengan tas pannier seperti punya pak pos di boncengan belakangnya bikin aku kesengsem sejak fotonya dilayangkan melalui surat elektronik.

Uzur dan kekerapan gelindingan roda dari hari ke hari membuat ban belakang pun menyerah. Kempes di hari Sabtu yang sial. Pinjaman sejumlah pompa dari sana sini ternyata nggak berhasil menggembungkan ban sepedaku. Ternyata, ada dua masalah. Selain ukuran pentil nggak cocok degan pompa, ban dalam ternyata robek.

Aku baru tahu kalau Belanda dan Perancis sungguh-sungguh serius membedakan produk industrinya. Saking seriusnya, pentil ban dalam pun dibuat tidak sama ukurannya. Bikinan Perancis berukuran kecil mirip seperti ujung logam isi pulpen Pilot. Sementara buatan Belanda berukuran besar, sedikit sedikit lebih kecil dari batere AAA. Perbedaan yang merepotkan! Tidak sembarang pompa yang beredar di pasar Rotterdam bisa dipakai untuk meniupkan angin ke ban dalam produksi Perancis. Sial! Ban dalam sepedaku ternyata bikinan Perancis.

Mau tak mau aku menguji ketrampilan pas-pasan bongkar sepeda demi menyelamatkan puluhan Euro. Rasanya nggak rela kalau harus membayar jasa tukang tambal ban dengan harga puluhan ribu rupiah. Hup. Ban dalam yang koyak pun sudah tergulung dan kubawa ke pasar dadakan, Blaak Markt. Seluruh kios onderdil sepeda yang kudatangi tidak memberikan solusi. Tapi, mereka membawa informasi penting: ban dalam sepedaku adalah buatan Perancis dan di pasar itu tidak ada yang menjual pompa untuk itu!

Aku menyerah. Untunglah ukuran ban sepedaku masih standar Belanda. Akhirnya kuganti dengan ban dalam buatan Belanda yang lebih toleran dengan berbagai jenis pompa, termasuk pompa kecil yang kubawa dari Jakarta. Beruntung, ada dua handyman yang sigap membantu memasangkan ban. Yak! Pada Sabtu sore yang sial itu, sepedaku menggelinding lagi di jalanan. Mendadak, suara Freddie Mercury yang beraksen British itu terngiang.. I want to ride my bicycle, I want to ride my bikeeeeeeee! Hmm, pentil ban dalam sepeda buatan Inggris seperti apa ya?

Occupy!

Aku lupa namanya. Penampilannya terlihat modis dengan jaket tebal warna ungu metalik, syal tebal warna terang, dan celana pensil warna hitam. Topi fedora dan kacamata berbingkai hitam tebal ala nerd cocok dengan raut mukanya yang manis. Rambutnya yang kecoklatan acak-acakan menyembul dari balik topinya, serasi dengan cambang yang dibiarkan menutupi dagu. Aku menaksir usianya nggak lebih dari 25 tahun. Ia duduk dalam sebuah tenda di Beursplein.

Penampilannya mengingatkan pada tipikal anak band Britpop. Tebakanku nggak sepenuhnya salah. Dia mengaku bekerja sebagai DJ di sebuah klub di Maastricht. Sebuah tape kotak besar di sampingnya memutar lagu tanpa lirik berirama tekno. “I made it for this movement,” katanya sambil tersenyum.

Aku pun tersenyum menanggapi seperlunya musik ramuannya itu. Menarik. Tapi bagiku lebih menarik buku yang sedang dibacanya. Buku setebal tiga centi berjudul filsafat bla bla bla. Aku nggak tahu terusannya karena memakai bahasa Belanda. Dia bilang sedang kuliah di Maastricht jurusan hukum atau ekonomi, aku nggak ingat lagi penjelasannya.

DJ yang modis, buku filsafat, dan tenda yang mirip barak pengungsian korban bencana alam adalah perpaduan yang ganjil. Tenda itu berdiri tepat di depan gedung megah World Trade Center. Spanduk besar bertulisan Occupy Rotterdam terpampang, juga beberapa spanduk dengan tulisan pylox asal-asalan tentang perdamaian dan keadilan. DJ modis dan sejumlah kawan-kawannya sudah belasan hari menduduki tenda itu.

Ternyata, setiap negara punya persoalannya sendiri, nggak terkecuali negara semaju Belanda. Lupakan kelas buruh dan abaikan serikat pekerja dalam buku-buku babon. Demonstrasi kini dilancarkan kalangan mapan dengan isu yang beraneka rupa. Nggak jelas protes ditujukan pada siapa. Yang jelas maunya semua serba ideal. Sejumlah orang yang kuajak ngobrol meyakini sejumlah hal yang harus jadi sorotan. Mulai dari Amerika sudah terlalu mendominasi perekonomian dunia, krisis ekonomi Eropa yang tengah menggerogoti Yunani dan Itali, sampai persoalan lokal seperti komersialisasi ruang publik yang sudah kebablasan di Rotterdam.

Bukan cuma orang Belanda yang kesengsem gerakan Occupy. Secara masif, gerakan Occupy telah  mencuri perhatian publik dunia sejak dilancarkan sekitar dua bulan lalu. Aksi ini pertama kali menggebrak Wall Street, New York, Oktober 2011 dan setelah itu menjalari berbagai negara.  Terinspirasi dari Arab Spring, gerakan menargetkan unjuk rasa di lebih dari 950 kota di 82 negara demi menggugat korporasi dan liberalisme. Kemarin, ribuan pengunjuk rasa Occupy kembali menggelar aksi di New York (18/11). Aksi ini berakhir ricuh.

Pohon Masalah

Penuh seminggu ini kami belajar menggambar pohon. Bukan sembarang pohon melainkan pohon masalah. Bener-bener jadi masalah ketika kami terjebak dalam rimba wilayah yang lebat rimbun lagi tak bertuan. Kota!

Masalah pertama muncul gara-gara kami punya latar belakang yang beda satu sama lain. Kami bertujuh dari belahan bumi yang sudah punya banyak masalah: Indonesia, Asia dan Afrika. Tentu saja, perbedaan benua bikin isi kepala kami nggak sama, menjalar sampai tutur kata yang beda, dan menjulur pada tindak tanduk yang juga beda. Ruwet. Makin bundet ketika kami mencoba mengurai persoalan sebuah kota merana tanpa sumber daya.

Kolega berasal dari Afrika yakin bahwa makin lebar daun yang digambar, maka makin banyak masalah yang tertampung. Tapi penalarannya mendadak melempem ketika ditantang bagaimana memetiki daun masalah untuk segera diatasi. Terlalu lebar dan nggak fokus. Sebaliknya, kolega dari Asia berpendapat sebaiknya daun yang digambar kecil-kecil saja. Mendadak aku jadi ingat pohon willow. Mengayun mendayu-dayu ditiup angin. Tapi ketika ditantang dari mana menyelesaikan daun persoalan, argumentasinya mental. Rontokan daun menjadi terlalu banyak untuk disapu, bagian mana yang harus dibereskan terlebih dahulu. Puyeng. Dan, pemikiran dari Indonesia ternyata juga nggak banyak membantu. Terlalu lama berada di bawah pohon beringin bikin pikiran nggak terlalu terang benderang menggambar dedaunan. Beringin masih saja terlalu rimbun, terlalu lebat, dengan sulur dan akar yang menjulur kemana-mana. Lebih baik dipangkas saja!

Diskusi berkepanjangan berputar-putar. Ribuan kata berlalu lalang di depan jidat tanpa belas ampun berkelit, bertubrukan, melompat, menggelinding, berguling-guling. Kami pun bingung menentukan mana yang seharusnya akar, mana batang dan seberrapa banyak ranting yang musti kami babati atau kami stek sambung. Kami gamang menggambar daun dan buah pohon.

Pohon masalah kami memang penuh masalah. Mungkin perlu puluhan ember pikiran jernih untuk menumbuhkan ide tentang bagaimana seharusnya pohon masalah itu. Tapi untunglah, pohon kami tak mati. Di ujung minggu, kami pun berhasil menggambar sebatang pohon masalah yang rimbun. Pohon itu kami pajang di depan kelas. Angin tajam berupaya merontokkan sebagian daun. Maklum, musim gugur. Tapi pohon kami tetap tegak berdiri. Cuma masalahnya, aku masih nggak tahu, itu sebetulnya menyerupai pohon apa? Di benakku cuma ada pohon asem Jawa, pohon cemara dan pohon kelapa. Wew!

Rasanya Seperti di Bandung

Apa yang membedakan Bandung dan Rotterdam? Rasa-rasanya kok nggak ada. Sebulan jadi urbaner Rotterdam, menandai sejumlah sudut kota. Kalau pun beda, itu pasti cuaca bulan november yang mulai tajam menusuki kulit.

Tapi sungguh terasa sama. Bersepeda melewati toko-toko kecil dengan etalase besar di Kralingen, sepintas seperti menyusuri jalanan Braga yang sempit dengan deretan toko-toko mungil berjendela lebar. Taman dengan jejeran pepohonan besar meneduhi kanal kecil di seputaran Heemraadssingeld itu mirip sekali dengan Taman Cilaki. Lengkap dengan bangku taman dan lampu taman yang bulat. Berjalan di kawasan komersial Beursplein, rasanya mirip seperti sedang berkeliaran di seputaran BIP.

Sengaja atau tidak, bentuk jembatan landskap kota pun mirip. Erasmusbrug punya tiang utama dan riang-tiang penyangga yang mirip dengan Pasupati. Bedanya hanya soal ukuran dan pemandangan di bawahnya. Pasupati melintasi Sungai Cikapundung pemandangan atap kemiskinan di tepian Cikapundung. Sementara Erasmusbrug tampak lebih jenjang dan megah melintang di atas Rhine Maas, sungai besar yang membelah Rotterdam menjadi utara dan selatan. Saking besar, lebar, dan bersihnyanya sungai ini, kapal pesiar Spido bisa menawarkan paket wisata sungai. Sungai ini mirip seperti jalan raya dengan lalu lalang kapal dan perahu berbagai ukuran. Nggak salah kalau Rotterdam pun mengusung slogan sebagai World Port World City. Meski nggak lagi cukup besar untuk menyaingi pelabuhan Shanghai.

Betul-betul kebetulan kalau dua kota ini juga sama-sama punya sejarah naas. Bandung pernah menjadi lautan api lantaran sejumlah gedung dan fasilitas kumpeni sengaja dibakar milisi tentara Indonesia tanggal 24 Maret 1946. Selang enam tahun sebelumnya, sejarah mencatatkan 14 Mei 1940 sebagai hari naas Rotterdam. Jurus perang kilat “blitzkrieg” Jerman membombardir pangkalan udara Waalhaven di selatan Rotterdam. Malang, bom Nazi membabat tanpa ampun meluluh lantakkan hampir seluruh Rotterdam.

Rotterdam sekarang adalah kota yang dibangun dari puing perang dunia kedua. Kota ini pun nggak terlalu terasa “Ducth”. Bangunan kuno cagar budaya yang tersisa bisa dihitung jari, seperti balai kota, gereja tua Laurenkerk, dan Witte Huis (1898) yang dulu pada masa jayanya sempat menjadi bangunan tertinggi di Belanda. Wajah kota sekarang dipenuhi bangunan modern karya eksperimental arsitek. Kantor pusat Unilever misalnya, mirip seperti balok kaca raksasa yang numpang di tonggak beton. Megah berdiri di tepian Nieuw Maas. Bangunan WTC Rotterdam di Beursplein juga nggak kalah modern bin megah menyerupai silinder kaca raksasa yang dipenggal seperempat. Saking megahnya, bangunan ini jadi ikon neoliberal sasaran demonstrasi “Occupy”, gerakan romantik yang merebak di Eropa memprotes sistem finansial dan politik kontemporer.

Satu lagi persamaannya, aku bisa melihat kunang-kunang dari jendela kamarku di Rotterdam. saat malam tiba, rasanya seperti melihat taburan lampu di bukit Dago Pakar. Ah tidak.. di Rotterdam tidak ada bukit!

15 Jam

Hidup sungguh berbaik hati padaku. Mencicipi perjalanan selama 15 jam melintasi benua, ini mimpi yang terlalu sempurna. Tapi aku tidak lagi bermimpi saat menggenggam tiket yang dicetak dengan kertas seadanya. Tertulis: 3 Oct 2011, Jakarta 18.55, Amsterdam 05.55, 1 day. Thanks God. You make this really happen: belajar hingga ke negeri Belanda selama satu tahun.

Reriungan kecil mengantarku ke Bandara, terdiri dari kumpulan keluarga dan para sahabat yang hangat. Senin sore yang hangat dengan gelak tawa dan celotehan-celotehan wagu di tempat tunggu. Menimbun memori dengan menjepretkan foto di sana sini. Semua tersenyum gembira.

Tapi senang dan sedih itu seperti dua sisi keping mata uang. Waktu setahun bisa jadi terasa lama bagi keluarga dan sahabat yang ditinggal. Memang, teori dari orang yang tidak bijak bilang kalau meninggalkan akan selalu terasa lebih ringan daripada yang ditinggalkan.  Beberapa orang yang kupamiti justru mbrebes mili. Ini bertolak belakang dengan kegembiraanku yang tengah surplus melimpah ruah meluap-luap. Waktu setahun pun menjadi relatif. Setahun tentu terlalu singkat bagi mahasiswa dengan kecepatan berpikir pas-pasan namun dihadapkan pada materi kuliah yang bertumpuk setinggi timbunan sampah Citarum.

Sejurus, orang-orang yang mbrebes mili pun ikut bikin hatiku kemrenyes. Mataku pun akhirnya mbrambangi, memerah, berkaca-kaca menyimpan haru. Tunggu ya, aku pasti pulang.

Dua Buah Genting di Kamar Mandi

Malam yang mencurigakan. Suara gemeletak di dapur membuat Nik tak bisa tidur. Setelah diperiksa tak seksama, yakinlah kami bahwa suara gaduh itu ulah tikus. Seekor tikus hitam yang gemuk meloncat panik saat kami turun ke dapur. Aku lebih suka menyebutnya malwinas, si tikus gempal bertelinga bulat.

Malam itu malwinas berulah. Dia menumpahkan minyak goreng, menggigiti seplastik ikan asin, membongkar bumbon. Tumpukan wadah plastik yang rapi disusun Put pun gak luput, berantakan! Ada yang nyemplung ke ember sampah. Uwh..masih terlalu larut untuk membetulkan semuanya. Satu hal yang pasti, kami harus menutup akses masuk Malwinas.

Ketemu! Malwinas cerdik sekali. Ternyata tutup plastik lubang air di kamar mandi berlobang lebar gara-gara dia. Malwinas menyikat ram ram plastik hingga putus, mebentuk lobang bulat sempurna untuk tubuh gempalnya. Lobang pembuangan air jadi seperti pintu ke mana saja. Tutup plastik di atas ram itu pun bisa digesernya.

Waduh, malwinas kamu tidak diinginkan. Put segera beraksi. Jurus-jurus mengatasi tikus Surabaya segera ia praktekkan untuk malwinas, si tikus ibu kota. Ciaat! Jadilah dua buah gentng menindih tutup plastik, menutup sempurna jalur pembuangan air. Teknologi yang merepotkan memang. Setiap kami pakai kamar mandi, kami menggeser genting itu supaya air bisa lewat. Kalau sudah selesai, dipastikan genting kembali menindih tutup lubang. Tentu supaya malwinas, si tikus gempal bertelinga bulat tidak lagi lewat!

Pantry dan Neraca Hujan

Aku heran, dari sekian banyak cerita yang meluncur, kenapa juga bagian ini yang kau ingat-ingat? Pantry dan neraca hujan, begitu katamu menyebutnya. Tidak mengapa, aku suka istilah itu. Terdengar asing di kuping tapi asik juga.

Jika ada ruang yang paling ramah di gedung ini, itu adalah pantry. Letaknya di sudut belakang, berukuran tak lebih dari 25 meter persegi. Cuma punya satu jendela yang langsung menghadap ke luar dan satu pintu. Tempat yang paling strategis untuk ngumpet,  sejenak menghindari kejaran kerjaan.

Pagi hari, pantry akan dipenuhi ocehan seputaran hidup yang lutju: tentang utang yang nggak kunjung lunas, anak sakit yang panasnya nggak turun-turun, ruwetnya lalu lintas jakarta celaka, atau bos yang kerap komplen bin marah, de es be, de es be. Siang hari menjelang sore saatnya para pengantuk dan pembosan melancarkan aksinya. Mulai merebus air demi membuat segelas kopi atau teh hangat nan nikmat. Ubo rampe itu lumayan manjur untuk kompromi dengan mata dan pikiran yang mulai susah diajak kerja sama. Sejumlah para wedanger ini juga ahli hisab yang akhirnya duduk-duduk menyesaki pantry. Mereka gak ambil pusing dengan tulisan yang tertempel di jendela: “Dilarang merokok di pantry” yang ditambahi embel-embel kutipan dari Pergub DKI no 88/2010 yang ngatur tentang gedung bebas asap rokok. Kalau diingatkan soal aturan wagu itu, mereka hanya menjawab pendek, “ini dapur bukan pantry!”

Bagiku, pantry nggak cuma buat membuat kopi atau teh hangat nan nikmat. Lewat jendela itu, aku bisa mengintip warna langit saat sore, apakah kelabu, biru, atau malah oranye. Aku juga bisa mengintip seberapa parah kepadatan lalu lintas di jalan samping itu. Dan benar katamu, di situ juga ada neraca hujan. Aku tinggal mengeluarkan tanganku untuk memastikan apakah hujan benar berhenti atau belum. Kalau mau, aku juga bisa menikmati sedikit gemerlap lampu kota dari ketinggian, melihat  lampu-lampu itu berpendar dan berbinar.

Meja Makan Keluarga Rabel

Inilah keluarga rabel. Sebuah keluarga yang ganjil terdiri dari tiga perempuan. The girls next door, para sahabat untuk berbagi: dari atap, celoteh, hingga nasi dalam magic com.

Satu bernama Put, inilah miss telaten dalam rumah. Paling rajin memindahkan peralatan yang numpuk di rak piring ke tempat penyimpanan. Kami semua rajin mencuci peralatan, tapi tidak cukup rajin mengelap dan menata apa yang sudah dicuci dan menyimpannya supaya kembali rapi. Nah, Mbak Put inilah yang paling rajin mengelap garpu sendok, termasuk wadah-wadah plastik yang kalau numpuk gitu saja tampak lebih mirip plastik siap daur ulang daripada wadah makanan.

Nah, kalau yang satu lagi adalah Nik, si problem solver sejati. Ia benar-benar tetangga sebelah kamar dalam arti yang sebenarnya. Enam tahun belakangan kami berbagi atap sejak dari Bandung. Dan episode glundungan terus berlanjut sampai sekarang di ibukota ini. Daya pemecahan Nik bisa bikin takjub. Misalnya nih, dia tak ragu untuk berbelanja onlen, cara jitu berbelanja tanpa macet tanpa repot di Jakarta. Nggak cuma wadah-wadah plastik tapi juga baju. Hmm.. itu kayaknya dia memang nggak punya masalah dengan ukuran dan warna baju. Sementara aku, baju musti dipegang, dijajal, baru dibungkus. Daya jelajah onlennya itu juga yang buatku bisa mirip katalog toko (makanan terutama). Dalam hitungan detik dia bisa kasih saran buat ngelongok ice cream cake enak di mana, kue kering garing di mana, apa lagi ya.. ? banyak lah. Belum lagi urusan pemecahan masalah ewuh pakewuh yang melibatkan tata kebiasaan. Nah, nik ini bisa kasih solusi jitu soal kepatutan dan kepantasan misalnya dalam hal ngasih kado lahiran, membawa buah tangan, nge-treat ibu bawel warung (kalau dulu nge-trick ibu kos :D ).

Pada dasarnya kami ini keluarga yang hangat. Ngudoroso, sehangat obrolan dan teh hangat yang sesekali kami bikin bersama. Tapi ternyata gampang-gampang susah (catat: banyak gampangnya daripada susahnya!) buat hidup bareng satu rumah di Jakarta. Ini soal membangun jagongan efektif dan berkualitas. Memang tinggal satu atap, tapi ketemunya bisa kayak orang main petak umpet. Satu datang yang dua tidur, dua berangkat yang satu tidur. Kapan mo nggosip cobaa?

Hal yang menggelinding normal adalah urusan lidah, makan memakan. Lauk yang kami masak itulah penyambung rasa, tali jiwo bahasa rumangtisnya. Si pemasak pagi akan menyimpankan lauk bagi si pemakan siang. Seterusnya, si pemasak siang pasti akan ninggalin makanan buat si pemakan pagi. Makanan itu biasanya ditaruh dalam wadah yang ditempatkan di atas “meja makan”. Ya, kami punya “meja makan” yang selalu padat oleh toples berisi cemilan. Sebetulnya itu adalah container plastik yang berisi perkakas. Di taruh di sudut ruang bersama supaya bisa juga merangkap sebagai meja. Nah, di situlah kami berbagi perhatian kecil. Jika memasak, pasti ada rantang tertutup atau piring bertangkup piring di atasnya. Melihat benda-benda itu, kami langsung tahu bahwa ada aksi dapur di hari itu. Saatnya berbagi protein dan kalori!

Inilah keluarga rabel. Ganjil namun hangat … Luv ya, gals!

Rokok Sumbawa, Engkel Penuh Orang Jawa

Naik engkel rute Aikmal-Mataram rasanya nggak beda jauh dengan naik colt jurusan Prambanan-Terban. Sama-sama sesak penumpang, dan sama-sama riuh obrolan bahasa Jawa. Hmm.. serasa nggak sedang di Lombok.

Obrolan mengalir renyah. Ketara sekali jika antara kenek, sopir, dan penumpang sudah sering bertemu atau malah mengenal. Mungkin si pak Anu tetangga bu Ini, atau nenek B masih kerabat dengan si F. Bahasa yang kudengar malah didominasi bahasa Jawa. Usut punya usut, ternyata engkel itu melewati perkampungan orang Jawa. (woalaah .. yo mesti wae!)

Sungguh, aku rasanya lebih baik tidur daripada larut dalam obrolan. Bau daun seledri bercampur dengan aroma asam keringat dan bau apak kain yang sudah tiga hari tidak dicuci. Untunglah engkel ini jendelanya blong, bikin angin semribit memporak porandakan rambut kusutku makin mbundet. Udara panas jadi agak berkurang kegarangannya. Nggak tahu juga mengapa kendaraan antar desa ini disebut engkel. Kendaraan elf berkursi 12 (kalau nggak salah hitung) tapi dipaksa bisa menampung hingga 20 orang berhimpitan. Jalannya pelan tapi pasti. Seolah tidak pernah ada kata persaingan jasa atau ketergesaan dalam kamus orang-orang di sini.

Di tengah perjalanan, seorang nenek menginang menyetop engkel. Ia naik dan  memilih duduk persis di depanku, satu-satunya tempat yang masih tersisa. Bicara dalam bahasa lokal yang nggak kumengerti dengan si kenek engkel. Dia sebut-sebut sumbawa dan masbege, dua tempat yang bisa kukenali dari lafal katanya. Selebihnya nol. Aku juga nggak tertarik untuk mengikuti obrolan mereka hingga akhirnya si nenek mengeluarkan bungkusan plastik dengan dua batang rokok warna cokelat. Terlihat unik. Si nenek mengangsurkan ke kenek yang sejurus menerima dengan senyum lebar dan mata berbinar. Mulai timbul rasa ingin tahu.

Rokok itu ternyata adalah dagangan terakhir si nenek hari itu. Khas bikinan orang Sumbawa, katanya, yang tidak dijual di banyak tempat di Mataram. Si kenek melengkapi keterangan si nenek dengan embel-embel bilang bahwa rokok itu banyak dicari orang di lombok. Naluri pelancong pun langsung membuncah. Dengan bahasa Jawa halus, saya nembung untuk dua batang rokok itu. Kenek ternyata memberikan cuma-cuma (mungkin berkenan karena solidaritas Jawa). Bukan, bukan buatku..

Aku membungkusnya sebagai buah tangan untuk Maun.

Next Page »



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.