Anak Naga

“Hanya kegelisahan yang usulnya tak jelas.” Itulah tulisan terakhir Ryunosuke kepada sahabatnya. Dalam cengkeraman kegelisahan yang begitu kuat, Ryunosuke akhirnya memilih mati dengan menelan berbutir-butir pil penenang pada 24 Juli 1927. Si anak naga peletak dasar penulisan cerpen dan novelet Jepang ini mengakhiri hidupnya pada usia 35 tahun.

Ryunosuke lahir dari pasangan Toshizo Niihara dan Fuku pada tanggal 1 Maret 1892 di Tokyo. Dalam kalender Jepang, tanggal lahirnya bertepatan dengan hari Naga Air dan tahun Naga Air. Karena itu ia dipanggil Ryunosuke yang berarti anak naga. Ketika usianya tujuh tahun, Fuku ibunya menderita sakit jiwa. Peristiwa ini begitu membekas bagi Ryunosuke hingga persoalan kejiwaan tergambar jelas pada sejumlah karyanya di kemudian hari.

Karirnya sebagai penulis cerpen dimulai dengan “Ronen” (1914). Ryunosuke menerbitkan cerpen itu pada majalah sastra yang didirikannya bersama dua teman kuliahnya di jurusan Sastra Inggris Universitas Kekaisaran Tokyo. Tapi, namanya mulai dikenal ketika ia menulis “Rashomon” (1915). Pada cerpen itu, ia mulai memakai nama Akutagawa Ryunosuke.

Sejak itu, tak kurang ada 30 cerpen dan novelet lahir dari penanya selama 12 tahun karir menulisnya. Gayanya mengawinkan realis dan surealis. Gaya bertuturnya pelan, detil, dan sering mengundang nuansa asing yang senyap. Tokoh cerita acap kali tenggelam dalam konflik batin yang pekat.

Kegelisahan tergurat dalam sejumlah cerpennya. Dalam “Rashomon” atau pintu gerbang, ia melukiskan pikiran seorang Genin, samurai kelas rendah saat dihadapkan pada kehancuran Kota Kyoto. Di antara mayat-mayat bergelimpangan, Genin ini muak dengan seorang nenek yang hidup dengan menjual rambut para mayat untuk dibuat cemara. Tapi ia pun tak berdaya menahan perutnya yang lapar. Pada akhir cerita, Genin ini malah merenggut baju si nenek untuk dijual.

Lain lagi dengan “Hana” atau hidung (1916) yang bertutur tentang seorang pendeta dengan hidung sepanjang 16 cm. Hidung itu sungguh merepotkan karena bergelayut mulai dari atas bibir hingga melewati dagu. Dengan perlahan dan detil, diceritakan bagaimana perang batin sang pendeta yang ingin memendekkan hidungnya. Namun, ketika hidungnya memendek, ia justru tak bahagia dan ingin hidung panjangnya kembali.

Ryunosuke sempat bekerja sebagai wartawan dan ditugaskan ke China pada tahun 1921. Namun sepulang dari daratan Tiongkok, ia menderita schizophrenia. Ia jadi sering berhalusinasi. Meski demikian ia masih menulis. Salah satu tulisannya yang imajinatif adalah Kappa (1927) yang disebut-sebut sebagai kritik sosial atas masyarakat urban Jepang pada massa itu. Dalam ceritanya, Kappa adalah hewan imajiner dengan kehidupan mirip seperti manusia.

Kegelisahan demi kegelisahan terus menghantuinya. Ia takut menjadi gila. Seiring dengan penyakitnya yang makin parah, Ryunosuke mengalami masalah keuangan. Akhirnya ia kelelahan dan memilih mati. Tahun 1935, namanya diabadikan sebagai penghargaan sastra bergengsi bagi para penulis baru.

Imogayu

Atau dalam bahasa kita adalah bubur ubi. Ubi yang direbus bersama cairan gula hingga lumat? Tak yakin aku akan menyukainya.

Tapi ada bubur ubi yang bikin penasaran. Ini gara-gara aku baru saja membaca cerita pendek  Akutagawa Ryunosuke. Dalam cerita yang berseting zaman samurai tahun 885-889 itu, semangkuk bubur ubi hangat adalah makanan yang lezat lagi enak. Makanan ini biasa disajikan pada hari-hari perayaan di rumah para bangsawan atau kerajaan.

Nah, tersebutlah seorang goi, samurai kelas rendah yang sangat menyukai bubur ubi. Goi ini digambarkan sangat lugu hingga cenderung bodoh. Kerap dicaci dan dihina, tapi ia tak pernah marah. Bukannya dia penyabar, tapi memang dia tidak sadar bahwa dirinya sedang direndahkan. Ia bertubuh pendek ceking, berpenampilan lusuh, dan sebilah pedang yang kusam. Pendeknya, ia tak layak berperang. Sepanjang hidupnya, goi berusia 40-an tahun ini selalu mendambakan bisa makan bubur ubi sepuasnya.

Hingga suatu hari tibalah hari gembira itu. Ia dijamu makan oleh seorang bangsawan filantropis kaya raya. Bangsawan itu masih kerabat keluarga yang mempekerjakan si goi. Di rumah bangsawan itu, ia bisa menyaksikan bagaimana para pembantu menyiapkan bubur ubi untuknya. Para pembantu itu tak mengupas  sebuah ubi, tapi puluhan. Ya, puluhan ubi yang mirip talas berukuran betis orang dewasa itu menggunung di dapur, menunggu untuk dikupas dan dicemplungkan ke kuali perak berukuran besar.

Melihat proses itu, si goi mulai kehilangan selera. Begitu kuali perak besar berisi bubur ubi tersaji di ruang makan, goi pun merasa perutnya mual. Keringat dingin mengucur deras di dahinya, lengannya, dan perutnya. Tapi demi menghormati tuan rumah yang sudah berbaik hati menjamunya, ia pun makan separuh isi kuali sedikit demi sedikit.

Alih-alih merasa puas karena bisa makan bubur ubi sepuasnya, ia justru merasa bubur itu menggeder gedor lambungnya dan minta dimuntahkan. Ia pun berhenti sejenak. Sejenaak, hingga seekor rubah datang ingin makan bubur ubi. Si Tuan filantropis yang semula sibuk memaksa si goi menghabiskan sakuali bubur ubi, menjadi sibuk memerintahkan pembantunya untuk memberi rubah itu semangkuk bubur ubi. Goi pun lega karena tidak perlu lagi menghabiskan bubur ubi. Keringat yang semula membasahi bajunya pun perlahan mengering. Tiba-tiba angin pegunungan bertiup. Dingin menggigiti tubuhnya. Dan, bersamaan dengan itu, goi pun bersin dengan kerasnya ke arah kuali perak yang berisi bubur ubi.

Begitulah, akhir cerita goi dan semangkuk bubur ubi yang begitu diidamkannya. Begitu aku menamatkan cerita itu, aku tertawa. Ganjil, lucu, dan aneh. Ya, aneh. Jalinan cerita yang detil, beritme lambat, dan bernuansa senyap ternyata harus berakhir dengan bersin yang sepele dan menjijikkan. Maklum, aku pembaca pemula cerpen Jepang. Mungkin kalau sudah terbiasa, aku tidak akan merasa ganjil lagi. Dan mungkin aku akan berpikir bahwa bubur ubi itu enak sehingga benar-benar tertarik mencobanya.

Malam Terakhir

Aku sudah mengemasi semuanya, membungkusnya dalam kardus, termasuk juga kenangan.

Kenangan itu lekat di dinding. Baru saja aku mencopot satu foto. Foto Tamansari sebelum dipugar hingga mirip tempat spa Sheraton seperti sekarang ini. Bukan foto istimewa tentu, apalagi kalo ditilik dari komposisi, teknis bla bla ..waduuuh jauh jauh. Tapi bagiku itulah sepotong kenangan, sepuluh tahun lalu, kala belajar menjepret dengan kamera Nikon FM2 hasil meminjam. Aku suka warna langitnya yang biru, maka kupajang foto itu.

Kenangan itu teronggok di meja di sudut itu. Meja kayu jati besar yang usianya sama dengan usiaku. Dulu, waktu berumur balita, aku sering duduk di atas meja itu, melihat truk yang lalu lalang di depan rumah. Dan di meja itu juga, aku mengerjakan tugas-tugas sekolah sampe kuliah, ditemani radio stereo dan lampu meja yang kutaruh di atasnya.

Kenangan itu terlipat, menjadi ganjalan pintu. Pintu kamarku memang sudah gak beres sejak lama. Pegangannya sudah tidak berfungsi sempurna. Alhasil, jika pintu itu ditutup tanpa dikunci, angin tetap bisa mempermainkannya. Dan, pernah pada suatu malam, pintu itu tiba-tiba terbuka sendiri. Dan ada seseorang berdiri di sana. Berdiri sebentar, sebentar saja, mugkin hanya dua kejap mata. Namun itu sudah cukup bikin badanku dingin dan jantungku melorot sampai perut. Sampai sekarang aku tidak tahu itu siapa, dan tidak mau tahu…

Kenangan itu melayang-layang di langit-langit kamar. Sebelum tidur, langit-langit itu yang kupandangi. Masih saja aku ingat, di kamar ini ada banyak senandung: tentang sore yang tak habis, tentang cerita yang tak selesai, tentang malam yang tak berpulang, tentang lagu yang akan selalu berputar di kepala. Ah,tentu, aku bukan manusia kamar, tapi aku tumbuh dan sebagian cerita itu ada tergantung di langit-langit kamarku.

Dan sepanjang hari ini, aku sudah mengemasi semuanya, membungkusnya rapi dalam kardus, termasuk juga kenangan. Besok pagi, semua akan diangkut pindah.

Berkemas

Ada yang tidak biasa di kepulanganku kali ini. Aku pulang untuk mengemasi barang-barang. Kami akan pindah.

Ternyata mengemasi barang bukan perkara mudah. Sebetulnya persiapan pindah ini sudah dimulai sejak dua bulan lalu. Buku-buku di kamarku sudah kubungkus rapi dalam kardus. Pun baju-baju. Tapi aku seorang penggemar hal remeh temeh. Rupanya kamarku juga penuh dengan barang-barang yang aku sekarang pun lupa pernah menimpan itu: sobekan karcis bis yogya-purwokerto, robekan tiket bioskop, surat lawas yang terlipat, potongan berita Bernas tentang festival film, kalender jadul bergambar malioboro tempoe doeloe, buku harian warna cokelat jaman cinta monyet di smp, kartu pos berperangko Thailand, nota Oregano yang mencatat pembelian dua cangkir kopi… Banyaklah pokoknya!

Nah, kembali lagi ke urusan berkemas-kemas itu. Sungguh tak mudah. Apalagi mengemasi barang-barang yang sudah bertumpuk selama dua puluhan tahun. Meski sudah dicicil sejak dua bulan lalu, dan dimulai dipindahkan dalam dua kali pengangkutan ke rumah baru, tetap saja masih ada banyak barang untuk dikemasi lagi: berjilid-jilid buku hidrologi berdebu, beberapa lusin piring dan gelas dan perabotan pecah belah, hingga sejumlah set panci-dandang-wajan dan kerabatnya yang serba berisik kalau ditumpuk..bruk.. Klonthaang .. wew …

Seharian aku memunguti itu semua, dari gudang, dari rak, dari meja, dari lemari. Membungkusi dengan kertas koran, dan meletakkannya dalam kadus-kardus berukuran besar. Kardus-kardus itu kini tertumpuk di sudut-sudut rumah. Rumah pun tampak ganjil, lantai berdebu tanpa perabot, tanpa kasur di kamar, tanpa sofa di depan tivi, tanpa meja di ruang makan. Ketika mengobrol, suara kami pun bergema, terpantul dinding yang juga sudah kosong.

Kosong. Iya, besok, rumah ini akan benar-benar kosong. Barang-barang itu akan diangkut dipindahkan ke rumah baru. Dan rumah ini, yang sudah 27 tahun ini kusebut rumah, akan segera dihancurkan. Mungkin akan dijadikan kantor, mungkin akan dijadikan lahan parkir. Entahlah..

Ngeblog (lagi)

Yak, aku sudah lama lama sekali tidak menulis di blog ini. Dan sekarang aku ingin kembali.  

Jangankan menulis,  menyambangi blog-ku pun lama tidak kulakukan. Pun untuk  berjalan-jalan di blog tetangga. Kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi, ada rasa enggan untuk melakukannya. Aku sendiri tidak tau dari mana asal muasal keenganan itu. Rasa enggan itu seperti kemalasan di hari minggu pagi yang kelabu. Mata terbuka, tapi badan nggak mau diajak ngapa-ngapain.

Namun yang jelas sekarang aku rindu. Rindu berceloteh. Rindu bertukar obrolan sore yang hangat. Toh, obrolan yang terakhir itu selalu aku miliki meski tidak lah aku tulis di sini.

Kupikir aku perlu n ge-blog l agi. Sebab, berhasil mengurai apa yang ada di kepala ternyata menyenangkan.

Kasur

Kasur. Iya, itu salah satu obrolan hangat waktu Femi datang ngabandung. Malam itu, setelah kami kenyang dengan secangkir kopi hangat, sosis, dan masih ditambah seporsi nasi kalong dan ubo rampenya, kami mengobrol tentang kasur.

Ternyata, dia orang yang sangat khawatir terhadap debu… (mengherankan memang, melihat pembawaannya yang tampak tidak terlalu bersih :p piss miss!) Dia tidak suka meletakkan kasurnya begitu saja di atas lantai tanpa dipan. Alasannya, ya itu tadi, debu. Menurutnya, debu bikin kasurnya kotor dan tidak aman untuk ditiduri. Entahlah, dia mungkin dalam benaknya itu seperti sleeping with the enemy huehehe …

Tapi aku nggak takut kotor. (Ehm, jadi kayak iklan sabun.) Maksudku, dipan bikin ruangan menjadi lebih sempit. Aku lebih suka meletakkan kasur dengan karpet sebagai alasnya. Ada alasan lain sebetulnya, karena memang ibu kosku tidak menyediakan dipan. Tapi, meski tanpa dipan, aku dan kasurku baik-baik saja. 

Aku dan kasurku – yang tanpa dipan dan ternyata baik-baik saja - itu pun akhirnya diakui Femi. Semalaman, aku memang membagi kasurku dengannya. Kami pun tampak seperti dua beruang kecil yang manis yang berbagi kasur. Suasana kamar jadi hangat. Hangat karena asap persahabatan yang mengepul (ciee ciee) dan tentu saja karena timbunan lemak-lemak di badan kami mau tidak mau bersentuhan (lha mau gimana lagi, kasurku hanya berukuran single 2 m x 1 m).  Angin yang menerobos celah kecil di jendela malam itu jadi tidak terasa dingin.

Beberapa hari setelah itu, si jeng satu itu kirm kartu pos. Mengabari kalau kasur di kamarnya sudah diletakkan sedemikian rupa seperti kasurku. Tanpa dipan. Dan dia mengaku dia dan kasurnya pun baik-baik saja.

Hari ini, Femi akan kembali datang. Kami punya rencana di ujung minggu ini, dan dia akan menginap selama dua malam. Tentu saja, aku secara khusus sudah menyiapkan kasurku. Spreinya sudah kuganti. Wangi. Tapi, kupikir kalau kami tidak tampak seperti dua beruang kecil yang manis yang berbagi alas tidur, itu akan lebih baik. Kali ini aku akan pinjam kasur tetanggaku yang baik saja ah..  Biar Femi seorang saja yang tidur di kasurku.

Istimewa

Kalau sebungkus martabak, yang istimewa pastilah memakai telor bebek dobel dan irisan daging yang tebal dan banyak. Harganya tentulah lebih mahal. Lalu, jikalau kota, apa yang membuatnya menjadi istimewa?

Yang jelas, takdir sejarahlah, yang bikin kotaku menjadi istimewa. Di kota ini, roda sejarah meninggalkan jejaknya. Daerah asalku, Ngayogyakarta Hadiningrat, ditetapkan berstatus daerah istimewa Presiden RI pertama, Soekarno 19 Agustus 1945. Status ini diberikan sebagai balasan setelah dua raja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII menyatakan bersedia bergabung dengan negara yang baru lahir, Republik Indonesia pada tanggal 5 September 1945. Ya, kira-kira semacam jaminan bahwa kedua raja itu tetap memiliki kekuasaan yang sama atas wilayahnya.

Dan karena warisan sejarah itulah, di daerah asalku ini Sultan Yogyakarta merangkap sebagai Gubernur Daerah IStimewa Yogyakarta. Itulah yang bikin para pemuja demokrasi menjadi gerah. Kalau di daerah lain, seorang kepala daerah harus bertarung meraih simpati melalui pemilihan langsung. Tapi itu tidak terjadi untuk jabatan Gubernur daerahku. Seperti dalam sejarah kasultanan yang selalu mewariskan kekuasaan, kekuasan gubernur pun ikut diwariskan. Gubernur sekarang ya, Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Warisan itu pula yang bikin politisi di daerahku (dan juga nasional) ribut. (Entah ya, namanya warisan yang berhubungan dengan harta, tahta, dan ehm.. wanita, selalu jadi pusatkeributan.) Satunya kubu pro pemuja demokrasi yang menjunjung pemilihan langsung bagi jabatan gubernur dan di seberangnya ada kubu pro pemuja artefak sejarah yang menganggap bahwa jabatan publik nomor satu di daerahku adalah milik Sultan semata. Mereka sibuk memperdebatkan makna keistimewaan. Ada jalan tengah gak sih?

Wew… kayaknya ada satu hal penting yang dilupakan dalam keributan itu. Yang membuat suatu daerah menjadi istimewa ya jelas orang-orangnya. Dua raja yang benar-benar tahu makna pengorbanan bagi keutuhan bangsa. Dan tentu saja, orang-orang yang hingga kini masih saja suka tersenyum dan selalu berhati nyaman. Sabar dan menerima hidup dalam putaran roda hidup yang berjalan pelan.

Sungguh, itu masih ada di kotaku. Masih ada yang bersedia menjadi abdi dalem meski hanya diberi imbalan tidak lebih dari harga sekilo beras dalam sebulan. Masih banyak simbok pedagang pasar yang tidak mau terlibat dalam persaingan bebas. “Rejeki tidak akan kemana”, begitu kata mereka. Iya, mereka orang-orang yang masih terus mengimani nasehat warisan leluhur.. “Gusti tidak tidur”.

Fakta

Dapet kerjaan gak penting dari the girl next door. Dan inilah 10 remahan fakta tentangku.

1. Kruwil. Huehe.. kalau ini sih semua orang juga bakalan tahu begitu bertemu denganku. Yak. Rambutku berombak. Makanya, begitu aku memberi sentuhan dikiiit aja pada rambutku, sejurus kemudian menuai tanggapan. Emang sih, kalo abis creambath apalagi abis potong rambut, rambut kruwilku bakalan tampak jinak. Intinya, ketika potongan rambut cepak abis, kelihatan lurus. Agak panjangan dikit, ya beromba. Nah kalo panjang.. itu nguwel kruwel kruwel. Maka dari itu, aku nggak pernah nyolong waktu kerja buat nyalon … abis bakalan ketauan sih. Susah ngelesnya ..

2. Paling ngeri sama kodok. Mungkin nggak cuma aku yang mengalami ini. Tapi sumpaaah, kalo ngeliat kodok, rasanya kulitku ini langsung berkerut. Detak jantung 10 kali bertambah cepat hingga dada ini rasanya lupa menarik nafas. Otot leher meregang, dan bulu kuduk meremang. Huhuhuhu … aku nggak mau ketemu kodok. Tapi ngeri juga sih sama cicak dan tokek. Whatever… mereka menyeramkan!

3. Pecandu soto. Kalau ada makanan yang nggak ada bosan-bosannya pengen kuseruput, itu pastilah soto. Apalgi nih, kalau soto itu berkuah bening berminyak dengan ayam kampung yang lembut beraroma menggoda. Ya, sebutlah Soto Kadipiro di Yogya, Soto Kudus yang di makan juga di Yogya. Atau kalau soto yang isinya rame pun aku suka, macam Soto Jalan Bank di Purwokerto. Waduh.. adanya cuma enak dan enak banget. Tapi eits, aku nggak terlalu suka soto daging sapi. Rasanya berat di lidah, yaa macam Soto Madura, Soto Sulung, Coto Makassar.

4. Pecinta senja. Banyak orang romantis yang bilang bahwa senja adalah simbol keredupan. Selalu bilang, usia senja. Atau seperti kata lagu Jikustik yang baru “Tetap Percaya”, senja akan berganti fajar. Tapi bagiku, sesuatu di keremangan senja itu sangatlah sentimentil. (aku nggak bisa bilang itu selalu indah.) Langit barat yang memerah jingga, bayangan gedung yang memanjang, matadewa yang tersangkut di ujung menara sana, atau melihat bayangan senja di sebuah lembah antah berantah melalui jendela kereta Lodaya Pagi. Wew… semua itu seperti memutar sebuah lagu di kepala. Kadang hati menjadi hangat kadang juga menjadi senyap .. duh.

 5. Peminum wortel. Iya, aku bilang peminum. Karena aku selalu berusaha memenuhi janjiku pada tubuhku untuk meminum sari wortel seminggu tiga kali. Warna oranyenya segar menerbitkan air liur, penuh beta karoten yang baik untuk mata. Mengandung antioksidan yang baik untuk daya tahan tubuh. Kandungan seratnya konon baik untuk kulit wajah karena mengurangi minyak. Hmm, sumpah kasiat yang terakhir ini kayaknya tidak terbukti. Aku bak selalu jadi remaja puber karena taburan jerawat di wajah. Begitu juga yang kedua, karena mataku tetap saja minus 1.5 dan silinder 0.5. Tidak mengapa. Jus wortel itu segar, apalagi jika dicampur sesendok madu bunga liar. Sruuulp.

6. Pantai. Pantai. Pantai. Iyak, itu tempat liburan favoritku. Rasanya menhirup udara laut yang asin dan bergaram, berenang di pantai sampai badan berbau matahari, rambut gimbal alami, itu menyenangkan! Pantai favorit?  Pantai Ngrenehan!!! (jawaban orang kurang pikinik sebetulnya) Teluk kecil di sebuah rongga pesisir selatan Gunung Kidul ini sungguh menyenangkan. Nggak terlalu jauh dari kota Yogya. Di sini, bisa melihat senja dan bola jingga, melihat bulan perlahan muncul dari balik bukit, mereka-reka rasi bintang, tidur dengan backsound deburan ombak, dan… paginya nyemplung berenang!!  

7. Penikmat teh. Bisa dibilang, ini minuman keluargaku. Waktu kecil, simbah sering bikin teh yang ditempatkan dalam teko porselen. Teh di teko ini rasanya selalu hangat karena tekonya ditaruh sedemikian rupa di dalam sebuah bantalan busa. Teh ini mereknya Tong Ji. Beranjak remaja, ibu selalu membagi segelas teh hangat. Kali ini, tidak ada lagi teko berbantalan busa. Cukup air hangat dalam termos. Kalau mau buat teh, ya tinggal seduh lagi. Teh yang ini mereknya Catut atau Tang. Ya ya, sampai sekarang kebiasaan itu masih berlaku di rumah. Nah, kebiasaan itu masih aku bawa sampai sekarang di tempat baruku. Merek tehnya sih nggak sefanatik zaman dua generasi di atasku. Aku suka teh rasa vanili berbungkus merah dari Malang, atau Walini dari Bandung, atau teh seduh dari gunung Dempo, atau Wonosobo. Malah baru-baru ini, aku diberi Teh Jawa yang marak di Gunung Kidul, dan Teh Prendjak yang kata si pemberi bisa bikin aku ngoceh. Ayo ayo.. ngeteh bareng.

8. Pemerhati kucing. Kalau ada binatang yang bisa membuatku bercerita banyak, itu pasti kucing. Ya, tentu cerita yang menyenangkan. Aku pernah bilang pada the girl next door, bahwa si kucing berwajah gembil berbaju kuning, bertubuh gempal yang selalu berseliweran di muka kosan kami adalah raja preman. Entah dia percaya atau tidak. Atau aku pun bilang bahwa, si Melly kucing ibu kos kami ingin masuk ke dalam rumah. Waktu itu dia tampaknya terpaksa percaya, karena si Melly langsung membututi kami begitu kami masuk. Di rumah, ibuku punya sembilan ekor kucing. Semua ada namanya, tapi aku tidak hafal. Satu yang aku ingat adalah Tam. Dia selalu malu-malu kucing. Waktu aku pulang ke rumah 2 minggu lalu, dia menitipkan salam. Untuk lelaki bersuara semilir angin katanya.

9. Katakan TIDAK pada film horor! Katakan YA pada honor. Eh, nggak nyambung. Aku suka berbagai jenis film, mau nonton film seaneh apapun, asal bukan film horor. Gimana ya? Melihat posternya saja sudah ngeri, lha kok mau coba-coba lihat filmnya. Apalagi kalau judulnya sudah berbau-bau kamboja macam Sarang Kuntilanak, Tusuk Jalangkung, Pulau Setan. Aiiiiy … Tapi, jangan salah, dulu aku suka nonton filmnya Tante Suzanna, macam Beranak dalam kubur, atau Malam Jumat Kliwon, Sundel Bolong. Nggak tahu ya, kayaknya dulu itu dia begitu menjiwai sampai bikin aku penasaran ma film-film itu. Kayaknya dia juga yang akhirnya mematok pakem bahwa hantu harus selalu berbaju putih, berambut panjang awut-awutan, mata menghitam, muka memucat, dan muncul malem hari di tempat sepi banyak pohon gede.

10. Cinta Lansia. Maksudku di sini, aku cinta pada Taman Lansia. Ituuu, taman di Cilaki yang cuman berjarak 10 menit jalan kaki dari kosanku. Nyaman banget berjalan-jalan di situ. Mo joging nyusuri trek yang tersedia juga bersemangat. Janjinya pada tubuhku sih, dua kali seminggu. Biasanya aku olahraga sekitar 30 menit di situ. Namanya juga janji, kadang ya kuingkari. Apalagi kalu bukan karena alasan malas bangun pagi ..

Nah, itu remahan fakta gak penting tentangku. Dan karena ini pesan berantai, maka aku rantaikan lagi ke 10 tetangga berikut ini: Warung Yenti, Kaki Kecil Rani, Ken Terate, Negeri Kata Alex, Munggur, Sari, Dunia Sophie, Rumah Domie, Adidassler, Marput.  

Cara ngerjain PR-nya sebagai berikut:
1. Each blogger must post these rules
2. Each blogger starts with ten random facts/habits about themselves
3. Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their ten things and post these rules. At the end of your blog, you need to choose ten people to get tagged and list their names.
4. Don’t forget to leave them a comment telling them they’ve been tagged and to read your blog.

Curiga

Rasanya otak ini begitu sibuk. Membongkar, menimbun, membongkar dan kembali menimbun sesuatu yang selalu saja muncul. Iya, pikiran itu selalu saja melintas seenaknya memotong konsentrasi. Pikiran itu juga tega sekali menaut-tautkan kepingan-kepingan rasa ingin tahu yang melesak-lesak. Semena-mena bikin otakku ini selalu berdenyut-denyut. Duh …

Rasanya otak ini begitu sibuk. Merekam kejadian demi kejadian. Melontarkan pertanyaan demi pertanyaan yang semuanya tidak bisa pula kujawab. Pikiran melayang-layang, mendarat, melayang lagi, lalu mendarat lagi demi merambati lipatan-lipatan otak untuk mencari jawaban. Tapi nihil, tidak ketemu juga.

Otakku ini pun makin sibuk. Menelisik akhir yang pasti untuk sebuah pertanyaan … ah, jangan-jangan …

Pohon

Hari ini aku belajar tentang pohon. Aku suka pohon. Pepohonan yang reriungan itu selalu membisikkan cerita yang menenangkan.

Ki Hujan (Samanea saman). Pohon yang satu ini selalu bikin aku jatuh hati. Sosoknya tinggi besar berdaun lebat. Tapi tidak terlalu lebat untuk menghalangi sinar matahari yang hangat. daunnya yang kecil lebat ini dapat mengiris hujan selebat apapun menjadi serinai air embun. Halus. Pertama kali aku mengenalinya di belakang Gedung Sate. Berdiri di sana, seperti tubuh penari kesatrian dengan tangan yang terjulur ke atas. Anggun dan gagah.

Lain lagi dengan Pohon Sosis (Kigelia aethiopica). Ya. Seperti sebutannya, dari kejauhan, pohon ini seperti digelantungi puluhan sosis besar berwarna cokelat. Tapi kalu didekati, mirip seperti pohon keberuntungan dengan gantungan puluhan angpau tebal yang selalu dipajang di mal-mal tiap kali imlek. Aku selalu ingat sosoknya yang unik sedang duduk-duduk di Taman Hutan Raya Juanda di Bukit Dago Pakar. Entah ya, sudah berapa ratus tahun dia berlama-lama memandangi Kota Bandung dari ketinggian sana.

Nah, kalau pohon yang satu ini aku belum tahu namanya. Sama-sama tinggi besar berdaun rimbun. Teduh. Hanya saja, setiap kali bulan Agustus atau September di penghujung kemarau, pohon ini selalu mengeluarkan bau yang khas. Mirip cengkeh bercampur kayu manis beraroma seperti kue bumbu spekuk, on bien kuk. Hmmm… Ketika berbau harum begini, pohon ini juga merontokkan dedaunan kecil berwarna kuning. Buanyaaak sekali. sampai-sampai pak penyapu jalan pasti kewalahan, karena jalanan Citarum, Serayu, dan sekitarnya jadi bertaburan daun kecil kekuningan. Aku sudah memerhatikannya hampir tiga tahun ini. Dan itu artinya, musim hujan akan segera tiba. Hei, kamu … siapa sih namamu?

Next Page »